Ketua Dewan Pertimbangan MUI : Ini Harapan Positif Aliansi Rusia-Islam di Masa Depan

gomuslim.co.id- Aliansi strategis Rusia-Dunia Islam dapat menjadi model kemitraan dan kerja sama yang positif untuk membangun peradaban dunia baru yang berkemajuan, berkeadilan, dan berkeadaban. Demikian disampaikan Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin, saat pidato pada Sidang Kelompok Visi Strategis Rusia-dunia Islam (Group for Strategic Vision “Russia-Islamic World”) di Grozny City, Federasi Rusia baru-baru ini.

Mantan Ketua Umum Muhammadiyah ini mengatakan Rusia dapat mengedepankan pendekatan kemitraan ramah Islam yang saling menguntungkan. Rusia memerlukan dunia Islam, terutama untuk mendukung bidang politik dan kerja sama ekonomi.

“Sedangkan dunia Islam pun dapat memanfaatkan kekuatan Rusia, yang masih menyisakan keunggulan ilmu pengetahuan teknologi dan ekonomi. Aliansi strategis Russia-Dunia Islam merupakan alternatif positif,” kata Din.  

Pertemuan Kelompok Visi Strategis Russia-Dunia Islam juga dihadiri oleh Presiden Republik Tatarstan Rustam Minikhanov yang menjadi ketua kelompok, Presiden Checnya Ramadan Kadirov sebagai tuan rumah, sejumlah tokoh Federasi Rusia, dan tokoh dari berbagai negara Muslim.

Din sendiri telah menjadi anggota aliansi tersebut sejak 2007. Menurut dia, jika aliansi strategis Rusia-Dunia Islam dapat mengubah visi strategis ke dalam aksi-aksi strategis, hal itu akan ikut mendukung terwujudnya tatanan dunia baru yang damai, adil, dan sejahtera.

Din menjelaskan setelah perang dingin, dunia mengalami ketakpastian. “Tesis The End of History Fukuyama dan The Clash of Civilization Huntington memang terjadi, namun mendorong konvergensi. Sayangnya, konvergensi itu tidak berwajah positif terhadap Dunia Islam sebagai pilar penting peradaban dunia,” kata Din.

Din mengatakan hal yang terjadi justru “permusuhan” terhada Islam baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti adanya proxy war antara sesama negara Islam. “Globalisasi yang semula dimaksudkan untuk adanya keadaan monolitik dalam bidang politik dan ekonomi yang bersifat liberalistik, justru membangkitkan negara-negara lain, yang ditandai oleh kebangkitan Asia Timur,” ungkapnya.

selain itu, Din menilai globalisasi yang semula dimaksudkan untuk menciptakan keadaan monolitik dalam bidang politik dan ekonomi yang bersifat liberalistik, justru membangkitkan negara-negara lain. Itu ditandai dengan kebangkitan Asia Timur. Akibatnya, negara-negara barat merasa terkalahkan sehingga membangkitkan ultra-nasionalisme, seperti yang terjadi di Amerika Serikat dan beberapa negara barat.

Guru besar politik Islam global FISIP UIN Jakarta tersebut menyayangkan dunia barat masih melihat Islam sebagai ancaman dibanding mitra strategis untuk kemajuan bersama. Dengan begitu, adanya aliansi strategis Rusia-Dunia Islam menjadi solusi positif. “Walaupun tidak ada makan siang gratis, Rusia dapat mengedepankan pendekatan kemitraan ramah Islam, yang tentu saling menguntungkan,” ucapnya.

Menurut Din, Rusia memerlukan Dunia Islam terutama untuk dukungan politik dan kerjasama ekonomi. Dunia Islam pun, tambah dia, dapat memanfaatkan kekuatan Rusia yang masih menyisakan keunggulan iptek dan ekonomi.

“Maka, sekali lagi jika aliansi strategis Rusia-Dunia Islam dapat mengubah visi strategis ke dalam aksi-aksi strategis, tidak mustahil akan ikut mendukung terwujudnya tatanan dunia baru yang damai, adil, dan sejahtera,” papar Din. (njs/dbs)


Back to Top