PPIH Indonesia Daker Makkah Terima Kunjungan Misi Haji Pakistan dan Bangladesh

gomuslim.co.id- Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daker Makkah menerima kunjungan Misi Haji Pakistan dan Bangladesh baru-baru ini. Kunjungan wakil kedua Negara tersebut dalam rangka belajar tentang pengelolaan jemaah haji Indonesia.  

Menurut Kadaker Makkah, Nasrullah Jasam, kunjungan ini menyusul Tim Tabung Haji Malaysia yang sebelumnya melakukan hal serupa. Delegasi kedua Negara yang dipimpin masing-masing konsulnya ini diterima langsung Direktur Layanan Haji Luar Negeri, Sri Ilham Lubis dan Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Ahmad Dumyathi Bashori

Seperti diketahui, Pakistan dan Bangladesh masuk dalam 10 besar negara terbesar pengirim jemaah haji ke Tanah Suci. Pakistan menempati urutan kedua setelah Indonesia dengan 179ribu kuota haji, dan 100ribuan di antaranya adalah haji Reguler. sedangkan Bangladesh menempati urutan keempat dengan 129ribu kuota haji. Tempat ketiga milik India dengan 170ribu kuota haji.

Nasrullah menjelaskan, kunjungan kedua misi haji ini untuk mengetahui lebih detail tentang manajemen haji Indonesia sebagai pengirim jemaah haji terbesar. Sebelumnya, mereka menjelaskan data-data pengelolaan jemaah di negara mereka masing-masing.

“Akomodasi jemaah haji Pakistan dan Bangladesh di Makkah jaraknya hingga mencapai 7 km dari Masjidil Haram. Sedang di Madinah, sekitar 10 ribu jemaah haji regular mereka tinggal di hotel yang terletak di luar markaziyah. Lalu, masa tinggal jemaah mereka di Arab Saudi berkisar antara 43 sampai 45 hari. Kedatangan kloter pertama mulai 1 Dzulqa'dah,” jelas Nasrullah. 

Menurut dia, sebagian jemaah kedua Negara ini juga tinggal di tenda Mina Jadid. Meski kuotanya lebih sedikit dibanding Indonesia, hotel yang disewa Pakistan di Makkah lebih banyak, mencapai 195 hotel. Padahal, Indonesia hanya menyewa 155 hotel. Artinya, kapasitas hotel mereka jauh lebih kecil.

Pada kesempatan tersebut, Sri Ilham menyambut baik kedatangan Misi Haji Pakistan dan Bangladesh. Menurutnya, pertemuan antar misi haji penting agar bisa saling memahami kelebihan dan kekurangan layanan yang diberikan kepada jemaah negara masing-masing. Hal senada juga disampaikan Dumyathi Basori. Pertemuan antar misi haji perlu dilakukan untuk perbaikan layanan ke depan.

Kepada Misi Haji Pakistan dan Bangladesh, Sri Ilham berbagi pengalaman tentang manajemen pengelolaan haji Indonesia. Menurutnya, sebagai negara dengan kuota jemaah haji terbanyak, Indonesia dihadapkan pada tantangan penyediaan layanan, mulai dari akomodasi, transportasi, maupun katering.

“Proses persiapan penyelenggaraan haji dilakukan sejak awal. Penutupan operasional haji tahun ini, sekaligus menandai dimulainya persiapan penyelenggaraan haji tahun depan,” ujar Sri Ilham.

Indonesia dalam beberapa tahun terakhir terus berusaha memberikan layanan terbaik bagi jemaah. Karenanya, baik akomodasi, transportasi, maupun katering diupayakan dapat disediakan dalam standard terbaik. Untuk memastikan hal ini, Kementerian Agama sudah memiliki Peraturan Menteri Agama tentang pengadaan layanan haji di Arab Saudi.

“Untuk hotel misalnya, kami memiliki kriteria yang harus dipenuhi. Salah satunya terkait dengan spek dan kapasitas. Alhamdulillah, meski jumlah jemaah kami banyak, namun kami bisa menyiapkan 155 hotel dengan kapasitas besar dan setara bintang tiga di Makkah,” tuturnya.

Sri Ilham menjelaskan, jarak terjauh hotel untuk Jemaah Indonesia berkisar 4.5 km dari Masjidil Haram. Hotel dengan jarak di atas 1.5km, disiapkan sarana transportasi bus shalawat untuk memudahkan jemaah beribadah.

Terkait layanan transportasi, Sri Ilham menjelaskan bahwa semuanya sudah mengalami peningkatan kualitas atau upgrading. Bus antar kota perhajian yang digunakan jemaah haji rata-rata produksi tahun 2015 dan 2016. “Ini sengaja dipilih untuk memberikan kenyamanan kepada jemaah. Layanan katering juga disiapkan semaksimal mungkin agar bercitarasa nusantara,” paparnya.

Selain itu, Sri Ilham juga berbagai tentang manajemen petugas layanan haji yang dibuat dalam pola daerah kerja dan sektor. Untuk memudahkan layanan kepada jemaah, di setiap sektor perumahan terdapat petugas haji yang siap 24 jam.

“Meski jumlahnya  banyak, masa tinggal jemaah haji kami di Arab Saudi lebih pendek dibanding negara lain. Masa tinggal jemaah Indonesia berkisar 40 hari. Ini tidak lepas dari manajemen pemberangkatan dan pemulangan jemaah yang disiapkan PPIH,” tutupnya. (njs/kemenag)

 


Back to Top