Inilah Perbedaan Saham Syariah dan Konvensional

gomuslim.co.id- Pemahaman masyarakat akan saham syariah masih terbilang awam. Untuk membedakannya dapat dilihat melalui Daftar Efek Syariah (DES) yang diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keungan (OJK).

Staf Hubungan Kelembagaan dan Informasi Pasar Modal Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nadhifa Alim Hapsari mengatakan bahwa kriteria saham syariah yang masuk melalui DES harus melewati beberapa prinsip syariah, yakni business screening, financial screening, dan masuk ke daftar saham syariah.

"Pertama dilihat dari business screening-nya apakah tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Contoh Sampoerna itu rokok, nah itu sudah di-reject," ujar Nadhifa di acara Mengenal Pasar Modal Syariah di D'Nox Cafe and Resto, Jakarta, Sabtu (10/03/2018).

Kemudian, lanjut dia, saham Bimoli misalnya, di business screening tidak bertentangan tapi saat masuk financial screening itu ada aturan total utang berbasis bunga dibanding total aset tidak lebih dari 45%.

“Jadi kalau Bimoli punya utang di bank dibandingkan total aset melebihi maka akan ke-reject," kata dia.

Selain itu, aturan financial screening yang lain yakni pendapatan non halal tidak melebihi 10%. Sehingga perusahaan yang memiliki pendapatan non halal tidak akan masuk DES tersebut.

"Ketika punya deposito atau sebagai media punya iklan di luar syariah itu pendapatannya tidak lebih dari 10% maka itu aman dan masuk ke daftar efek syariah," paparnya.

Sebagai informasi tambahan, data per Juni 2017 jumlah DES dihuni oleh 351 efek jenis saham emiten dan perusahaan publik. Sementara syariah online trading yang telah terdaftar per Januari 2018 ada sebanyak 12 perusahaan. (nat/dbs/foto:ahad)


Back to Top