Hidupkan Tradisi ala Santri, Kemenag Gelar Lomba Karya Tulis Ilmiah Santri Ma’had Aly

gomuslim.co.id- Dorongan bagi mahasantri untuk menulis terus dilakukan Kementerian Agama (Kemenag). Baru-baru ini, Kemenag melalui Badan Litbang dan Diklat berencana menggelar ajang penulisan karya ilmiah bagi para santri Ma’had Aly.

Gelaran bertajuk “Karya Tulis Ilmiah Mahasantri (KTIM)" ini dikemas dalam bentuk penelitian kompetitif antar sesama santri Ma’had Aly se-Indonesia. Pendaftaran peserta seleksi mulai dibuka 20 April hingga 20 Juni 2018.

Kapuslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan, Amsal Bakhtiar, mengatakan pihaknya sudah menyiapkan dana bagi mahasantri yang terpilih. “Kami siapkan dana pembinaan masing-masing lima juta rupiah untuk melakukan penelitian, baik penelitian kepustakaan maupun penelitian sosial, serta penyusunan karya ilmiah,” ujarnya.

Ia menambahkan inisiatif gelaran ini didasarkan pada fakta bahwa karya tulis di lingkungan ulama nusantara sangat banyak. Indonesia mewarisi banyak karya ulama, antara lain: Sabilul Muhtadin (Syekh M. Arsyad Al Banjari), Hidayatus Salikin (Syakh Abdul Samad Palembang), Tafsir al Munir (Syekh Nawawi Banten), Hasyiyah an Nafahat (Syekh Ahmad Khatib Minangkabau), Al Fawaid Al Janiyyah (Syekh Yasin al Fadani).

“Karya-karya besar mereka hendaknya dapat diikuti oleh para santri Indonesia saat ini, khususnya mahasantri Ma’had Aly. Untuk itu Kementerian Agama ingin memfasilitasi menghidupkan tradisi agung dalam karya tulis ilmiah tersebut,” katanya.

Ketua Asosiasi Ma’had Aly, Abdul Jalal dari Pesantren Situbondo, menyambut baik galaran KTIM 2018. Dia berharap kegiatan ini akan menguatkan tradisi penulisan karya ilmiah di Ma’had Aly.

Sementara itu, Kepala Bidang Litbang Pendidikan Keagamaan Muhamad Murtadlo mengatakan, KTIM 2018 mengambil tema besar ”Wawasan Keagamaan, Kebangsaan dan Keilmuan dalam Konteks Keindonesiaan.”

Dari tema besar, ada beberapa alternatif sub-tema yang bisa dipilih, yaitu: “Pengembangan Sikap Wasatiyah dalam Konteks Keindonesiaan”; “Isu-isu Sosial Keagamaan dalam Perspektif Keilmuan Pesantren”; “Menggali dan Menerapkan Ciri Khas Keilmuan Ma’had Aly”; dan “Memperkuat Pendidikan Karakter dalam rangka Memajukan Peradaban Bangsa.”

Murtadlo yang juga penanggung jawab KTIM 2018 ini mengatakan, judul usulan penelitian tidak mesti sama dengan redaksi di atas, namun bisa juga judul yang merupakan turunan dari sub tema tersebut. “Intinya, KTIM ini dibuat untuk mengaktualkan pemikiran dan penalaran yang menjadi khazanah masing-masing Ma’had Aly,” jelasnya.

Saat ini, terdapat 29 Ma’had Aly yang telah mendapat izin operasional dari Kementerian Agama. Masing-masing Ma’had Aly mempunyai program studi yang spesifik, antara lain: Ulumul Quran, Ulumul Hadits, Sejarah Islam, Fiqh dan Ushul Fiqh, Tasawuf, dan Ilmu Kalam. Mahasantri disilahkan untuk mengangkat tema KTIM sesuai konsentrasi studi mereka. (njs/kemenag/foto:mahadalysukorejo)


Back to Top