Internasionalisasi Pendidikan Tinggi Islam, Kemenag Segera Hadirkan 13 Guru Besar Jerman untuk UIN se-Indonesia

gomuslim.co.id- Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKIN) terus memperluas kiprahnya dalam dunia pendidikan internasional. Baru-baru ini, Kementerian Agama (Kemenag) bekerja sama dengan Lembaga Senior Experten Service (SES) mendatangkan 13 guru besar dari Jerman dengan berlatar berbagai disiplin ilmu untuk mengajar di beberapa Universitas Islam Negeri (UIN) yang ada di Indonesia.

Dirjen Pendidikan Islam Kemenag Komaruddin Amin mengatakan kerja sama ini untuk meningkatkan kualitas akademik maupun non akademik sehingga UIN bisa sejajar dengan universitas terbaik Internasional. Selain itu, kata dia, semua guru besar ini akan mengajar di PTKIN dengan masa waktu yang berbeda. “Jadi tidak sekaligus semuanya. Waktunya dibagi, ada yang satu bulan, ada juga yang dua bulan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Kamaruddin menjelaskan keberadaan guru besar Jerman di Indonesia dibiayai oleh Lembaha Senior Experten Service (SES). Sementara Kemenag hanya memberikan ongkos lokalnya saja. “Program kerjasama dengan SES ini sudah berjalan sejak tahun 2015, ini bagian dari upaya internasionalisasi pendidikan tinggi Islam,” katanya saat konferensi pers di Kantor Kemenag Jakarta beberapa waktu lalu.

Menurut Kamaruddin, SES merupakan lembaga di Jerman yang melakukan nota kesepahaman dengan Kemenag untuk mendatangkan para guru besar senior untuk mengajar di Indonesia pada tahun lalu. “Kami merasa beruntung dengan kedatangan mereka karena selain akan berbagi ilmu, juga nanti mereka akan menjadi penghubung kerjasama antara PTKIN dengan berbagai perguruan tinggi di Jerman,” paparnya.

Pada tahun 2016 ini, terang Kamaruddin, telah didatangkan 13 guru besar dari Jerman dan disebar ke enam UIN, yaitu UIN Alaudin Makassar, UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Raden Fatah Palembang, UIN Ar-Raniri Aceh, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dan UIN Walisongo Semarang.

Sedangkan pada tahun 2017 juga berencana mendatangkan lagi dan disebar ke 11 UIN yang ada. Guru besar yang didatangkan memiliki disiplin ilmu non-Islam di antaranya, pakan ternak, psikologi, saintek, bangunan tahan gempa, sains komposit dan lain-lain. “Jadi apa yang diajarkan di Universitas terbaik di luar negeri juga sama akan diajarkan di UIN, maka kualitas UIN sama dalam langkah menjadi World Class University,” jelasnya.

Ia menuturkan, internasionalisasi kampus itu tidak bisa dihindarkan, sehingga pendidikan atau perguruan tinggi Islam bisa bersaing dengan kampus lain di Indonesia bahkan Internasional. “Dengan hadirnya para guru besar dari Jerman ini akan meningkatkan daya saing UIN di level internasional yakni, meningkatkan kualitas kurikulum, peningkatan kapasitas dosen dan pengembangan riset untuk publikasi internasional,” ungkapnya.

Kamaruddin juga berkomitmen untuk mengundang lagi sebanyak 66 guru besar yang berlatar belakang lintas disiplin ilmu untuk memperkuat basis akademik, riset dan pengabdian masyarakat di UIN, sehingga setiap satu UIN akan mendapatkan masing-masing enam guru besar dari Jerman yang akan memberikan masukan sesuai keahlia mereka masing-masing.

Sebagaimana tertera pada Memorandum of Understanding (MoU), kerja sama ini akan berlaku selama lima tahun, sejak 2015 sampai 2020 mendatang. Adapun mengenai pembiayaan sendiri akan ditanggung Direktorat Jenderal Pendidikan Islam dan Kementerian Luar Negeri Jerman.

Pada kesempatan tersebut, turut hadir pula salah satu Guru Besar Pakan Ternak dari Ilmu Hewan Albrech Mennerich dan Direktur Perguruan Tinggi Agama Islam Amsal Bakhtiar, MA. “Jadi setiap UIN mendefinisikan kebutuhan di kampusnya, kemudian mengisi formulir dan akan dikirmkan guru besar sesuai kebutuhan. Ada yang dihadirkan tiga minggu, satu bulan, tergantung kebutuhan kita dan ketersediaan waktu guru besar sehingga tidak saklek,” imbuhnya. (njs/dbs)


Back to Top