Ini Harapan Bank Syariah Terkait Implementasi GWM Averaging Syariah

gomuslim.co.id- Mulai tahun ini, kebijakan Giro Wajib Minimum (GWM) averaging syariah akan dilaksanakan. Sejumlah bank syariah pun berharap ada peningkatan kinerja dengan implementasi averaging untuk bank umum syariah ini.

Menurut Direktur Bisnis BNI Syariah, Dhias Widhiyati, penerapan GWM averaging untuk bank umum syariah ini diproyeksi bisa melonggarkan likuiditas. Hal ini diproyeksi membuat bank syariah memiliki cukup ruang untuk pengembangan bisnis.

“Dengan GWM averaging bank bisa memanfaatkan dana sehingga memperoleh yield lebih optimal. Memberi keleluasaan bank mengatur likuiditas dengan lebih baik," ujarnya, Selasa (13/3/2018).

Ia menambahkan, dengan implementasi GWM averaging maka penggunaan likuiditas bisa lebih fleksibel. Fleksibilitas ini penting karena kadang likuiditas bank terpakai untuk pembiayaan maupun placement dan pinjaman pasar uang.

Sementara itu, Direktur Utama BCA Syariah, John Kosasih, menuturkan dengan likuiditas yang semakin baik, maka pembiayaan juga akan bertumbuh baik. "Hal ini akan meningkatkan kinerja bank syariah secara umum," kata dia.

Sedangkan Sekretaris Perusahaan BRI Syariah, Indri Tri Handayani, mengungkapkan untuk posisi bank yang kelebihan likuiditas efek ke kinerja tidak besar. "Terkait GWM averaging bank umum syariah ini menjadikan bank bisa lebih fleksibel mengelola likuiditas jangka pendek," kata Indri.

Sebagai gambaran saat ini GWM yang dipatok Bank Indonesia (BI) adalah 6,5%. Dari jumlah ini, 1,5% bisa diatur dalam ketentuan GWM averaging.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) menyatakan penerapan GWM averaging diproyeksi bisa meningkatkan penyaluran kredit perbankan. Dody Budi Waluyo selaku Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI mengatakan, selain bisa meningkatkan penyaluran kredit, implementasi aturan ini juga bisa mendorong pendalaman pasar keuangan.

GWM rataan merupakan bentuk relaksasi yang dikeluarkan BI. Dengan meningkatkan GWM rataan, BI menurunkan GWM tetap harian. Bank nantinya hanya perlu memenuhi kewajiban harian dari GWM tetap, sedangkan GWM rataan bisa dipenuhi dalam periode tertentu. Dengan begitu, bank bisa lebih leluasa mengatur likuiditasnya.

Menurut Dody, dari evaluasi implementasi GWM averaging di bank umum dan Bank Pembangunan Daerah (BPD) menunjukkan aturan ini bisa meningkatkan fleksibilitas dan efisiensi bank dalam mengelola likuiditas.

Ke depan, implementasi GWM baik untuk bank umum konvensional dan syariah bisa meningkatkan intermediasi dan pendalaman pasar keuangan. Namun Dody menuturkan yang masih menjadi tantangan kedepan adalah mengenai peningkatan kapasitas dan manajemen likuiditas. Serta belum beragamnya ketersediaan instrumen di pasar uang. Karena itu, BI akan bersinergi dengan program pendalaman pasar keuangan. Baik dengan peningkatan kapasitas front, middle dan back office. (njs/dbs)


Back to Top