ACT dan MRI Beri Pendampingan untuk Pengungsi Rohingya di Aceh 

gomuslim.co.id- Gelombang pengungsi Rohingya kembali menyedot perhatian banyak pihak. Mereka di antaranya pemerintah, lembaga kemanusiaan, komunitas, hingga masyarakat setempat.

Seperti dikteahui, pada Jumat (20/4) lalu, sebanyak 79 pengungsi Rohingya sempat terdampar di Pantai Kuala Raja, Kabupaten Bireuen, Aceh. Mereka kini telah dipindahkan ke Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Cot Gapu, Bireuen.

Aksi Cepat Tanggap (ACT) Aceh beserta Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) wilayah Bireuen turut mendampingi para pengungsi sejak kedatangannya. Tim membagikan paket sanitasi sehari setelah kedatangan.

Koordinator Program ACT untuk pengungsi Rohingya, Laila Khalidah, mengatakan pembagian ini diinisiasi mengingat para pengungsi sudah sembilan hari terombang-ambing di lautan. “Seperti kita tahu mereka sempat lama terombang-ambing di laut, kabarnya sampai sembilan hari. Hal pertama yang paling mereka butuhkan adalah membersihkan diri, dan pasti membutuhkan perlengkapan kebersihan. Karena itu, kami langsung menyediakan perlengkapan kebersihan untuk mereka,” tutur Laila.

Selain membagi-bagikan perlengkapan sanitasi, ACT bersama dengan MRI Bireuen juga mengedukasi para pengungsi dengan mengajarkan mereka beberapa kata dasar dalam Bahasa Indonesia. Edukasi ini bertujuan untuk memudahkan para pengungsi untuk komunikasi dengan para relawan.

Laila mengatakan dari 79 pengungsi hanya satu orang yang bisa berbahasa Melayu. Sisanya hanya bisa Bahasa Rohingya.

Riski, salah satu relawan ACT yang ikut mengajarkan pengungsi Rohingya, mengatakan tidak mengalami kesulitan yang begitu berarti dalam mengajarkan mereka. Ia mengandalkan google translate dalam berkomunikasi.

“Jadi, sebelum masuk mengajar, saya sudah menghafalkan beberapa kata untuk membangun interaksi. Para pengungsi Rohingya sendiri cukup senang ketika ada relawan yang bisa bahasa mereka walaupun cuma beberapa kata,” ungkap Riski.

Hingga Ahad (22/4), pendampingan terhadap para pengungsi Rohingya di Bireuen masih berlanjut. Selain memberikan perlengkapan sanitasi dan edukasi bahasa, tim juga telah memberikan penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Di samping itu, makanan sehat juga diberikan kepada anak-anak Rohingya untuk memulihkan stamina mereka.

“Kami pun mengajak para pengungsi aktif terlibat untuk menyiapkan proses makan dan kegiatan sehari hari. Ini agar mereka mandiri,” jelas Laila.

adapun, ACT sendiri akan terus membersamai pengungsi selama berada di Bireuen. Pendampingan para pengungsi Rohingya ini bukan kali pertama yang ditangani oleh ACT. Penanganan terhadap mereka sudah dilakukan sejak 2013. Hal ini termasuk penyediaan hunian sementara terpadu (Integrated Community Shelter) di Blang Adoe, Aceh Utara, pada 2015.

Husaini Ismail selaku Kepala Cabang ACT Aceh mengatakan akan siap untuk terus membantu para pengungsi Rohingya. Menurutnya, saat ini ACT masih menunggu tindak lanjut dari pihak pemerintah mengenai rencana ke depan. 

“Sehubungan dengan kedatangan pengungsi Rohingya di Aceh, ACT siap membantu mereka selama masa darurat ini. ACT juga sangat berterima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Bireuen yang sangat cepat merespon dengan menyediakan tempat penampungan sementara di SKB. (Mereka) dengan sigap membuat dapur umum melayani para pengungsi. ACT bersama pemerintah dan elemen lain siap untuk mendukung dan membantu,” tutup Husaini Ismail.

Keputusan mengenai penempatan lanjutan untuk pengugsi Rohingya di Aceh masih dirundingkan. Rapat gabungan tentang teknis penanganan pengungsi rohingya di Bireun ini rencananya akan digelar Senin (23/4) oleh pemerintah dan sejumlah lembaga kemanusiaan. (njs/act)


Back to Top