Ini Kata Menag Tentang Deklarasi Aceh PTKIN

gomuslim.co.id- Keberadaan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang terus berkembang sangat penting untuk steril dari masuknya paham yang ingin mengubah dasar negara. Sejumlah upaya strategis pun perlu dilakukan demi meredam berkembangnya paham ekstrem dan radikal di kampus.

Demikian disampaikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin baru-baru ini. Menag pun mengapresiasi langkah 55 pimpinan (PTKIN) seluruh Indonesia yang bersepakat menolak segala bentuk paham intoleran, radikalisme, dan terorisme yang membahayakan Pancasila dan keutuhan NKRI. Semua ini tertuang dalam Deklarasi Aceh pada 26 April 2017 lalu.

“Deklarasinya juga mesti ditindaklanjuti dengan langkah konkrit agar pesannya bisa dipahami seluruh civitas akademika dan terimplementasi di kampus," ujar Menag di Jakarta, Kamis (04/05/2017).

Menurutnya, setidaknya ada tiga hal yang bisa dilakukan. Pertama, menjadikan moderasi Islam sebagai gerakan segenap civitas akademika kampus. "PTKIN mempunyai modal cukup dalam hal ini. Sebab diskursus pemikiran keislaman berkembang baik sehingga tinggal didorong agar moderasi bisa menjadi gerakan bersama," ujarnya.

Kedua, memperkuat wawasan kebangsaan mahasiswa dan civitas akademika kampus. Selain sessi-sessi perkuliahan, upaya ini bisa dikemas dalam ragam aktivitas positif yang dapat mencegah secara dini berkembangnya paham ekstrem yang tidak sesuai dengan nilai moderasi Islam serta Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Ketiga, memperketat proses seleksi dan rekrutmen, baik mahasiswa, tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan. Komitmen keislaman dan kebangsaan yang inklusif harus menjadi indikator utama untuk memastikan mereka yang akan direkrut adalah orang-orang yang berkomitmen kepada persatuan dan kesatuan bangsa.

"Saya minta, agar rekruitmen dosen di fakultas agama maupun umum, dan tenaga kependidikan lainnya, benar-benar diseleksi dengan ketat terkait paham dan komitmennya terhadap nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Transformasi PTKIN harus diikuti dengan penguatan semangat kebangsaan dan moderasi Islam, bukan justru sebaliknya," paparnya.

Sebelumnya, Sekjen Kemenag Nur Syam juga mengapresiasi Deklarasi Aceh ini. Menurutnya, deklarasi itu sangat strategis dan penting mengingat saat ini ditengarai ada gerakan radikal yang sedang menyasar ke kalangan mahasiswa.

Nur Syam menjelaskan ada tiga point penting yang dinyatakan dalam deklarasi itu. Pertama, menolak segala bentuk kegiatan yang di dalamnya ada radikalisme, fundamentalisme, dan intoleransi. Kedua, memperkuat kegiatan yang mengarah pada pemantapan Pancasila dan ideologi negara. Ketiga, para rektor bersepakat untuk mengembangkan kajian agama yang rahmatan lil alamin.

Nur Syam menilai organisasi yang mengusung khilafah bersifat politis dan menyimpang dari sudut pandang kebangsaan jika berupaya merongrong NKRI, Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika. "Saya rasa kalau mereka sudah mengusung khilafah, sudah politis," tegasnya.

Nur Syam juga mengapresiasi masarakat Indonesia yang menyambut baik seruan Menag terkait ceramah di rumah ibadah. Menurutnya, pesan pokok seruan itu adalah agar umat menyiarkan agama dengan penuh kerahmatan, menyiarkan agama jangan menggunakan kebencian, dan tetap menjaga NKRI.

Sekadar informasi, Deklarasi Aceh dibacakan Ketua Forum Pimpinan PTKIN se-Indonesia, Dede Rosyada di hadapan Menag Lukman dan ribuan mahasiswa dan masyarakat yang menghadiri Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) VIII 2017 di UIN Ar Raniri Aceh, 26 April 2017 di Banda Aceh.

Adapun bunyi naskah Deklarasi Aceh selengkapnya adalah sebagai berikut:

Kami forum Pimpinan PTKIN dengan ini menyatakan:

1. Bertekad bulat menjadikan Empat Pilar Kebangsaan yang terdiri dari Pancasila, Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI sebagai pedoman dalam berbangsa dan bernegara.

2. Menanamkan jiwa dan sikap kepahlawanan, cinta tanah air dan bela negara kepada setiap mahasiswa dan anak bangsa, guna menjaga keutuhan dan kelestarian NKRI.

3. Menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai ajaran Islam yang rahmatan lil alamin, Islam inklusif, moderat, menghargai kemajemukan dan realitas budaya dan bangsa.

4. Melarang berbagai bentuk kegiatan yang bertentangan dengan Pancasila, dan anti-NKRI, intoleran, radikal dalam keberagamaan, serta terorisme di seluruh PTKIN.

5. Melaksanakan nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945 dalam seluruh penyelenggaraan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan penuh dedikasi dan cinta tanah air.

(njs/kemenag/dbs)


Back to Top