Islam, Kartini dan Kartono

Peringatan Hari Kartini tahun 2016 ini diwarnai kehebohan lain di media sosial dengan munculnya pemberitaan, bahwa seorang cucu RA Kartini ternyata kini dikenal sebagai seorang pastor di Surabaya. Seolah ada ketidakterimaan dari masyarakat luas karena RA Kartini yang putri Bupati Jepara itu dikenal sebagai keluaga muslim taat, bahkan kakek dan neneknya dari jalur ibu adalah ulama, yaitu Nyai Haji Siti Aminah dan Kiai Haji Madirono, dari Telukawur, Jepara.

Cucu tersebut adalah Prof Dr KRMT John Tondowidjojo Tondodiningrat, seorang pastor di Paroki Kristus Radja, Surabaya dan guru besar di Ubaya. Ia adalah cucu RA Kartini dari kakaknya, Sosroboesono. Fenomena Romo Tondo ini makin menegaskan bahwa sesungguhnya masyarakat ‘menginginkan’ keislaman Kartini lebih jelas, tidak tergores sinkretisme, abanganisme, kabatinan apalagi di luar itu.  

Tulisan ini tidak mereaksi kegaduhan tersebut tetapi sedikit mengulas sisi-sisi keislaman dalam kehidupan Kartini dan Kakaknya, Sosro Kartono, manusia jenius yang dikagumi dunia namun dilupakan dalam sejarah nasional kita.

Tidak disangkal bahwa dalam catatan-catatan tentang Kartini, terutama yang diteliti dari surat-surat kepada para sahabatnya di Eropa, tampak corak pemikiran progresif revolusioner tentang berbagai gejala sosial di sekitarnya, termasuk tentang ketuhanan dan seputar pengajaran Islam di lingkungan kadipaten.

“Bagaimana aku dapat mencintai agamaku kalau aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya. Alquran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Di sini tidak ada yang mengerti bahasa Arab. Orang-orang di sini belajar membaca Alquran tapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak mengerti apa yg dibacanya.”[Surat kepada Stella, 6 Nov 1899]

Sikap kritis Kartini ini terkait kebijakan pemerintahan Hindia Belanda, umat muslim memang dibolehkan mengajarkan Alquran dengan syarat tidak diterjemahkan alias hanya belajar baca huruf arab saja. Pengaruh ini masih dapat kita jumpai saat ini, Alquran dianggap selesai ketika telah mampu membaca dengan lancar walaupun tidak paham maknanya.

Hingga suatu ketika, Kartini berkunjung ke rumah pamannya, Pangeran Ario Hadiningrat, seorang Bupati Demak. Saat itu sedang berlangsung pengajian bulanan khusus untuk anggota keluarga. Kartini ikut mendengarkan pengajian bersama wanita lain dari balik tabir dan tertarik pada materi yang sedang diberikan, yaitu tafsir surat al-Fatihah, oleh Kiai Haji Muhammad Sholeh bin Umar atau Kiai Shaleh Darat. Setelah selesai pengajian, Kartini mendesak pamannya agar bersedia untuk menemaninya menemui Kiai Shaleh Darat.

 “Kiai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama (Al-Fatihah), dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?“

Keluarga Kartini belajar agama secara private dengan memanggil seorang guru mengaji ke kadipaten. Ia tidak puas dengan pengajaran yang dogmatis dan indoktrinatif tanpa memberi kesempatan dirinya mengetahui lebih mendalam. Walaupun kakeknya Kiai Haji Madirono dan neneknya Nyai Haji Aminah dari garis ibunya, M. A. Ngasirah adalah pasangan guru agama, Kartini merasa belum bisa mencintai agamanya dengan cara selama ini. Ia terus menggugat.

Setelah bertemu Kiai Shaleh Darat, Kartini mengaku baru mengerti makna dan arti surat al-Fatihah yang sudah dihafalnya sejak kecil. Isinya begitu indah menggetarkan hati. Kemudian atas permintaan Kartini, Kiai Shaleh diminta menerjemahkan Alquran dalam bahasa Jawa, yang kemudian terbit dalam sebuah kitab berjudul Faidhur Rahman Fit Tafsiril Quran jilid pertama yang terdiri dari 13 juz, mulai surat al-Fatihah hingga surat Ibrahim. Buku itu dihadiahkan kepada Kartini saat menikah dengan R. M. Joyodiningrat, Bupati Rembang.

Kiai Shaleh meninggal saat baru menerjemahkan jilid pertama tersebut. Namun, hal ini sudah cukup membuka pikiran Kartini dalam mengenal Islam. Sejak membaca kitab tersebut, Kartini menjadi sangat brilian, pandanganya semakin ‘clear’ tanpa klenik, tanpa sinkreti, dan bebas dari pengaruh theosofi yang sebelumnya menyasar kaum terpelajar pada masa itu.

Puncaknya, dalam setiap tulisan yang dikirim ke Eropa, Kartini menyelipkan cuplikan surat al Baqarah ayat 257, yaitu firman Allah“ …yukhrijuhum minazh-zhulumaati ilan-nuur” yang artinya “mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan (kekufuran) menuju cahaya (Islam)”. Oleh Kartini diungkapkan dalam bahasa Belanda "Door Duisternis Tot Licht". oleh Armien Pane yang menerjemahkan kumpulan surat-surat Kartini diterjemahkan menjadi "Habis Gelap Terbitlah Terang".

Keislamannya jelas, pandangannya makin jelas setelah memahami Alquran dan itulah situasi yang sebenarnya, pencerahan itu justru datang setelah Alquran masuk dalam pemikiran seorang RA Kartini.

 

Kartono

Tokoh lain yang turut memperkuat keislaman RA Kartini adalah RM Panji Sosrokartono, kakak RA Kartini yang lahir pada tahun 1877. Kartono adalah tokoh avantgrade karena capaiannya yang belum tertandingi. Pada 1898, ia menjadi pribumi pertama yang kuliah di luar Hindia-Belanda, Leiden.  Ia cerdas dan menjadi kesayangan para dosen. Menguasai  27 bahasa asing dan 10 bahasa Nusantara.  Di kampus dikenal sebagai pangeran dengan panggilan "De Mooie Sos" alias Pangera Sos yang ganteng. Para dosen dan koleganya memanggilnya 'De Javanese Prins'.

Pada tahun 1917, ia menjadi wartawan Perang Dunia I dari koran Amerika, The New York Herald, perwakilan Eropa.  Pada tahun 1919 menjadi penterjemah tunggal di Liga Bangsa Bangsa. 1921, LBB jadi PBB, ia ketua penterjemah untuk segala bahasa.

Pada 1925 Pangeran Sos pulang ke tanah air. Ki Hajar Dewantara memintanya menjadi kepala sekolah menengah di Bandung. Rakyat berjejal ingin melihat dari dekat sosok terkenal ini, namun yang diminta dari sosok pintar dan ganteng ini hanya ‘air & doa’.  Anehnya banyak yang sembuh. Maka antrian pun makin banyak termasuk bule-bule Eropa berdatangan untuk berobat air putih yang sudah didoai Pangeran Sos. Akhirnya Pengeran Sosrokartono kemudian mendirikan ‘Klinik Darussalam’ di Bandung.

Saat itu, Soekarno muda termasuk tamu yang paling sering datang kepada Pangeran Kartono untuk mendiskusikan berbagai hal. Orang cerdas bertemu dengan orang cerdas, lalu gagasan-gagasan besar mengalir.

Sementara Soekarno menjadi Presiden RI pertama, Pangeran Sos terus berkhidmat kepada masyarakat dengan keahlian yang tidak dimiliki dokter mana pun saat itu, hingga pada tahun 1951 wafat di Bandung dan dimakamkan di Jepara. Di atas nisannya tertulis:  “sugih tanpa bondo, digdaya tanpa aji”: kaya tanpa harta, sakti tanpa jimat. Saat meninggal tidak ditemukan pusaka apa pun, kecuali selembar kain bersulam dengan tulisan huruf ALIF, padahal Pangeran Sos yang di Eropa dikagumi karena kederdasannya itu, sepelangnya ke tanah air dianggap orang sakti karena menjadi perantara Allah dalam mengangkat berbagai macam penyakit manusia.

Itulah kehidupan kakak beradik yang diwarnai dengan nuansa religi sangat tinggi. Hingga menjelang wafat Kartini terus membaca 13 jilid kitab yang dikarang  Kiai Shaleh Darat, demikian juga Pangeran Sosrokartono hingga wafatnya puasa dan shalat lalu melayani pasien hanya dengan air putih yang telah diberi doa. Jalan Islam yang mereka laksanakan, membuat namanya terus harum hingga hari ini.

 

MAHRUS ALI, Pemerhati Sosial dan Kebijakan Publik


Komentar

  • Haryadiningrat

    17 Juni 2017

    Aji pring

    Sosrokartono seorang tokoh kejawen. Setelah dia menemukan dirinya, cara dia menyembah tuhanpun berbeda dengan orang kebanyakan. Sifat welas asih yg menjadi ibadahnya, menjaga pikiran, perkataan, perbuatan, yg dalam bahasa arab disebut dengan shalat. Dan bukan berarti shalat yg sama seperti apa yg dilakukan oleh orang2 dengan memakai gerakan. Oleh karena beliau telah memahami hakikatnya. Adiknyapun berguru pada dia, oleh sebab Sosrokartono adalah orang yg mumpuni. Dia inilah salah satu tokoh yg telah mencapai tataran insan kamil.


    Reply






















Tulis Komentar


Back to Top