Jalin Kerja Sama dengan Australia, Kemenag Gelar Peluncuran Studi-Studi Pendidikan Islam

gomuslim.co.id- Visi utama dari pendidikan Islam Indonesia adalah mewujudkan sistem pendidikan unggul dan moderat. Perpaduan atau integrasi ilmu agama, pengetahuan dan teknologi diharapkan menjadi rujukan pendidikan di seluruh dunia. Potensi dan keunggulan dalam pembelajaran Agama Islam juga dapat menjadi sebuah modal dalam membangun bangsa.

Demikian disampaikan Menteri Agama (Menag) Republik Indonesia, H. Lukman Hakim Saifuddin usai membuka acara Education Sector Analytical and Capacity Development Partnership di Kantor Kemenag, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (23/11). Kegiatan ini digelar atas kerja sama Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Kemitraan Pengembangan Kapasitas dan Analisis Sektor Pendidikan Kemendikbud, dan Pemerintah Australia melalui Australian Aid, Uni Eropa (UE), dan Asian Development ADB.

Dalam acara yang bertajuk ekspose 'Kajian Pendidikan Islam di Indonesia' itu, Lukman menegaskan esensi agama seharusnya menjadi alat pemersatu bangsa, bukan pemecah belah. “Agama Islam bukan untuk dijadikan alat menjadikan perpecahan diantara umat beragama. Saya ingin menyegarkan ingatkan kita bahwa agama semestinya kita sikapi untuk mengintegrasikan (menyatukan) bukan menegasikan (memecah) kita,” ujarnya.

Lebih lanjut, Lukman mengatakan seharusnya dalam pengajaran agama, yang dikedepankan adalah pada substansi dan esensi ajaran Islam itu sendiri. “Bagaimana Islam itu sendiri yang hakikatnya hadir untuk mewujudkan kedamaian, menebar kasih sayang, menebarkan kemaslahatan, rahmat bagi seluruh alam semesta, itu yang menjadi esensi,” paparnya.

Tambah Menag, semi memastikan kualitas sumber daya manusia yang baik, maka Pendidikan Islam perlu fokus pada sedikitnya tiga aspek, yaitu kualitas pendidikannya, pembentukan akhlak murid yang baik dan budi pekerti yang luhur, serta pengembangan keterampilan mereka dalam berpikir tingkat tinggi.

Beberapa hal yang dibahas dalam kajian tersebut antara lain mengenai studi pendanaan pendidikan madrasah di Indonesia, pendidikan nilai budaya damai, hingga teknis metode pembelajaran agama islam dan budi pekerti berbasis Islam. Adanya kajian tersebut diharapkan esensi dari ajaran agama Islam bisa tersampaikan secara menyeluruh. “Hasil kajian ini juga saya harap dapat diimplementasikan dalam pengajaran pendidikan agama Islam,” ungkapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Prof Dr Phil H Kamaruddin Amin, MA mengatakan hasil-hasil studi tersebut telah menjadi salah satu referensi strategis pada tataran perencanaan, terutama dalam mempertajam perumusan kebijakan Pendidikan Islam  dalam jangka menengah. “Kami saat ini mengayomi setidaknya 318.500 institusi pendidikan Islam dan tidak kurang dari 42 juta murid peserta pendidikan agama Islam,” ujarnya.

Amin menjelaskan pada tataran operasional, studi tersebut juga digunakan untuk meningkatkan kompetensi guru Agama Islam dalam metode pembelajaran agama Islam rahmatan lil ‘alamin (ISRA) di sekolah umum. “Sebagai sub-sektor sistem pendidikan nasional, Pendidikan Islam saat ini memberikan layanan pendidikan kepada sedikitnya 66,6 juta murid di seluruh nusantara dan menjadi kontributor besar bagi total kepesertaan pendidikan secara nasional,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Balitbang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Toto Suprayitno berharap studi tersebut memberikan dampak positif bagi pendidikan di Indonesia. Menurut Toto, pendidikan agama diperlukan untuk membentuk karakter moral anak bangsa.

“Studi ini akan menghasilkan contoh best practices agama Islam yang Rahmatan Lil 'Alamiin. Kami memang untuk urusan agama berkiblat ke Kementerian Agama, oleh karena itu kami sangat mengapresiasi. Kami sangat menunggu-menunggu best practices dan pilot studies untuk dipraktikkan di sekolah umum,” katanya.

“Saya harap pendidikan agama juga memberikan andil besar dalam membentuk karakter moral pribadi, empati, welas asih, sopan satun, dan menghargai orang lain. Tidak hanya ilmu dan teori saja, tapi juga praktik,” imbuhnya. (njs/kemenag/dbs)


Back to Top