#HIJUPRamadhanFestival

Gandeng Desainer Lokal, HIJUP Siap Bersaing di Pasar Global

gomuslim.co.id- Di tengah maraknya persaingan produk dan brand lokal dengan impor. Membuat e-commerce modest ware Hijup kian bersemangat. Pasalnya di Indonesia sendiri pasar busana Muslim sedang nai daun dan menjadi tren di seluruh dunia.

Dalam press confrance Hijup Ramadhan Festival di hari kedua, Kota Kasablanca, Jakarta, Sabtu (27/05/2018) CEO Hijup Diajeng Lestarimengatakan berdasarkan perilaku konsumen di Hijup, perempuan Indonesia mulai menggemari baju-baju produksi dalam negeri.

“Terlihat dari antusias konsumen perempuan. Karena pilihan baju Muslim saat ini sangat beragam, mereka (konsumen) justru lebih suka belanja online produksi dalam negeri, karena desainnya yang nggak kalah modis sama produk luar,” pungkas Diajeng.

Bahkan, lanjut Diajeng, Indonesia sudah menjadi tren center modest ware berkat inovasi para desainernya yang selalu berinovasi dengan motif, bahan, dan cutting.

Di Hijup sendiri memang mewadahi produsen atau desainer yang masih berbentuk Usaha Kecil Menengah (UKM) yang memberdayakan penjahit dan pengerajin lokal atau daerah. Salah satu yang menerapkan lokal wisdom adalah brand Vivi Zubedi.

Vivi begitu desainer yang akrab disapa membenarkan bahwa dalam produksinya ia memberdayakan penduduk lokal dari Kalimantan Selatan dengan menggunakan kain tradisional Sasirangan dan Pagatan dalam koleksi ‘Urang Banua’ yang sempat berlaga di New York Fashion Feek awal tahun lalu.

“Jangan takut kalah saing sama brand luar. Saya berani jamin tren di Indonesia lebih etnik dan unik dari market luar, buktinya banyak desainer kita yang berhasil show di luar negeri,” ujarnya.

Sementara itu, jika melihat dari sisi standarisasi produk untuk menghadapi persaingan global. Hijup dan Vivi Zubedi menilai bahwa standarisasi memang tidak bisa dikesampingkan. Kualitas menjadi nomor satu untuk bisa menggaet hati konsumen luar.

“Memang saya akui standar produk untuk bisa expor itu susah-susah gampang dan butuh konsistensi. Seperti dari hal-hal pritilan, hantag, petunjuk pencucian baju, benang yang nggak boleh sama sekali keluar dari jalurnya. Produsen harus disiplin dengan itu supaya produk lokal bisa bersaing,” terang Vivi.

Dalam hal ini, Hijup juga sudah menerapkan kurasi pada desainer partnernya agar mengikuti standar global. “Kita sudah buat aturan mainnya dan mensosialisasikan ke para desainer untuk mengikuti rules yang sudah Hijup buat,” sambung Diajeng.

Meski memang banyak aturan, namun hal ini dirasakan Vivi meningkatkan kualitas produk sekaligus mengedukasi desainer supaya lebih memperhatikan produknya dan memuaskan konsumen.

“Ini jadi pendidikan gratis untuk kita (desainer) mana yang harus dievaluasi, diperbaiki, dan dijadikan standar market global,” tandas Vivi. (nat/foto:nat)

 


Back to Top