Hijab dan Kehormatan bagi Muslimah

Bersyukurlah bagi perempuan yang dilahirkan dalam keadaan muslimah, menganut Islam sebagai jalan iman, sebagi cara hidupnya sepanjang masa. Perempuan di dalam Islam berada di tempat terhormat. Dahulu kala, dalam masyarakat pagan Yunani, perempuan menjadi salah satu sajian pengorbanan bersanding dengan benda-benda lain yang turut dikorbankan dalam agama mereka. Bangsa Yahudi memisahkan perempuan mereka di kala haidnya. Perempuan menstruasi dijauhkan dari lingkungan umum, terkucil karena dianggap najis dan jijik.

Tetapi Islam tidak demikian, Islam hadir mengubah asumsi dan perspektif kebudayaan dua masyarakat itu.

Dalam Al Quran ada satu surat khusus yang mambahas tentang perempuan dan diberinama jenis kelamin gender perempuan. Kenapa ada surat yang bernama Perempuan? Karena Allah dan Nabi yang diutus Nya memuliakan perempaun. Perempuan memilki kodrat yang mulia, ia punya 3 tingkat di atas lelaki. Sebagai mana hal ini ada dalam surah Lukman (31) ayat 14;

“Berbuatlah baik kepada kedua orang tuamu, terutama kepada Ibumu yang telah mengalami tiga jenis kelelahan yang amat sangat, yaitu ketika mengandung, melahirkan, dan menyusui hingga dua tahun. Berterimakasihlah kepadaKu dan kepadanya..”

Itulah gambaran penghormatan Islam terhadap sosok perempaun yang memiliki peranan begitu dahsyat dan luar biasa dalam kehidupan manusia. Untuk itu pula, Islam menganjurkan kepada anak manusia untuk menghormatinya sebagai bentuk birrul walidain (berbakti kepada orangtua).

Apakah di dalam Al Quran ada surat Ar Rijal, laki-laki? Tidak ada.

Penghormatan teradap posisi dan peran yang dimiliki perempuan ini, tidak serta merta berhenti di sini, karena ia sosok makhluk yang terhormat secara syariah, maka Allah sebagai Syari’ (pengatur) menurunkan seperangkat aturan dan cara hidup islami bagi perempuan—yaitu Jilbab.

Jilbab adalah sejanis pakian dari leher hingga kaki yang menutup aurat perempuan. Pakain ini harus menutupi tubuh dari bentuk lekuk-lekuknya. Bagi perempuan menutup aurat ini menjadi syarat untuk menikmati aroma syurga. Sebuah hadis mengatakan, “Siapa yang mengumbar auratnya di depan umum, haram baginya mencium aroma syurga.”

Perspektif Al Quran dan Hadis bagi perempuan yang berhijab dan berjilbab adalah sama dengan wanita melaksanakan shalat. Berhijab merupakan pantulan cermin dari kesempurnaan ibadah shalat yang didirikannya. Tentunya akan merisaukan jika ada seorang wanita muslimah taat menjalankan shalat namun tidak berhijab. Sama juga merisaukan jika ada wanita berhijab tapi tidak melaksanakan shalat. Lalu bagaiamana ia menemukan alasan tidak shalat sementara ia berhijab?

Saya merasa bukan yang paling suci, dan paling taat disini, atau lebih pantas masuk surga—untuk menyampaikan pesan ini. Bisa jadi orang yang disayang Allah adalah mereka yang tekun dengan profesinya dan berusaha menjalankan aturan-aturan yang telah menjadi ketetapan agama baginya meski berat dan terbelenggu.

 

Perempuan muslimah yang berhijab, sebenarnya, ia telah memenuhi syarat untuk memperoleh pasangan, jodoh, pendamping hidup yang shaleh dan baik budipekertinya (akhlak), setia, dan membahagiakan. Ia lebih pantas memperoleh “paket” kehidupan yang penuh dilimpahi berkah dan keberuntungan.

Namun, seharusnya seorang suami yang shaleh akan mengatakan, wahai istriku engkau tercipta bukan dari tulang kakiku sekiranya bisa aku tendang dan injak seenaknya, wahai istriku engkau tidak tercipta dari tulang lenganku yang serta merta aku pukul begitu saja. Tetapi ia akan mengatakan wahai istriku engkau tercipta dari tulang rusukku yang dengannya aku harus menghargaimu dengan perasaan, aku lindungi kamu, aku kasihi kamu dengan penuh cinta dan kasih sayang luar biasa.

Status kita sebeagai mana tertera dalam QS Annur (24):26 berpengaruh kepada jodoh kita.  Disebutkan di sana, “Wanita yang suka berzina akan dipasangkan dengan pria yang suka berzina, lelaki yang suka berzina akan Allah pasangkan dengan perempuan yang suka berzina. Sebaliknya, perempuan yang baik-baik, shalehah akan dikawinkan dengan lelaki yang shaleh. Dan lelaki yang shaleh dipasangkan dengan perempuan yang shalehah.”

Otomatis attitude, sikap dan perilaku perbuatan kita menentukan kadar masadepan hinngga ke persoalan jodoh. Nah, bagi seorang remaja perempuan yang sudah bertekad mengenakan hijab, berarti ia telah mendaftarkan diri untuk masuk kedalam golongan yang beruntung hidupnya; hidup penuh limpahan berkah, didampingi pasangan yang baik akhlaknya.

 

Seperti Apa Jilbab Itu?

Ada banyak fashion dalam berjilbab. Tapi jilbab bukan sekedar sebagai fashion. Jilbab adalah persoalan aturan syariah yang menjadi ketentuan bagi muslimah yang harus ditaati. Jilbab itu fardlu dalam hukum syariah, jauh lebih tinggi dari pada wajib, berarti meninggalkannya bagi seorang muslimah adalah berdosa. Meski masih ada khilafiyah, sebagian ulama ada yang mengatakan jilbab itu tidak wajib. Ia mengatakan jilbab ini budaya Arab, sehingga kadar tasyri’nya belum sampai pada taraf wajib. Tetapi yang jelas kriteria Jilbab itu sudah dijelaskan dalam Al Quran.

Ada dalil yang menuntunnya sebagaimana tertulis di QS Al Ahzab : 59 “Wahai Nabi, katakan kepada istri-istrimu, dan anak-anak perempuanmu, kepada para perempuan mukmin agar melebarkan memanjangkan ke bawah kain penutup tubuhnya .. dst.” Mari kita pahami dan gali kandungan ayat tersebut.

Di sinilah jilbab ini berbeda dengan kerudung atau himar. Jilbab adalah pakain yang panjang dari leher menutupi sampai mata kaki. Artinya jilbab adalah pakaian lebar, tidak ketat, tidak membentuk lekuk tubuh, dada dan paha, semua tertutup, yang panjangnya dari leher hingga kaki. Jadi wanita muslimah juga wajib menutupi kakinya, caranya bisa dengan mengenakan kaos kaki. Jika kaos kaki itu dianggap bisa menutupi kaki maka itu juga jilbab. Jilbab secara syar’i bukan kain yang menutup kepala, tetapi yang menjulur dari leher hingga ke kaki. Sebagaimana dikatakan di ujung ayat yang dirujuk tadi (QS:33:59) karena yang demikian itu (pakaian jilbab) menjadi identitas bagi perempuan muslimah, dan tak memberi kemudahan bagi kaum lelaki untuk mengganggu.

Jilbab selain adalah ketetapan syariah, ia dapat mengundang berkah Allah bagi pemakainya. Hendaknya jilbab membuat wanita semakin dicintai Allah, bukan mengundang simpati atau memikat mata-mata kaum lelaki.

Kemudian, kalau pakaian dari leher ke bawah tadi disebut jilbab, maka yang di atas dan menutupi kepala disebut himar. Itulah yang dimaksud krudung yang menutupi kepala sampai dada (QS: 24: 31)

“Hendaklah perempuan itu menjatuhkan kain krudungmu sampai menutupi dada...”

Bagaimana dengan jilbab-jilbab fashion masa kini? Islam itu menghargai keindahan. Allah menyukai keindahan—“Innallaha Jamiilun wayuhibbul jamaalah”. Tetapi keindahan dalam berhijab itu ada batas-batas syariahnya. Antara lain tidak bolek berlebihan.

Sebenarnya Jilbab memiliki tujuan syariah yang maslahah (bernilai baik dan menjaga kelangsungan hidup) bagi manusia. Sebagiamana ditetapkannya syariah itu antara lain ialah untuk menjaga kerusakan menimpa manusia; kerusakan akal, kerusakan badan, kerusakan harta, kerusakan keturunan, dan kerusakan moral/ agama. Secara khusus jilbab memelihara perempuan dari perbuatan atau gangguan kaum laki-laki. Lebih juah lagi hal itu akan melindungi perempuan dari lima kerusakan tadi.

 

Batasan-Batasan (Hududut Tasyri’) Jilbab

Dalam berjilbab, semua tubuh perempuan adalah aurat kecuali muka dan telapak tangan. Bahkan suara pun ada khilafiyah yang menganggap sebagai aurat. Kriteria suara perempuan dikatakan sebagai aurat ialah bila suaranya dipergunakan untuk memikat lawan jenis, untuk menggoda kaum Adam, seperti dalam phone sex/cyber sex yang di situ suara perempuan dikomersialkan, dan secara ekstrim dibuat untuk menjerumuskan lelaki kedalam kenistaan, yaitu masturbasi. Keduanya sama-sama bersalah dalam agama dan berdosa.

Soal suara perempuan ini Aurat, mari Buka QS Al Ahzab (33) ayat 32:

“Ketika perempaun bicara di depan umum, Jangan mengecil-ngecilkan suara...,” maksudnya ialah jangan bergenit-genit. Wanita yang berjilbab adalah wanita yang bisa mejaga tingkah laku, suaranya, serta kepribadiannya agar tidak menimbulkan rangsangan kepada orang lain. Dengan kata lain yang demikian ini lah yang dikatakan mengenakan jilbab—bukan sekedar fashion.

Perempuan boleh berpakaian apa saja, asal menutupi aurat atau lekuk tubuhnya—boleh memakai celana tetapi baju yang dikenakan harus panjang sekiranya menutupi pinggul dan paha atasnya.

Lalu apakah boleh wanita memakai perhiasan asesoris di jilbabnya? Pemakaian yang berlebihan itu tidak boleh dalam syariah karena jatuh ke hukum tabarruj. QS Al Ahzab: 33 “Hendaknya perempuan jangan keluar rumah, dan jangan bertabarruj.. “ maksudnya ialah bersolek berlebihan, memakai lipstik, bulu mata palsu, cukur alis,bulu mata palsu. Di dalam Islam itu semua termasuk tabarruj dan tidak diperbolehkan secara syariah.

Kadang kita masih menjumpai ketika ada penganten baru, mempelai perempuan dicukur alisnya. Padahal yang demikian itu dilarang oleh Nabi SAW, “Allah melaknat perempuan yang mencukur alisnya ..”, “Allah melaknat wanita yang mencabut alis dan yang minta dicabutkan rambut alisnya,” HR. Bukhori 4886, 5939 /Muslim 5538. Termasuk mengkikir gigi, menyambung rambutnya, karena itu mengubah ciptaan Allah. Mengubah ciptaan/fisik perempuan (tanpa alasan yang dibenarkan syara’) dan berdandan berlebihan itu termasuk tabarruj dan tidak diperbolehkan oleh Islam (Haram).

 

Sebuah penelitian di AS pernah mengatakan, setiap harinya ada 7 dari 10 perempuan yang mengalami pelecehan seksual, gara-gara pakaiannya mengumbar aurat, terlalu terbuka secara ekstrim. Rupanya pakaian perempuan yang terlalu ekstrim terbuka, atau menonjolkan bagian tertentu dari tubuh perempuan seperti dada, pantat, paha dan pangkal paha, dapat mendorong rangsangan yang luar biasa pada diri seorang lelaki normal.

Seorang pria yang baik-baik saja, tapi ia masih dianugrahi perasaan dan emosi yang normal, akan tergugah ke arah agresivitas seksual manakala ia sering dipertontonkan tubuh perempuan secara erotis, pronografi dan ekstrim pornoaksi. Lingkungan masyarakat yang bebas juga dihuni para pria yang normal sementara perilakuk penghuninya terutama perempuannya mengumbar aurat secara bebas, maka akan terbentuk lingkungan yang dipenuhi moral ekstrim, perilaku kriminal dan menyimpang.

Islam tidak menginginkan adanya lingkungan sosial yang demikian. Karena itu, di dalam Islam, tidak ada pacaran, lelaki dan perempuan yang belum muhrim aqdi (nikah), haram berpegangan tangan. Pegangan tangan antara lelaki dan perempuan yang bukan muhrim dapat menghantar aliran listrik 280 volt yang berupa rangsangan erotis, dan keterkejutan-keterkejutan halus yang membawa imajinasi ke masing-masing pihak untuk melakukan hal-hal yang tak wajar, uncontrol, misalnya rabaan dan usapan yang memicu saraf seksual naik, stimulasi otak mengarahkan untuk bertindak tak senonoh.  Terjadilah saat itu tindakan kemaksiatan, fakhisyah (perbuatan kotor), dari kedua belah pihak. Sebuah perbuatan yang sama-sama merugikan dan menimbulkan kerusahan bagi perempuan dan lelaki.

QS Annur (24) ayat 30 menjelaskan kepada kaum laki. “Katakan kepada kaum lelaki, agar menjaga pandangannya...” Sampai disini kaum lelaki harus menjaga pandangan dari memandang perempuan yang bukan muhrimnya, gambar yang membuka aurat. Bagi lelaki, ketika di hadapannya ada perempuan yang membuka auratnya maka pandangannya cukup sekali saja. Dan segeralah berpaling. Yang demikian itu lebih mensucikan hatinya seperti ditekankan dalam ayat 30 tersebut.

Lalu kedua, QS Annur (24) ayat 31 untuk perempuan ; “Katakan kepada perempuan, jagalah pandangan kalian, dan lindungilah (jagalah) kemaluan...”

Ada dua lubang yang dapat mendatangkan malapetaka bagi laki dan perempuan yang tidak dapat menjaganya, yaitu lubang famun (mulut) dan Farjun (lubang kemaluan). Maka jilbab adalah pakaian yang menghindarkan kita dari potensi berbuat zina. Inilah hikmah tasyri adanya jilbab agar perempuan muslim mudah dikenali dan tidak diganggu oleh kaum lelaki serampangan. (boz)

 

*)  Reza Muhammad, Disampaikan dalam ISLAMOTION 2016 - LSPR Federation of Muslims Student Jakarta, 16/04/2016

 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top