Pengamat Musik: Musik Religi di Indonesia Berkembang dari Zaman ke Zaman

gomuslim.co.id- Musik religi selalu menjadi ciri khas di bulan Ramadhan. Syair yang easy listening membuat masyarakat menyukai musik religi, apalagi jika dikemas lebih modern (pop).

Melihat fenomena ini, tentu banyak yang penasaran bagaimana perkembangan awal musik religi di Indonesia. Seniman sekaligus Pemerhati Musik dari Kota Malang, Redy Eko Prastyo mencoba menelusuri awal perkembangan musik religi di Indonesia.

Di antara sejumlah pendapat, Redy justru menilai, awal perkembangan musik religi di Indonesia kemungkinan besar terjadi sejak 1936.

"Ini berdasarkan referensi atau bukti yang sejauh ini kita temukan," kata salah satu perintis Kampung Budaya Cempluk.

Redy menemukan bukti keberadaan musik religi pada 1936 dari konversi audio pada video YouTube. Di referensi tersebut terdengar audio bernuansa Melayu lama dengan judul "Selamat Hari Raya". Lagu itu dinyanyikan Miss Aminah dengan nama pencipta, Tengku Alibasha @ Che Ara Bangsawan. 

Sementara itu, penemuan audio tersebut jelas sangat menarik dan menjadi tambahan referensi keberadaan musik religi di Indonesia. Audio tersebut jelas dikonversi dari piringan hitam zaman dahulu. Kemudian ditampilkan ke dalam bentuk video di YouTube dengan foto template nuansa zaman dahulu.

Namun, ia belum memastikan apakah lagu tersebut benar-benar musik religi pertama di Indonesia.

“Sejauh ini bukti referensi keberadaan musik religi pertama baru audio tersebut. Hingga saat ini bukti referensi musik religi Indonesia masih sangat kurang,” kata dia.

Dia meyakini, tren musik religi terutama terkait keislaman sudah mulai ada sejak masa pasca kemerdekaan. Lebih tepatnya setelah lagu Taufik Ismail dan Bimbo mulai merebak di ruang lingkup warga Indonesia. Kemudian disusul dengan grup-grup musik seperti Gigi, Ungu dan sebagainya hingga saat ini.

Adapun alasan musik religi lebih tren di Ramadhan, dengan kata lain, faktornya bukan hanya karena bersamaan dengan momen ibadah yang lebih kuat di Ramadhan.

"Momentum religi Islam di Ramadhan lebih panjang dibandingkan agama  lainnya," kata dia. 

Musik religi keislaman memiliki masa sebulan sebelum lebaran. Ditambah lagi durasi saat lebaran dan setelahnya yang jelas lebih panjang dibandingkan agama lainnya.

"Kalau hari agama lainnya durasinya lebih pendek, satu atau dua hari. Kalau musik religi Islam punya momen pra kondisi Ramadhan, saat Ramadhan, lebaran dan setelah lebaran," pungkas pria asal Situbondo ini.

Di pihak lain, Ketua MMI Hengki Herwanto mengaku belum memiliki data rinci perihal perkembangan awal musik religi di Indonesia.

Lanjut Hengki, musik religi Islam dan nuansa gereja berkembang baik di Indonesia. Dalam hal ini, musik qasidah, sholawat, marawis dan paduan suara bernuansa pujian Tuhan sudah lama dikenal masyarakat. 

"Dan saat ini kami juga tengah mengupayakan informasi tentang musik agama lainnya seperti Hindu, Budha atau Konghucu. Lalu kita juga beberapa bulan lalu ada profesor dari Amerika Serikat yang berencana mau meriset musik Islami di Indonesia," jelasnya.

Dia berpendapat, perkembangan awal musik religi kemungkinan terjadi sekitar 1956. Hal ini diungkapkan berdasarkan label musik pemerintah, Lokananta yang mulai berdiri sejak 1956. Dari sini, kemungkinan besar terdapat satu lagu religi yang hadir di masyarakat Indonesia.

Temuan musik pertama di Indonesia yang diperoleh dari relief Candi Jago di Tumpang, Kabupaten Malang. Di relief peninggalan Kerajaan Singosari tersebut ditemukan empat instrumen musik yang salah satunya berupa dawai.

"Dan itu masih tanda tanya apa musiknya religi atau bukan," tandasnya. (nat/dbs/foto:dream)

 


Back to Top