Perusahaan Startup Muslim Butuh Pendanaan Syariah

gomuslim.co.id- Perkembangan perusahaan rintisan berbasis digital atau yang lebih dikenal dengan sebutan startup di Indonesia semakin meningkat, bahkan pertumbuhannya di tahun ini semakin banyak. Bukan hanya dari perusahaan startup umum, startup Muslim juga sangat banyak dan semakin berkembang di duni. Dengan menyasar kebutuhan muslim, para pengelola bisnis ini mulai menemukan ceruk pasar yang cukup besar. Dua contoh startup yang sudah mulai menunjukan eksistensinya adalah e-commerce HijUp yang bergerak di sektor fesyen dan HolidayME di sektor travel Muslim.

Namun, di tengah menjamurnya startup muslim, justru para pebisnis baru ini menghadapi satu masalah kendala. Umumnya bisnis startup muslim masih kurang mendapat sokongan modal. Jika berkaca pada sebuah hasil survey CB Insight pada 2015 menemukan jika masalah pembiayaan ini menjadi kendala utama. Survei ini menjajaki lebih dari 100 startup yang gagal. Dari 90 persen startup yang gagal, ada 42 persen yang mengaku sulit memasok pasar dan 29 persen yang kehabisan uang. Kedua faktor penghadang ini berbaur dengan masalah kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM) handal dan kegagalan bersaing dengan kompetitor.

Dilansir dari publikasi Salaam Gateway, (24/11), dalam laporan Financing Islamic Economy Startup, pembiayaan syariah sebetulnya bisa menjadi solusi bagi masalah pebisnis startup muslim tersebut. Skema pembiayaan syariah bisa menjadi solusi bagi startup. Alasannya, di bidang ini ada sistem bagi hasil, bagi risiko, dan bonus. Pengucur dana atau biasa disebut sebagai venture capital berbasis syariah akan menggunakan akad mudharabah dan musyarakah  di mana ada sistem pembagian hasil dan bonus antara investor dengan pelaku startup.

Sekadar informasi, rintangan yang datang antara modal ventura konvensional dengan yang syariah adalah operasional dan sektor pembiayaan. Dana modal ventura bisa saja dihimpun dari instrumen keuangan non syariah seperti obligasi dan pinjaman berbasis bunga. Tak hanya itu, likuditas dan debt equity ratio antara modal ventura konvensional dan syariah pun berbeda. Sementara sektor pembiayaan yang dibidik konvensional adalah sektor yang 'haram' dimasuki modal ventura syariah seperti usaha alkohol, pornografi, judi, dan industri senjata.

Tak hanya itu, startup ekonomi digital Islam kekurangan data tentang investor potensial. Padahal, data ini sangat diperlukan agar startup tersebut bisa bersaing di sektor yang strategis. Baru-baru ini, startup sebuah ekonomi digital syariah Indonesia yakni Halal Local berhasil terpilih untuk mengikuti roadshow bisnis ke Cina selama sembilan hari pada ajang di HiStar Competition 2016.

Halal Local sendiri merupakan sebuah marketplace untuk produk-produk wisata yang halal. Dengan aplikasi yang mereka buat, pengguna dapat dengan mudah mengetahui lokasi restoran yang menyediakan makanan halal, serta menampilkan waktu shalat, dan tempat beribadah yang lokasinya dekat dengan mereka. Hebatnya, versi alfa dari Halal Local diperkirakan sudah bisa digunakan walalupun belum dirilis ke pubik karena masih dalam tahap pengembangan. (ari/dbs)


Back to Top