Menag: Peran Ahlus Sunnah Jadi Acuan Umat Islam Hadapi Tantangan Masa Depan

gomuslim.co.id- Populasi muslim Indonesia adalah yang terbesar di dunia. Kebanyakan dari mereka adalah penganut paham Ahlussunah wal Jamaah. Hal inilah yang menjadi acuan bagi umat Islam dalam menghadapi tantangan di masa depan. Baik untuk persatuan internal umat, maupun hubungan eksternal dalam menjaga perdamaian dunia.

Demikian disampaikan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin saat menerima rombongan pengurus, penasehat dan Sekjen Rhabithah Al-Islamy di kantor Kementerian Agama Selasa (19/9/2017). Kesempatan tersebut digunakan untuk mendiskusikan tentang masa depan peran Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja).

“Tantangan umat Islam ke depan memang tidak sederhana. Ahlussunnah wal Jamaah menjadi acuan dan memberi kontribusi kepada peradaban dunia, dan menjaga internal umat sendiri sehingga kedamaian dunia tetap terjaga,” ujarnya.  

Menag yang didampingi Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran Muchlis M Hanafi, mengatakan, muslim Indonesia selama ini terus berusaha memelihara persaudaraan dan menjaga kerukunan, sekaligus memberi contoh kepada dunia luar tentang ajaran Islam rahmatan lil alamin yang bisa memberikan kontribusi positif bagi dunia.

Pada kesempatan yang sama, Sekjen Rhabithah al-Islamy, Ja’far Abdul Salam, menjelaskan kedatangan rombongan ke Indonesia selain silaturahim, juga bersamaan dengan agenda Seminar Internasional yang diadakan di kampus UIN Syarif Hidayatullah pada 19-20 September 2017.

Menurut dia, kerjasama Indonesia dengan Rhabithah Al-Islamy sudah lama terjalin, sejak masa Menteri Agama dijabat oleh Tarmizi Taher. Karena itu, bagi Rhabithah Al-Islamy, Indonesia adalah negara yang sangat penting dan bersejarah. Sebagai negara yang mayoritas berpaham ahlussunnah wal jamaah, Ja’far berharap Indonesia tidak sampai disusupi ajaran di luar aswaja.

“Terima kasih atas sambutan bapak Menteri Agama, kami rombongan Rhabithah sudah sering ke Indonesia dan bahkan mengadakan kegiatan di UIN Syarif Hidayatullah. Indonesia memiliki kedudukan yang begitu terhormat. Kerja sama Indonesia dan Rhabithah bisa berjalan dengan baik,” kata Ja’far Abdul Salam.

Menaggapi hal tersebut, Menag menyampaikan, bahwa seminar yang dilakukan di UIN Syarif Hidayatullah sangat tepat, karena sejak beberapa tahun belakangan ini, Kementerian Agama sedang mengembangkan ajaran-ajaran islam yang rahmatan lil alamin pada universitas-universitas di Indonesia.

“Kemenag saat ini membawahi 56 PTKI Negeri, sementara PTKI swasta bisa mencapai 600-an. Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) di Indonesia tidak hanya memelihara ajaran Islam yang baik, namun mengembangkannya di masa mendatang,” tegas Menag.

Menag yakin, Rhabhithah al-Islamy dengan berbagai pengalamannya akan dapat memberikan hal positif bagi negara-negara di dunia, khususnya negara Islam, agar dunia semakin baik. “Semoga ke depan Rhabhithah al-Islamy terus menebarkan manfaat untuk umat dan dunia,” tandasnya.

Tampak hadir juga dalam pertemuan tersebut Penasehat/Mantan Sekjen Rhabihah Al-Islamy Prof Dr Abdullah at-Turki, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Dede Rosyada, Sesmen Khairul Huda Basyir. (njs/kemenag/dbs)

 

 


Back to Top