Mayoritas Penduduk Muslim, Mangapa Bank Syariah Sulit Berkembang?

Lembaga Keuangan Syariah (LKS), misalnya bank syariah, bertujuan mengejar profit ukhrawi dan duniawi. Hal ini sebenarnya menjadikannya lebih logis ketimbang bank konvensional. Lalu mengapa Bank Syariah pertumbuhannya pelan di kisaran 4-5% padahal di Pakistan dan Malaysia stabil di kisaran 10%. Bahkan Malaysia Islamic Bank sudah siap masuk Indonesia. Ada apa dengan masyarakat Islam di tanah air? Apakah ini terkait dengan anggapan Bank Syariah tidak memberi 'profit', atau ada sebab lain?

Setelah menulis buku “Ini Lho Bank Syariah” (PT Grafindo, 2008) saya memang sering menerima pertanyaan dari pembaca tentang hal tersebut. Misalnya, “Sejauh mana lembaga-lembaga keungan berbasis syariah mengakomodasi prinsip-prinsip syariah mengingat lembaga ini dituntut pula untuk berkompetisi dalam mendapatkan dan memberi keuntungan dibanding lembaga-lembaga keuangan konvensional?”

Dalam kesempatan di gomuslim ini, saya ingin kembali menegaskan, bahwa hal itu adalah sejauh ikhtiar manusia edisi sekarang yang dihadapkan pada kenyataan bahwa mekanisme sistem berbasis tidak logis sudah terinstall kuat dan dianggap normal.

Apakah lembaga keuangan syariah sudah mengakomodir prinsip Syariah? Yang jelas pada prinsipnya sudah. Penerapan tersebut dalam kondisi yang terbaik di zaman ini dan dengan segala keterbatasan yang terpaksa harus ada.

Pilihan kata-kata “sejauh mana mengakomodasi prinsip syariah mengingat embaga ini dituntut pula untuk berkompetisi…” Menapa ini dikaitkan? Koq Seakan-akan berprinsip syariah ini ada yang kontradiktif dengan berkompetisi.

Syariah sisi Muamalah bab buyuu’ (jual beli) sub bab keuangan dan sub sub bab lembaga keuangan ini simpel saja menjalankan yang ditetapkan Syara’, yakni apa saja boleh dilakukan asalkan tidak terlarang. Itu adalah prinsip yang dikenalkan ilmu usul fikih atau metode hukumnya.

Setelah dicermati ternyata aturan Muamalah ini (selain yang dilarang), adalah hal hal logis. Menapa sebagian besar kita tidak milih hal ini, hal itu karena sebagian besar dari kita tidak siap dan tidak menyiapkan diri untuk logis sejak dalam pikiran hingga keputusan atau tindakan.

Benar, bahwa Bank Syariah bertujuan untuk mendapatkan ‘falah’ alias kemenangan. Sederhananya, kalau ingin mendapatkan profit, maka harus mengikuti logika dan skema profit. Kalau menggunakan skema nonprofit maka jangan minta profit. Sesederhana demikian. Dalam hal ini statistik membuktikan bahwa 95% dari kita tidak mau mengikuti logika ini.

Prinsip-prinsip Syariah yang diterapkan Bank Syariah sebagaimana tersebut, Saya ulangi lagi, “Kalau ingin profit kita harus mengikuti logika dan skema profit. Kalau menggunakan skema nonprofit maka jangan minta profit.”

Dalam perkara ini ada azas transaksi syariah, maqashid syariah dan lain lain, pasti akan seiring sejalan dengan prinsip yang logis tadi. Ada misi keseimbangan dunia akhirat, persaudaraan, dan lain lain. Tentu urusan akad juga harus clear hak dan kewajibannya.

Pendek kata, mau profit oriented boleh. Nonprofit oriented silahkan. Asalkan keduanya dijalankan sebagaimana mestinya maka akan menghadirkan ‘falah’ oriented.

Nah, karena bid’ah dalam sistem perbankan yang logis ini sangat boleh, maka sangat boleh juga Bank Syariah bikin skema skema kompetitif agar lebih laku. Namun sayang ketika tertemukan bahwa praktisinya sendiri gagal paham. Oleh karena itu semua pihak termasuk praktisi harus semakin memahami konsep dan praktik dan juga cara mengkomunikasikannya kepada publik.

Yang perlu dicatat juga, tidak ada yang kontradiktif antara falah oriented dengan profit oriented dan nonprofit oriented. Kompetisi ranah profit oriented memang lumayan terjal. Jadi Bank Syariah harus meningkatkan daya saing bisnis agar memperoleh falah oriented baik dari sisi profit oriented maupun nonprofit oriented.

Mari kejar profit oriented secara total dan logis untuk menciptakan falah oriented di Bank Syariah atau boleh juga memancing profit oriented dengan nonprofit oriented di Bank Syariah. Apalagi kita ketahui bahwa akad Bank Syariah itu lebih logis dibandingkan akan Bank Murni Riba yang tidak logis.  Ini adalah nilai kompetitif dari Bank Syariah yang berlawanan dengan Bank Konvensional.  Jika sudah demikian tidak laku juga,  jangan-jangan praktisinya yang gagal paham sehingga gagal memahamkan Nasabah, karena menurut hukum alam: respon muncul dari stimulus. Maka, kembali kepada yang memasarkan Bank Syariah kepada masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim ini.

AHMAD IFHAM SHOLIHIN, Direktur Amanah Shariah Consulting,Menulis 8 Buku tentang Bank Syariah.


Komentar

  • asnal

    8 April 2016

    salam

    iya pak.praktisi dan marketing nya yg gagal paham


    Reply






















  • hamba Allah

    20 Maret 2016

    peddihnya hatiku

    United KenyattaAnn....instead.... umat. Islam hrs diedukasi. Gomuslim sdh. Lakukan..... selamatyaaaaaa


    Reply






















  • Tulis Komentar


    Back to Top