Dari Kisah 5 Gogo Besaudara Hingga Alquran Kulit Kayu, Begini Aktivitas Dakwah Islam di NTT

gomuslim.co.id- Penyebaran Islam di tanah Nusantara berlangsung dengan cara santun dan damai. Seperti yang terjadi di kabupaten Alor di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kabupaten yang berbatasan langsung dengan negara Demokratik Timor Leste ini, dulunya masyarakat menganut paham animisme dan dinamisme. Lalu Islam datang sebagai agama pertama yang masuk ke Alor dengan cara yang damai.

Demikian disampaikan Hans Itta. Dia adalah salah satu peneliti dan penulis buku tentang Alor.  Hans mengatakan, Islam pertama kali masuk ke Alor pada tahun 1522 melalui mubalig dari Kesultanan Ternate bernama Mukhtar Likur. Ia masuk melalui Desa Gelubala (sekarang Baranusa) di Pulau Pantar.

“Dari tempat inilah, Islam mulai menyebar ke arah timur dan masuk ke desa-desa di Alor lainnya seperti Bungabali (sekarang Alor Besar), Alor Kecil, Dulolong dan lainnya. Islam berkembang secara perlahan di Nusa Tenggara Timur, ” ujarnya beberapa waktu lalu.

Kemudian, pada tahun 1523, lanjut Hans, tibalah lima orang bersaudara dari Ternate bernama Iang Gogo, Kima Gogo, Karim Gogo, Sulaiman Gogo dan Yunus Gogo. Mereka berlima memiliki misi yang sama dengan Mukhtar Likur, yaitu menyebarkan ajaran Islam di Kepulauan Alor NTT kepada masyarakat setempat.

“Untuk mencapai tujuan itu, mereka berpisah dan menyebar ke berbagai desa di Alor. Iang Gogo menetap di Bungabali, Kima Gogo memilih ke Malu atau Kui Lerabaing, Karim Gogo di Malaga, Sulaiman Gogo di Panje sebuah desa di ujung paling utara Pulau Pantar, sedangkan Yunus Gogo dan Abdulah menetap di Gelubala, Baranusa,” paparnya.

Di Alor besar, Iang Gogo meninggalkan suatu peninggalan bersejarah berupa sebuah kitab suci Alquran yang ditulis tangan di kertas kulit kayu tipis dan tinta serta pewarna alami. Saat ini, Alquran tersebut disimpan oleh Saleh Panggo Gogo yang merupakan generasi ke-13 keturunan Iang Gogo di Desa Alor Besar, Kecamatan Alor Barat Laut.

Kitab suci agama Islam dari kulit kayu tersebut berisikan ayat-ayat Alquran lengkap 30 juz (114 surat) dengan pembungkus berupa kotak kayu. Diperkirakan, Alquran itu ditulis pada Abad XII hingga abad XV di Maluku Utara. Manuskrip Alquran ini bahkan disebut-sebut sebagai manuskrip Alquran tertua di Asia Tenggara.

Bermodalkan Alquran dan pisau khitan yang dibawa dari Ternate itu, Iang Gogo kemudian menyebarkan agama Islam. Dia berhasil meng-Islamkan Raja Alor Besar bernama Baololong I, yang sebelumnya penganut animisme.

Bupati Alor Amon Djobo mengatakan situs Alquran tua berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai salah satu wisata religi di Alor, terutama bagi umat Muslim di berbagai daerah. “Alquran tua tersebut terbuat dari kulit kayu dan memiliki sejarah khusus dengan masuk dan menyebarnya umat Islam di Pulau Alor, sehingga sangat menarik untuk dijadikan wisata religius. Apalagi, saat ini banyak wisatawan domestik dan mancanegara yang mulai berdatangan untuk melihat Alquran ini,” ujarnya.

Menurut Amon, pemerintah Kabupaten Alor saat ini sedang mengembangkan situs Alquran kulit kayu menjadi tujuan wisata rohani, bersama sejumlah potensi wisata lainnya yang ada di kabupaten yang berbatasan laut dengan negara Timor Leste.

Di sisi lain, antusiasme umat Islam di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur mempelajari Islam begitu tinggi. Guna menjaga antusiame itu membutuhkan regenerasi dai muda. Hal itu diungkap, Abdurrahman Saleh, dai yang berdakwah di wilayah tersebut. “Kami pernah selenggarakan halaqah Alquran dan berjalan baik, mereka sangat bersemangat mengaji terutama belajar mendalami Alquran,” katanya

Saleh mengatakan, saat ini hanya ada 20 dai yang tercatat. 10 dai diantaranya aktif mengisi kajian. “Kami memulai dakwah dengan mengajarkan mengaji anak-anak di lingkungan rumah terutama daerah perkotaan, kemudian kepada orang tua santri dan kini berkembang untuk membimbing mualaf,” ungkapnya. (njs/dbs)


Back to Top