Kaji Manuskrip Alquran Nusantara, LPMQ Kemenag dan Perpustakan Negara Malaysia Gelar Seminar

gomuslim.co.id- Sebuah seminar tentang Alquran Nusantara digelar dengan tajuk ‘Karakteristik dan Iluminasi Mushaf Alquran Nusantara’. Seminar ini didigelar oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran (LPMQ) Kementerian Agama bekerjasama dengan Perpustakaan Negara Malaysia di Kuala Lumpur pada Selasa (19/09/2017). 

Seminar dibuka Ketua Pengarah Perpustakaan Negara Malaysia (PNM) Dato’ Nafisah binti Ahmad. Menurutnya, seminar bertujuan memaparkan hasil kajian terbaru tentang Alquran kuno di Nusantara. Dia berharap perpustakaan Negeri Malaysia nantinya bisa mengembangkan kajian manuskrip Alquran pada masa mendatang karena Alquran adalah sumber/zaimat hidup setiap Muslim.

Sementara itu, seminar dihadiri para pemerhati pernaskahan dan kequranan di Malaysia. Di kesempatan itu hadir sebagai narasumber tiga peneliti LPMQ, antara lain; Ali Akbar (Mushaf Nusantara Abad ke 17-19), Abdul Hakim (Historiografi Mushaf Alquran kuno Nusantara), dan Zarkasi Afif (Kajian Rasm pada Mushaf Alquran Nusantara).

Sedang  narasumber dari Malaysia yaitu Prof. Madya Dr. Ab Razak bin Ab Karim (University Malaya) dan Prof. Dr. D’zul Haimi Md Zain (University Teknologi Mara). Acara ini dimoderatori oleh Prof. Madya Dr. Muhammad Mustaqim bin Mohd Zarif (University Sains Islam Malaysia).

Seminar tersebut juga membuka sejumlah pandangan. Antara lain terkait masih minimnya kajian tentang Alquran kuno. Padahal dalam khazanah naskah kuno, Alquran kuno adalah naskah yang paling banyak disalin. Hal itu karena adanya anggapan bahwa Alquran itu sama dengan tulisan dan bunyinya. 

Menurut Ali Akbar, anggapan itu ada benarnya, tapi tak sepenuhnya. Sebab, dalam sebuah naskah Alquran kuno, tersimpan tentang pembuatan kertas, pembuatan tinta, penjilidan buku, teknologi seni hias, teknologi alat tulis, dan lainnya.

“Selain aspek kodikologis, Alquran kuno juga menyimpan perkembangan ilmu-ilmu Alauran. perkembangan ilmu rasm, ilmu khat, ilmu wakof, ilmu perhitungan ayat, ilmu pembagian Alquran dan lainnya,” terang Ali.

Alquran kuno, lanjut Ali, mewakili sejarah kejayaan suatu negeri pada zamannya. Alquran bisa berpindah tempat keluar dari nusantara, tetapi Alquran akan terus menjadi duta kejayaan suatu negeri, termasuk Nusantara Indonesia.

Karena itu, pelestarian Alquran kuno harus menjadi prioritas. Apalagi masyarkat Muslim Indonesia memiliki hubungan batin sangat kuat dengan Alquran, dibandingkan dengan buku lainnya. (nat/kemenag/dbs/foto:kemenag)


Back to Top