Peneliti: Permodalan Bank Syariah Bisa Lebih Kuat dengan Lepas Saham ke Publik

gomuslim.co.id- Initial Public Offering (IPO) atau melepas saham ke publik merupakan salah satu upaya untuk mendorong perbankan syariah meningkatkan daya saing. Hal ini sekaligus untuk memperkuat sisi permodalan mengingat hingga sekarang bank syariah Tanah Air sekarang masih tertinggal dari bank-bank besar konvensional.

Demikian disampaikan Peneliti Ekonomi Syariah SEBI School of Islamic Economics, Aziz Setiawan, baru-baru ini. Potensi bank syariah melakukan IPO masih sangat potensial. Sebab, secara umum potensi market dari industri keuangan syariah masih besar.

"Perbankan syariah harus menambah kapasitas karena kebutuhan ekspansi bank-bank untuk pembiayaan syariah cukup besar. Penambahan modal dilakukan untuk meningkatkan dana pihak ketiga (DPK) sehingga kapasitas pembiayaan besar,” ujarnya, Selasa (27/3/2018).

Di samping itu, ia melihat respon masyarakat terhadap IPO bank syariah ini akan positif. Hal itu melihat kondisi bursa dan ekonomi secara keseluruhan yang kelebihan likuiditas. Instrumen investasi tersebut dapat diserap masyarakat.

“Idealnya, tren bank syariah harus membuka diri untuk mendapatkan alternatif sumber pendanaan beragam. Melepas saham ke publik menjadi salah satu diversifikasi sumber pendanaan,” katanya.

Ia menjelaskan jika bank syariah menunggu tambahan modal dari pemegang saham, maka kemungkinannya lama. Padahal ada potensi modal dari publik yang bisa mendorong bank syariah bisa segera naik kelas.

Selain itu, perbedaan level jenis bank ada perlakuan berbeda dari otoritas terkait insentif. Dengan naik kelas, akan ada fasilitas yang dinikmati bank untuk jangka pendek dan jangka panjang.

Lebih lanjut, ia menuturkan dampak lebih besar jika modal besar bisa menarik DPK lebih besar dan ekspansi lebih besar sehingga daya saing meningkat. Alhasil akan kompetitif dengan bank-bank besar lainnya.

"Modal sebagai jangkar untuk meningkatkan DPK, meningkatkan pembiayaan sehingga skalanya lebih besar dan meningkatkan daya saing. Sehingga efisiensi dan profitabilitas lebih baik," ungkapnya.

Sebelumnya, BRI Syariah telah mengumumkan untuk melepas 30 persen saham ke publik. Kemudian, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah (BTPN Syariah) juga mengumumkan bakal melepas 10 persen saham ke publik baru-baru ini.

BTPN Syariah berencana menawarkan hingga 770,37 juta saham baru dalam penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Perseroan menetapkan harga saham perdana di kisaran Rp 900-Rp 980 sehingga dari aksi korporasi tersebut akan diperoleh dana segar Rp 693,33 miliar-Rp 754,96 miliar.

Direktur Utama BTPN Syariah Ratih Rachmawaty mengatakan, IPO merupakan langkah strategis perusahaan untuk menjalankan bisnis secara lebih terbuka. BTPN Syariah akan menggunakan dana hasil IPO untuk mendukung ekspansi pembiayaan murabahah untuk segmen masyarakat prasejahtera produktif.

“Dengan memiliki saham BTPN Syariah, publik secara tidak langsung turut andil memberdayakan masyarakat prasejahtera produktif di Indonesia karena dana yang diperoleh dari IPO ini akan digunakan untuk peningkatan volume pembiayaan terhadap segmen yang selama ini menjadi fokus bisnis perseroan," kata Ratih.

Dalam aksi korporasi tersebut, BTPN Syariah juga menawarkan sebagian saham untuk program alokasi saham kepada karyawan atau employee stock allocation (ESA) maksimal 10% dari jumlah saham yang akan dilepas ke publik. Masa penawaran awal (book building) akan berlangsung sejak 27 Maret hingga 6 April 2018.

Perseroan memperkirakan bisa mendapatkan pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 16 April 2018. Adapun masa penawaran umum akan berlangsung pada 18-20 April 2018.

Aziz menyebutkan, kinerja BTPN Syariah dan BRI Syariah dinilai sangat baik dan di atas rata-rata industri. "Hal itu menjadi peluang besar bagi masyarakat dan investor untuk mengambil peluang investasi di pasar modal. Sehingga nanti akan banyak permintaan," imbuhnya. (njs/dbs)

 


Back to Top