Potensi Besar, Asbisindo Optimis Market Share Perbankan Syariah Capai 7 Persen

gomuslim.co.id- Perbankan syariah Tanah Air secara keseluruhan memilki market share (pangsa pasar) sekitar lima persen. Angka ini masih terbilang rendah jika dibandingkan dengan perbankan konvensional. Meski begitu, Asosiasi Perbankan Syariah Indonesia (Asbisindo) mengaku optimis pangsa pasar perbankan syariah bisa terus meningkat.

Menurut Ketua Asbisindo Moch Hadi Santoso, dengan potensi penduduk muslim Indonesia yang masih besar bahkan dibandingkan dengan negara lain di dunia, pangsa pasar bisa meningkat hingga tujuh persen.

"Angka market share secara jumlah persentase memang masih kecil. Kalau dari sisi berbeda, peluang perbankan syariah untuk berkembang bisa di atas tujuh persen," ujarnya. 

Terlebih lagi, saat ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah meluncurkan Roadmap Pengembangan Keuangan Syariah Indonesia 2017 sampai dengan 2019. Kebijakan tersebut diyakini akan ikut mendongkrak pangsa pasar perbankan syariah nasional. Roadmap ini merupakan langkah menggabungkan substansi dari tiga roadmap yang sudah ada.

"Peta jalan ini merupakan langkah menggabungkan substansi dari tiga peta jalan yang sudah ada. Kita ikhtiar bersama untuk mewujudkan mimpi tersebut. Kehadiran perbankan syariah telah warnai berbagai produk keuangan syariah," jelas dia.

Di tengah berbagai kondisi ekonomi regional dan global yang belum menentu, telah menuntut perbankan syariah untuk dapat menghadapi kondisi tersebut. Untuk itu, perbankan syariah nasional juga harus bisa bersaing dengan perbankan konvensional dalam menarik dana murah masyarakat.

"Perbankan syariah dituntut harus mampu berinovasi. Layanan harus tidak kalah dengan perbankan konvensional. Perbankan syariah harus bisa melayani masyarakat dan juga pemerintah dalam transaksi keuangan," tuturnya.

Di sisi lain, perbankan syariah saat ini sedang mencari model kerja sama dengan perusahaan jasa keuangan berbasis teknologi (fintech) syariah demi mengakselerasi pertumbuhan bisnis perbankan syariah.

Direktur Wholesale Banking PT Bank Syariah Mandiri (BSM) Kusman Yandi mengungkapkan, perkembangan teknologi tak bisa dihindari. Maka itu, perbankan syariah harus mencari cara agar bisa terus tumbuh di tengah menjamurnya bisnis fintech.

"Kami tidak melihat fintech sebagai kompetitor yang mengambil pasar kami tetapi kami akan mencari di mana kami bisa berkolaborasi," ujar Kusman.

Keunggulan fintech ialah bisa lebih dulu menjangkau nasabah yang tidak bisa mengakses layanan perbankan (unbankable).

Dia menyontohkan nasabah fintech milik Ustadz Yusuf Mansyur 'Paytren' bisa mencapai 1,6 juta nasabah hanya dalam tempo dua tahun. Sementara itu, BSM yang telah berdiri sejak 1999, hingga kini baru mengumpulkan 6,5 juta nasabah.

Kusman mengaku telah bertemu dengan beberapa fintech yang menawarkan kerja sama. Namun, perusahaan masih mencari model yang sesuai, mengingat kolaborasi dengan fintech merupakan hal baru.

Lebih lanjut, terwujudnya kolaborasi antara perbankan dan fintech membutuhkan dukungan dari regulator, baik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maupun Dewan Syariah Nasional (DSN). Saat ini, lanjut Kusman, belum ada regulasi yang mengatur soal model kolaborasi tersebut.

"Kami yakin dari regulator akan mengawal dan mengikuti perkembangan ini dan memitigas (risiko) dengan regulasi-regulasi supaya kepentingan masyarakat terjaga," ujarnya. (njs/dbs)

 


Back to Top