Dewan Masjid Indonesia Akan Dilibatkan untuk Susun Top Ten Masjid di Indonesia

gomuslim.co.id- Percepatan pariwisata halal atau wisata religi terus dievaluasi. Dalam hal ini,  Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata (P3) Halal dari Kementerian Pariwisata mengusulkan agar perlu ada sepuluh masjid terbaik atau top ten masjid di Indonesia untuk dijadikan ikon.

Karena itu, Dewan Masjid Indonesia (DMI) merekomendasikan sejumlah masjid terbaik yang berpotensi dijadikan wisata religi berbasis masjid.

Ketua Tim P3 Halal dari Kementerian Pariwisata, Riyanto Sofyan menyebut intinya jika ingin mengangkat wisata religi berbasis masjid, harus ada top ten masjid sebagai ikonnya.

“Sebagai contohnya, Masjid Istiqlal di Jakarta sebagai masjid terbesar ke empat di dunia, bisa dijadikan ikon atau dimasukkan sebagai top ten masjid di Indonesia,” tutur Riyanto, Minggu (01/04/2018).

Kemudian, di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) terdapat Islamic Center NTB, dan di Aceh ada Masjid Raya Baiturrahman.

"DMI tahu masjid-masjid yang akan dijadikan top ten masjid," katanya.

Sementara, program percepatan wisata halal bukan membuat yang baru, sambung Riyanto, tapi yang sudah terkenal tinggal dipoles sedikit, kemudian jadi. Tim P3 Halal merekomendasikan ke DMI cara seperti itu. Tapi mungkin DMI punya strategi sendiri.

"Masukan kami, pertama harus ada standar (masjid yang akan dijadikan basis wisata religi-Red), harus ada bimbingan teknis supaya masjid yang akan diangkat sebagai ikon benar-benar jadi kelas dunia," pungkasnya.

Dijelaskan Riyanto, hal pertama yang perlu dilakukan adalah membuat dan menetapkan standar masjid. Seperti standar fisik, pelayanan dan manajemen masjid. Kemudian, perhatikan kenyamanan, pelayanan dan daya tarik masjidnya.

“Kemudian, program pemasaran masjid sebagai basis wisata religi harus bagus,” ujar dia.

Hal ini bertujuan agar masjid di Indonesia dapat bersaing dengan masjid yang sudah menjadi destinasi wisata dan terkenal di dunia. Seperti Masjid Putra di Putrajaya, Malaysia dan Masjid Agung Syekh Zayed di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UAE).

"Maka untuk mencapai semua itu harus didukung sumber daya manusia yang kompeten di bidangnya," tandasnya.

Menurutnya, DMI bisa membantu menciptakan sumberdaya manusia yang kompeten untuk mengelola masjid yang akan dijadikan basis wisata religi.

“Banyak program-program DMI yang bagus-bagus,” katanya.

Namun, setelah masjid jadi basis wisata religi dan dikunjungi banyak wisatawan, pihaknya berharap agar perlu ada pengelolaan sampah yang baik supaya kebersihan masjid tetap terjaga meski dikunjungi wisatawan yang ingin menikmati wisata religi masjid. (nat/dbs/foto:suaramasjid)

 


Back to Top