Kini Ada 'Rukun' Baru Haji dan Umrah

(gomuslim). Sejak lima tahun terakhir, secara diam-diam rukun haji dan umrah bertambah satu lagi. Dalam setiap ritual haji dan umrah secara massif dipraktikkan 'amalan baru' yang dilakukan sebelum dan sesudah melaksanakan ritual, yang seolah tidak afdhal tanpa disertai 'selfie'. Aktivitas ini jelas tidak ada dalam manasik haji dan umrah tetapi diamalkan secara serentak dengan intensitas tinggi bahkan sudah mirip sunnah ‘qobliyah’ dan ‘bakdiyah’ yang mengiringi ibadah wajib.

Sedemikian menggejalanya kegiatan selfie dalam haji dan umrah, sampai-sampai ketika terjadi cobaan bertubi-tubi pada musim haji 2015 lalu, dari badai angin berpasir, ambruknya crane di Masjidil Haram dan musibah Mina dengan ratusan korban wafat dan cidera, jemaah tetap dapat berselfie, bahkan menjadikan semua kejadian sebagai latar berfoto ria. Fenomena ini kemudian menjadi ‘headline’ di harian‘Arab News’ dengan laporan berjudul besar: “Say No To Hajj Selfie” dan yang mengejutkan, kebanyakan mereka diketahui berparas Indonesia.

Dalam laporan tersebut, haji selfie itu digambarkan dengan banyaknya jemaah dan kelompok jemaah yang seolah berdoa di samping Kakbah, namun setelah beberapa detik terdengar ‘jepret-jepret’ ternyata sedang pengambilan foto belaka. Di Arafah pun jemaah banyak yang berduyun menuju Jabal Rahmah yang diyakini sebagai titik bertemunya kembali Nabi Adam dan Siti Hawa. Di setiap jengkal tempat dan setiap saat selalu ramai jemaah berselfie. Ribuan dari 2,5 juta lebih jemaah haji ‘terdampak’ virus selfie di tempat-tempat yang disucikan selama pelaksanaan haji. Akibatnya, bukan saja mengganggu jemaah lain yang benar-benar ingin beribadah tetapi juga menodai tujuan utama mendatangi panggilan ilahi dalam berhaji dan berumrah.

Meski belum ada fatwa resmi dari Kerajaan Arab Saudi, namun sejumlah ulama sudah mengeluarkan imbauan untuk tidak berselfie di tempat-tempat ibadah apalagi kemudian mempublikasikan. Seorang ulama di Mekkah mengeluarkan hujjah (pendapat hukum) tentang selfie di tempat ibadah kemudian mempublikasi ke media sosial di sejajarkan (qiyas) dengan perbuatan riya’ atau pamer amal ibadah dan ujub (membanggakan diri atas perbuatan baiknya)  jelas dilarang agama. Merujuk pada sebuah hadis yang menyatakan bahwa, “Tiga dosa pembinasa yaitu sifat pelit yang ditaati, hawa nafsu yang dituruti, dan ujub seseorang terhadap dirinya.” (HR. Thabrani dari Anas bin Malik). Juga sebuah hadis, “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertaqwa, yang berkecukupan, dan yang tidak menonjolkan diri.” (HR. Muslim dari Abu Said al-Khudri), maka berselfie kemudian mempublikasikan dilarang dan dapat merusak niat utama berhaji. 

Adapun berselfie lalu menyimpan foto tanpa dipublikasikan di media sosial, tentu saja tidak berpotensi menimbulkan sikap riya’ dan ‘ujub, namun kegaduhannya menimbulkan gangguan di tempat ibadah. Itulah sebabnya sejak sebelum musim foto digital dan smartphone mewabah, pengelola Masjidil Haram dan Masjid Nabawi sudah memasang papan larangan mengambil foto di area dalam masjid. Sampai hari ini papan pengumuman dalam berbagai bahasa itu masih tertampang jelas tetapi dipandang seperti hiasan dinding yang tidak bermakna.

 

Haji Tempo  Dulu

Pelaksanaan haji seperti tergambarkan saat ini tentu kontras sekali dengan keadaan perjalanan haji di waktu silam ketika media sosial belum menjadi bagian keluarga inti banyak orang dan gadged belum sepintar hari ini. Saat itu jemaah haji tidak sibuk berfoto pada setiap jengkal berpindah tanah dipijak, jika pun ada di antara jemaah yang mengambil foto biasanya jauh dari tempat-tempat yang disucikan.  Lebih jauh lagi kebelakang, mereka yang mempunyai perhatian khusus tentang peristiwa haji biasanya menuliskan pengalaman haji tersebut sebagai sebuah karya tulis seperti “Orang Jawa Naik Haji”, (Danarto, Jakarta: Graffiti, 1984), “Tamu Allah”, (Sobari, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996), “Menapak Jejak Nabi”, (Mahrus Ali, Jakarta: Dumas, 2005) dan lainnya.

Pada awal kemerdekaan, ketika perjalanan haji masih menggunakan kapal laut yang butuh berhari-hari untuk sampai ke Jeddah dan untuk kembali ke tanah air, ada sedikit di antara jemaah yang menggambarkan perjalanannya dengan catatan lengkap  dalam bentuk memoar seperti dilakukan  Hamka (Mandi Tjahaja di Tanah Sutji, 1951), Saiful UA ( Hati Terpikat di Tanah Sutji, 1954),  Rosihan Anwar (Memenuhi Panggilan Ibrahim, 1957), Asrul Sani (Pertemuan Pertama di Baitullah, 1963), Misbach Yusa Biran (Sutradara Film Naik Haji, 1964) dan lainnya.

Dulu, untuk  dapat menggambarkan keadaan haji seorang jemaah haji harus berposisi seperti seorang peneliti partisipatif (kualitatif), bahkan ada yang bersikap seperti seorang detektif dalam menjalankan prosesi ibadah. Rosihan Anwar misalnya, dengan latar seorang wartawan, ia dengan cermat dan berani mengatakan wahwa telah terjadi malservice atau pelayanan yang buruk dari para syekh (muthawwif atau pembimbing haji)  sebagai petugas haji di Arab Saudi (keadaan seperti ini terus terjadi sampai sekarang). Bahkan Rosihan tidak dapat menyembunyikan perasaan jengkelnya mendapatkan seorang ‘tourguide’ yang menyebalkan hingga setiap melihat tampangnya, Rosihan langsung terbayang wajah Jhon Carradine, seorang aktor Hollywood yang biasa berperan sebagai bandit di film-film tahun 1960-an (Chambert, 2013: 1009)  .

Memperhatikan suasana haji tahun belakangan yang terkesan riang gembira, mengingatkan kita pada keadaan jemaah haji sebelum kemerdekaanyang memilukan. Kepiluan itu setidaknya tampak jelas dalam penelitian Dien Majid (Haji Masa Kolonial, 2008) berdasarkan catatan haji yang masih tersimpan di perpustakaan KITLV Belanda. Digambarkan, ketika berangkat, tidak sedikit jemaah haji dari Nusantara yang terjebak calo kapal hingga hanya sampai di Singapura saja. Di negeri pulau kecil ini, sebagian jemaah kemudian ditawari sebagai pekerja kebun di sebuah kepulauan agar mendapatkan dana untuk meneruskan perjalanan ke Jeddah, namun ada yang tidak pernah keluar dari perkebunan. Ada juga yang terpaksa kembali lagi ke kampung halaman hingga pada masa itu terkenal dengan sebutan ‘Haji Singapur’.

Mereka yang selamat sampai tujuan dapat melaksanakan ibadah haji ketika kembali ke tanah air pun masih harus menghadapi pelayanan buruk di kapal. Dalam dukumen yang ditelusuri Dien Majid, sebagai gambaran, diceritakan bahwa kapal yang membawa jemaah dari pelabuhan Jeddah berangkat menuju Batavia pada 7 Agustus 1893 transit semalam di Aden (Yaman) kemudian berlayar dua hari sampai di tengah laut.  Sekira pukul 17.00 kapal dihajar badai dahsyat. Kapten kapal tak memberi tahu akan datangnya badai sehingga pintu terbuka dan orang-orang di kapal riuh, berhimpit-himpitan dengan peti, hingga ada yang kepalanya pecah, kakinya putus, atau terhempas ke laut. Dalam satu malam, seratusan orang tewas. Mereka dibuang begitu saja ke laut tanpa disembahyangkan atau dikafani.

Haji pada masa lampau yang penuh cucuran keringat dan air mata, sungguh sangat berbeda dengan situasi haji pada hari ini yang bertabur senyum dan tawa. Kini kita menjadi paham bahwa berangkat haji pada masa alu itu sungguh merupakan suatu pekerjaan yang maha berat, maha sulit dan oleh karenanya menjadi maha indah dan yang berhasil kembali ke kampung halaman menjadi semacam ‘jimat’ di tengah masyarakat. Hanya mereka yang berniat kuat dan berkemampuan luar biasa saja yang bisa berangkat, sementarapada hari ini, yang marak menyertai perjalanan suci tersebut adalah deretan foto-foto selfie dan narsis sejak mulai berangkat bersama sanak keluarga, di tempat-tempat keramat di tanah suci hingga ke tanah air kembali bertemu keluarga dengan senyum dalam kamera. Boleh saja berselfie sebagai cara paling sederhana mencatat atau mendokumentasi perjalanan, tetapi tentu harus proporsional dan tidak sampai menyetarakan dengan rukun yang wajib dikerjakan di setiap tempat dan waktu.

Demikianlah, zaman telah melahirkan umatnya, namun seriang-riangnya yang berselfie haji masih beruntung yang mampu menahan diri dan ingat tujuan utama berangkat ibadah. Semoga selfie tidak mengganggu haji dan umrah kita. Wallahu’alam. 

 

MAHRUS ALI, MA

Pengurus Pusat Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia


Komentar

  • multazam

    14 Maret 2016

    masya allah

    Trnyata bgt...benar jg yaa...seakan jd rukun krn wajib selpi


    Reply






















Tulis Komentar


Back to Top