Bebaskan Lahan Tempat Ibadah, Kemenag Agam Data Masjid yang Belum Bersertifikat

gomuslim.co.id- Pendataan lahan bangunan masjid dan mushola di daerah yang belum memiliki sertifikat gencar dilakukan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Pelaksanaan tugas (Plt) Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Agam, Pebri Doni menyebut pendataan ini melibatkan Kantor Urusan Agama (KUA) di 16 kecamatan.

"Kita telah mengirimkan surat ke KUA untuk mendata masjid dan mushola yang belum memiliki sertifikat tanah lokasi bangunan itu pada awal Februari 2018," ucap Pebri, Senin (12/02/2018).

Pihaknya menargetkan pendataan masjid dan mushola dapat selesai dalam waktu dekat, sehingga pihaknya bisa mengetahui berapa lahan masjid dan mushola yang belum memiliki sertifikat. Pendataan ini dilakukan karena lahan tempat berdirinya masjid dan mushola kebanyakan wakaf dari warga.

Pada 2018 Kemenag Agam memberikan bantuan biaya pengurusan sertifikat lahan masjid dan mushola sebanyak lima persil.

"Kita memberikan bantuan sebesar Rp 500 ribu untuk satu persil sertifikat," kata dia.

Ditambahkan Perbri, bantuan untuk pengurus sertifikat tersebut sudah ada sejak 2014 sampai 2015. Namun, pada 2016 dan 2017 program tersebut sempat terhenti dan dilanjutkan pada 2018.

"Bantuan ini untuk membantu pengurusan sertifikat lahan tempat berdirinya masjid dan mushola," sambungnya.

Sementara itu, jumlah masjid di daerah Agam sebanyak 545 unit tersebar di 16 kecamatan. Ke 545 unit masjid itu terdiri dari masjid agung sebanyak satu unit, masjid besar 16 unit, masjid jami 523 unit dan masjid bersejarah 5 unit. Sementara jumlah mushola sebanyak 1.054 unit.

Wakil Ketua LSM Topan RI Agam, Joni Efendi berharap Kemenag Agam dan pemerintah untuk menganggarkan dana pengurusan sertifikat lahan seluruh masjid dan mushola di daerah tersebut. Dengan cara itu, legalitas tanah akan jelas dan tidak ada orang yang akan menggugat lahan.

"Apabila lahan seluruh masjid dan mushola memiliki sertifikat, maka tidak bisa orang mengklaim tanah itu milik mereka," tukasnya. (nat/dbs/foto:adatindonesia)

 


Back to Top