Fokus di Industri Halal, Produk Ekspor Malaysia Meningkat Rp 4,2 Triliun

gomuslim.co.id- Negeri Jiran Malaysia tidak main-main dalam menangkap peluang halal. Hal ini ditandai dengan adanya ekspor industri halal Malaysia yang mengalami kenaikan 1,2 miliar ringgit Malaysia (atau Rp 4,2 triliun) menjadi 43,4 miliar ringgit Malaysia (sekitar Rp 15 triliun) dibandingkan 2016.

Sementara itu, industri kecil dan menengah menghasilkan 3,8 miliar ringgit Malaysia. Dan perusahaan kecil menyumbang 1,5 miliar ringgit Malaysia.

CEO Industri Halal Corp Sdn Bhd (HDC) Datuk Seri Jamil Bidin mencatat perusahaan multinasional (MNC) terus mendominasi pasar dengan ekspor senilai 38 miliar ringgit Malaysia.

“Industri makanan dan minuman menghasilkan nilai ekspor terbesar sebesar 20,1 miliar ringgit Malaysia, bahan halal sebesar 15,7 miliar ringgit Malaysia, olahan minyak sawit sebesar 3,6 miliar ringgit Malaysia, produk kosmetik dan perawatan pribadi sebesar 2,9 miliar ringgit Malaysia,” papar Jamil, seperti yang dilansir dari publikasi The Malaysian Reserve, Selasa (20/03/2018).

Tahun lalu, kata Jamil, importir Malaysia diambil alih oleh Singapura untuk pertama kalinya, dengan nilai perdagangan senilai 4,9 ringgit Malaysia.

“Cina telah memimpin pasar dengan rata-rata transaksi senilai 4 miliar ringgit Malaysia di tahun sebelumnya,” kata dia.

Sedangkan, pada 2017, negara tersebut mencatat sekitar 4,8 miliar ringgit Malaysia transaksi, diikuti Jepang (2,8 miliar ringgit Malaysia), Amerika Serikat (2,7 miliar ringgit Malaysia), Indonesia (2,2 miliar ringgit Malaysia), Belanda (2 miliar ringgit Malaysia), Thailand (1,7 miliar ringgit Malaysia), Australia (1,5 miliar ringgit Malaysia), India (1,4 miliar ringgit Malaysia), dan Korea Selatan dengan 1,3 miliar ringgit Malaysia.

Hal ini menunjukkan minat yang meningkat pesat terhadap produk halal dan industri halal pada umumnya. Peningkatan ini tak lepas dari kesadaran potensi industri dan seberapa besar hal tersebut dapat berkontribusi pada ekonomi suatu negara.

“Populasi Muslim global lebih dari 1,8 miliar. Tapi, sebagian besar minat untuk mengembangkan produk dan industri halal, berasal dari negara-negara non-Muslim, kecuali Malaysia,” tandasnya.

Jamil berpendapat negara Muslim menjadi konsumen terbesar dan bukan produsen produk halal.

Di pihak lain, CEO Malaysia External Trade Development Corp (Matrade) Mohd Shahreen Zainoreen Madros mengatakan rencana penyelenggaraan Malaysian International Halal Showcase (Mihas) 2018 bulan depan bertujuan meningkatkan nilai perdagangan antara 5 persen dan 7 persen.

“Acara itu mampu menarik lebih dari 22 ribu pengunjung perdagangan bersama 576 perusahaan dari 33 negara pada 2017,” tuturnya.

Penyelenggaraan tahun lalu mencatat, ada transaksi lebih dari 1 miliar ringgit Malaysia dalam acara itu. Tahun ini, pihaknya menargetkan kenaikan antara 10 persen hingga 15 persen pengunjung, serta 800 perusahaan ikut serta dengan lebih dari 1.000 penetrasi stan pameran. (nat/themalaysianreserve/dbs/foto:guardian)

 


Back to Top