Dengan Variasi Kegiatan, Masjid Punya Daya Tarik untuk Destinasi Wisata Religi 

gomuslim.co.id- Pengembangan pariwisata halal yang berbasis wisata religi msjid perlu mempertimbangkan beberapa poin penting. Dalam hal ini Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata (P3) Halal dari Kementerian Pariwisata berpendapat wisata religi berbasis masjid perlu dibuat standar fisik, pelayanan, manajemen, kenyamanan, dan daya tarik masjid.

Ketua Tim P3 Halal dari Kementerian Pariwisata Riyanto Sofyan mengatakan, bila ingin menjadikan masjid sebagai basis wisata religi atau halal, maka harus diperhatikan tiga poin penting, diantaranya; kenyamanan, pelayanan, dan daya tarik masjidnya.

“Misalnya, dibuat kegiatan tabligh dan perlombaan baca Alquran di masjid sebagai daya tarik,” ujar Riyanto.

Atau bisa pula, lanjut dia, diadakan berbagai kegiatan yang kreatif oleh pengelola masjid sehingga bisa memunculkan daya tarik bagi masjid tersebut.

"Contohnya pengelolaan Masjid Jogokariyan (di Yogyakarta) bagus sekali, kalau (bangunan) masjidnya sendiri biasa saja, Masjid Jogokariyan ramai karena kegiatannya," tandasnya mencontohkan.

Sementara, untuk menjadikan masjid sebagai basis wisata religi, juga ada tiga hal utama yang harus diperhatikan. Pertama, daya tariknya. Daya tariknya bisa karena sejarah masjid, bangunan atau arsitektur masjid dan kegiatan-kegiatan di masjid tersebut.

Menurut Riyanto, kalau sejarah masjid yang akan ditonjolkan sebagai daya tarik, maka harus ditampilkan bukti sejarah berupa peninggalan-peninggalan dan penjelasan sejarahnya. Kedua, fasilitasnya. Harus diperhatikan wisatawan yang berkunjung ke masjid akan makan dan menginap di mana. Dan ketiga, harus perhatikan akses ke masjid yang akan dijadikan basis wisata religi.

"Apakah ada hotel atau penginapan di dekat situ yang ramah Muslim, restoran bersertifikat halal dan lain sebagainya," kata dia.

Sehingga, kata Riyanto, yang perlu dilakukan, pertama, buat dan tetapkan standar masjid. Seperti standar fisik, pelayanan dan manajemen. Kemudian, perhatikan kenyamanan, pelayanan dan daya tarik masjidnya.

Selanjutnya, program pemasaran masjid sebagai basis wisata religi juga harus siap. Supaya masjid di Indonesia dapat bersaing dengan masjid yang sudah menjadi destinasi wisata dan terkenal di dunia, seperti Masjid Putra di Putrajaya, Malaysia dan Masjid Agung Syekh Zayed di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UAE). karena itu, untuk mencapai target tersebut harus didukung sumber daya manusia yang kompeten di bidangnya.

Dalam hal ini, Dewan Masjid Indonesia (DMI) dapat membantu menciptakan sumberdaya manusia yang kompeten untuk mengelola masjid yang akan dijadikan basis wisata religi.

“Banyak juga program-program DMI yang bagus-bagus," pungkas Riyanto. (nat/dbs/foto:serambimata)

 


Back to Top