Pesantren Modern, Lembaga Pendidikan Lampaui Zaman

Salah satu lembaga pendidikan tak lapuk dimakan zaman adalah pesantren yang konon merupakan reinkarnasi dari model pendidikan mandala zaman Kerajaan Majapahit dengan menghimpun cantrik-cantrik yang secara toponim bergeser menjadi santri. Bahkan sejak beberapa puluh tahun lalu metamorfosa pesantren ini dinilai mendahului zamannya dengan mengadopsi konsep 'highend modernity'. Cantrik atau santri kini tampil berdasi dengan sepatu pentalon dan tetap mempertahankan peci tetapi dapat 'casciscus' berbahasa asing.

Pesantren memang fenomena model pendidikan 'genuine' Indonesia. Dalam sejarahnya, pesantren diakui sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, melalui lembaga inilah kebanyakan intelektual Muslim tanah air mempelajari ilmu agama. Berdasarkan penjelasan dari Pengasuh Pondok Modern Arrisalah, KH. Muhammad Maksum Yusuf, pada awalnya pesantren hanyalah berupa tempat pengajaran agama Islam yang disampaikan oleh seorang kyai melalui ceramah di rumahnya sendiri. Pengajaran agama ini lebih dikenal dengan istilah pengajian, karena pola pengajaran yang disampaikan berupa kajian agama Islam.

Kegiatan belajar dan mengajar seperti ini, lambat laun mendapat perhatian dari masyarakat yang ingin mempelajari Islam. Akhirnya jumlah santri makin bertambah dan tempat yang sedianya dipakai untuk belajar makin tidak mencukupi. Dari sinilah para santri berinisiatif untuk membentuk pondok pesantren.

Pada awalnya pelajaran inti yang diajarkan di pesantren terdiri dari 3 pelajaran pokok yaitu; tauhid, syariah (fikih) dan Tasauf. Sedangkan untuk materi lainnya hanya sebatas pelengkap. Pendidikan ala pesantren dinilai telah membentuk karakter santri yang memiliki rasa hormat terhadap kyainya.

Dari lembaga pendidikan seperti pesantren inilah, banyak bermunculan para kyai yang telah mengamalkan ilmunya di masyarakat. Kyai lulusan pesatren itu pun akhirnya melanjutkan jejak gurunya untuk mendirikan pesantren di daerah masing-masing. Namun pendidikan ala pesantren yang dijalankan, secara turun-temurun berpegang pada tradisi dan pola pendidikan yang sama.

Pada sisi lain, perkembambangan zaman dan ilmu pengetahuan adalah fakta yang tidak dapat dihindari. Dengan demikian lulusan pesantren sulit untuk melakukan pengembangan diri khususnya dalam bidang iptek, karena keterbatasan pengetahuan yang mereka terima. Sistem yang diterapkan pun tidak membentuk mereka untuk berani menggali potensi diri dan mengembangkannya.

Akhirnya beredar rumor yang menganggap bahwa laju perkembangan zaman tidak dapat diimbangi oleh kemampuan alumni pesantren pada umumnya. Alhasil banyak alumni pesantren yang tertinggal jauh khusunya dari segi iptek. Bahkan banyak alumni pesantren yang bingung menentukan arah melangkah setelah lulus. Minimnya pengetahuan umum dan keterampilan, membuat alumni pesantren gugup menghadapi perkembangan zaman.

Hal ini terjadi karena beberapa faktor diantaranya:

  1. Pesantren yang tidak membuka diri untuk mengajarkan materi pelajaran umum;
  2. Pesantren hanya memegang tradisi lama secara mutlak tanpa ingin  mereformasi sistem pendidikan agar dapat mengimbangi laju perkembangan ilmu pengetahuan;
  3. Lembaga pesantren belum memiliki SDM dalam materi pelajaran umum atau pola pendidikanprogressive.

Dari ketiga faktor tersebut, faktor ketiga banyak dialami oleh lembaga pendidikan Islam khususnya pesantren tradisional. Adapun faktor pertama dan kedua, merupakan faktor yang sulit untuk diubah.

Melihat kondisi pendidikan pesantren yang seperti ini, maka pada 1926, embrio Pondok Modern Gontor mulai didirikan oleh KH. Ahmad Sahal kakak dari KH. Imam Zarkasyi. Ketika itu Kyai Sahal tengah merintis Tarbiyatul Athfal pada 20 September 1926 (12 Rabi’ul Awal 1345). Sedangkan Kyai Zarkasyi masih menempuh pendidikan menengahnya di Solo.

Sepuluh tahun kemudian, KH.Imam Zarkasyi, pulang ke kampung halamannya, Gontor, Ponorogo. Setelah tamat belajar dan sempat setahun menjalankan perintah gurunya, Prof. Dr. Mahmud Yunus, untuk menjadi direktur bidang pendidikan di Kweekschool di Padang Panjang, Sumatera Barat. Ketika itu tepatnya pada 19 Desember 1936 (5 Syawal 1355) Kyai Zarkmasyi digaungkan istilah Kuliyyatul Muallimin al-Islamiyyah (KMI), yang berarti Persemaian Guru-guru Islam. KMI merupakan departemen internal pesantren modern yang mengurus hal-hal terkait pengajaran, kurikulum daftar siswa, kelulusan santri, dan tenaga pengajar.

Praktek dan penerapan sistem yang berlaku di KMI, awalnya tidak serta merta diterima, mengingat sistem ini kontras dengan sistem yang ada di pesantren pada umumnya. KMI dibentuk oleh Kyai Zarkasyi, adalah merupakan konsep integrasi dari madrasah modern dan pesantren tradisional. Untuk saat itu, perpaduan seperti ini merupakan hal yang asing dalam dunia pesantren.

Perpaduan antara pelajaran umum dan agama yang disusun oleh KMI, merupakan suatu hal berbeda dengan pesantren lainnya. Selain dari pada itu, Para ustadz termasuk beliau sendiri, wajib mengenakan dasi saat mengajar yang mana hal itu merupakan budaya Barat. Santri dididik di pesantren ini dengan disiplin yang ketat, bahasa percakapan sehari-hari pun harus menggunakan bahasa Arab dan Inggris. Sistem pendidikan yang diterapkan mengacu pada pendidikan mental dan intelektual. Pendidikan mental selalu ditekankan dalam pesantren modern, karena hal ini merupakan hal penting untuk pengembangan potensi santri di masyarakat. Inilah sistem KMI yang diterapkan di pesantren modern yang banyak melahirkan tokoh-tokoh hebat di Tanah Air.

Pendidikan mental adalah modal awal untuk mengimbangi laju perkembangan zaman. Meskipun para santri tidak didikte satu per satu menganai perkembangan ilmu pengetahuan, namun dengan modal pendidikan yang diterimanya di pesantren modern dapat dijadikan sebagai kunci untuk membuka khazanah keilmuan baik agama maupun sains.

Jika dibandingkan dengan konsep pendidikan umum seperti sekolah internasional yang progressive, maka pada satu sisi -khususnya sains- sekolah internasional jauh lebih unggul dibanding pesantren modern. Kendati demikian, santri di pondok modern dilatih mentalnya serta diberi kunci berupa pengetahuan dasar untuk mengembangkan diri di masyarakat. Sehingga dari aspek sosial, mereka berani bersaing tanpa menyampingkan ajaran agama yang pernah diterima semasa belajar di pondok.

Dengan demikian, santri yang lulus dari pesantren modern dapat terjun ke berbagai lini sosial. Mereka tidak canggung untuk bersaing karena mentalnya telah terdidik. Ketika masih menjadi santri pun, mereka dilatih untuk siap memimpin dan siap dipimpin. Sehingga hal ini menjadi modal bagaimana mereka dapat berinteraksi nantinya di masyarakat.

Selain dari aspek pendidikan mental, santri pun diajarkan untuk mengerti bahasa asing yang tidak terbatas pada bahasa Arab, hal ini dinilai sebagai kunci untuk memahami ilmu agama dan sains. Pada sisi inilah letak keunggulan alumni pesantren modern dibanding tradisional. Sehingga mereka dapat mengembangkan wawasannya di universitas dalam negeri maupun universitas  di negara Timur Tengah maupun Amerika dan Eropa.

Sampai saat ini, pola pendidikan yang berlaku di pondok modern sama sekali tidak mengarahkan santri harus menduduki posisi tertentu, atau menguasai satu bidang. Karena pendidikan dalam pondok modern dimaknai sebagai suatu hal positif dan bermanfaat yang membentuk karakter dan mengembangkan wawasan santri. Jadi santri diberikan kebebasan untuk mengembangkan bakatnya dalam berbagai bidang. Menurut KH. Imam Zarkasyi, segala hal yang terlihat dan terdengar merupakan bagian dari pendidikan, maka hal baik dapat diambil serta hal buruk harus dihindari dan dijadikan pelajaran agar jangan terlibat ke dalamnya.

Konsep pendidikan modern di pesantren, pada intinya adalah untuk membentuk karakter generasi penerus Islam yang cerdas dan memegang nilai-nilai agama. Penerapan sistem modern dalam pesantren, bukanlah suatu upaya yang berkiblat kepada Barat, melainkan suatu upaya untuk memajukan umat Islam melalui pesantren dari segi spiritual, mental dan intelektual. Oleh karena itulah, pesantren modern yang sebelumnya lebih populer disebut pondok medern (PM) tetap eksis berdiri menghadapi tantangan setiap zaman, bahkan melampaui.

 

Muhammad Fadli

Alumni dan Mantan Staf Pengajar Pondok Modern Arrisalah Ponorogo

 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top