Darussalam Madani Properti Segera Bangun Perumahan Syariah di Bekasi

gomuslim.co.id- Kesadaran masyarakat Indonesia terhadap produk syariah kini semakin meningkat. Dalam hal ini termasuk sektor perumahan. Hal demikian membuat PT Darussalam Madani Properti berencana menggarap sektor usaha perumahan bernuansa Islam di Kecamatan Cabang Bungin, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada 2018.

Tak tanggung-tanggung, nilai investasi perusahaan properti berbasis syariah itu mencapai Rp1,3 triliun. Pembangunan perumahan syariah bernama Madinah City ini rencananya akan dikerjakan di atas lahan seluas 1.000 hektare. Dari lahan tersebut, perusahaan akan membangun 50.000 unit rumah tinggal.

Pengembang nantinya akan menerapkan konsep fasilitas islami dengan fasad bangunan rumah modern bergaya Kota Madinah. Terdapat masjid jami di atas lahan seluas dua hektare berkonsep Masjid Nabawi, yang dikelola secara profesional.

Selain itu, di Madinah City ada fasilitas pendidikan, pesantren, tahfidz quran, area berkuda dan memanah, dan sebagainya. Kluster berkonsep islami ini diyakini menjadi yang terbesar di Indonesia.

CEO PT Darussalam Madani Properti, Saiful Azmi mengatakan, pihaknya ingin berpartisipasi dalam memenuhi kebutuhan perumahan di Tanah Air. “Seperti kita ketahui, pada akhir 2017, kebutuhan rumah masih menyentuh angka 13,5 juta unit di Indonesia," ujarnya beberapa waktu lalu.

Ia menambahkan di tahap awal, pihaknya akan menggarap 75 hektare terlebih dahulu. Padahal, Pemerintah Kabupaten Bekasi sendiri telah mengalokasikan 1.000 hektare lahan untuk dikelola perusahaan yang pengurusan izinnya dilakukan secara bertahap hingga lima tahun ke depan.

“Tahap awal akan dibangun hingga 3.000 unit rumah dengan empat klaster. Perusahaan menargetkan unit terjual habis pada Oktober tahun ini. Adapun, harga jual mulai dari Rp 269 juta dengan tipe 27/70 untuk kalangan menengah. Kami akan membuka secara bertahap sampai dengan 1.000 hektare," paparnya.

Selanjutnya, ia menyebut, dana investasi Rp1,3 triliun yang berasal dari modal konsorsium serta suntikan investor asing itu diperuntukan bagi pembangunan hunian bernama Madinah City yang terdiri atas lima produk cluster yakni, Uhud sebanyak 541 unit, Madani 600 unit, Baitul Maqdis 700 unit, Quba 400 unit, Jaber 750 unit.

Dana pembangunan tahap awal, kata dia, dikucurkan hingga Rp 1,5 triliun, bersumber dari konsorsium. Bahkan pihaknya menggandeng investor asal Timur Tengah. Tipe rumah yang ditawarkan di antaranya 27/70, 30/84, 36/105, 48/120, 55/150, 6 x 20 meter per segi dua lantai dengan kisaran harga mulai dari Rp606 juta hingga Rp2,5 miliar.

Menurut dia, konsumen tengah disasar adalah masyarakat muslim yang ingin menghindari riba perbankan konvensional. "Upaya kami dalam memangkas backlog (kebutuhan rumah tinggal) tersebut ialah dengan membangun unit-unit perumahan berkonsep syariah di sejumlah daerah," katanya.

Selain di Kabupaten Bekasi, kata dia, pihaknya sudah lebih dahulu menggarap usaha serupa di Bogor, Padang, dan Yogyakarta. "Kami tidak melibatkan perbankan, sehingga tidak mempraktikkan konsep-konsep pembiayaan properti ala perbankan. Terhadap konsumen, kami juga mempraktikkan konsep jual beli syariah antiriba yang tidak mengenal bunga, denda, penalti, apalagi sita," katanya.

Pihaknya optimistis animo konsumen yang tertarik pada konsep pembiayaan rumah syariah antiriba ini sudah semakin meningkat, seiring dengan pemahaman akan riba yang diyakini tidak menghadirkan keberkahan.

"Kelompok masyarakat yang rutin memperdalam agama dengan menghadiri acara-acara kajian sudah semakin banyak. Merekalah target pasar kami, karena mereka kelompok yang sudah paham akan biaya riba," katanya.

Lokasi Madinah City di sisi timur laut Jakarta itu diproyeksikan akan terkoneksi dengan jaringan infrastuktur transportasi penghubung seperti Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) II, Light Rail Transit (LRT) yang menghubungkan Kota Bekasi dan sebagian Jakarta. "Madinah City telah memiliki sertifikasi ISO 9001 & OHSAS berikut perizinan resmi dari sejumlah lembaga otoritas, di antaranya pemanfaatan lahan hingga izin prinsip," katanya. (njs/antara/tempo/foto:kreditgo)

 


Back to Top