DSN MUI Sebut Lima Hal Penting Sebelum Terjun ke Bisnis Properti Syariah

gomuslim.co.id- Meski belum bisa menyaingi pasar konvensional, industri properti syariah kini semakin banyak diminati masyarakat. Bahkan, saat ini sudah banyak kawasan pemukiman yang mengusung konsep Islami, salah satunya di kawasan Depok, Jawa Barat.

Logios Depok misalnya, sebuah hunian vertikal yang dikembangkan Orchid Realty ini mencatat kelebihan pesanan hingga 122 persen pada masa awal penawaran. Hal ini juga didukung karena berlokasi di kawasan Margonda, Depok yang cukup strategis.

Meski demikian, pengembang harus lebih jeli memperhatikan beberapa hal sebelum terjun ke dalam bisnis properti syariah ini. Menurut Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI), setidaknya ada lima hal yang menjadi prinsip umum properti syariah.

Anggota DSN MUI Oni Sahroni menyebut, pertama, bisnis properti syariah harus terhindar dari praktek-praktek yang dilarang dalam Islam. “Dalam konteks ini, praktek pinjaman berbunga atau transaksi yang berpotensi riba dilarang dalam seluruh tahapan," ujarnya dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (10/8/2017).

Karena itu, tidak diperkenankan menggunakan pinjaman berbunga antara pengembang dan bekerja sama dengan bank konvensional. "Sebaliknya, jika menggunakan KPR maka harus bermitra dengan bank syariah," jelasnya.

Selain itu, harus terhindar dari unsur monopoli (ihtikar), yang dalam hal ini pebisnis bermain sebagai pemain tunggal, serta harus terhindar dari ketidakpastian (gharar) dalam obyek jual beli.

Kedua, harus dapat dipastikan bahwa properti yang dijual ditujukan untuk kebutuhan syariah. "Ketiga, seluruh transaksi dalam tahapan-tahapan bisnis properti menggunakan skema atau akad syariah, baik itu jual beli, jual beli isisna, ijarah maudzufatu dzimah, musyarakah, dan lain-lain," kata dia.

Hal yang tak kalah penting yaitu dalam transaksi bisnis harus menghindari praktek suap (risywah). Terakhir, kata dia, bisnis properti yang dijalankan harus menjadi bagian dari dakwah dengan cara memenuhi kebutuhan calon pembeli seperti tempat ibadah.

Di sisi lain, pasar properti syariah hingga saat ini memang masih sangat jauh jika dibandingkan dengan konvensional. Alasannya karena belum banyak masyarakat yang tahu mengenai properti syariah.

CEO Orchid Reality, Mujahid mengatakan bagi masyarakat awam, ada beberapa hal yang mesti diketahui agar dapat membedakan properti konvensional dengan syariah. Perbedaan pertama adalah cara mengelola lahan yang akan dibangun untuk perumahan.

"Perumahan syariah pasti akan mengelola lahannya sesuai dengan ayat Alquran. Sehingga jangan menjadi perusak di bumi. Jangan merusak tapi menggantikan yang tadinya kawasan tak terpakai menjadi kawasan perumahan," ujarnya.

Selain itu, lanjut Mujahidin, properti syariah juga memerhatikan betul hak-hak tetangga dalam membangun rumah. Maksudnya, sebisa mungkin pembangunan rumah tersebut jangan sampai mengganggu tetangga. "Jadi kita minta izin dulu kepada tetangga sekitar biar jangan mengganggu," jelasnya

Lalu yang terakhir adalah skema pembayaran. Pasalnya, karena properti yang dianut adalah syariah, prinsip jual belinya juga harus sesuai dan berdasarkan syariah. "Prinsip jual belinya sesuai dengan prinsip syariah," kata Mujahid

Ia berharap jika kondisi properti bisa segera pulih dan terangkat. Sehingga properti syariah juga nantinya bisa ikut terangkat dan bahkan bisa meningkat. Karena dengan kondisi properti yang membaik, maka developer juga bisa leluasa menjalankan skemanya baik itu secara syariah. Apalagi syariah merupakan salah satu produk yang diharapkan oleh masyarakat. (njs/dbs?foto:ilustrasiproperty)

 


Back to Top