Islam, Sosialisme Tjokroaminoto dan Kebangkitan Nasional


“Bagi kita (orang Islam), tak ada sosialisme atau rupa-rupa “isme” lain-lainnya, yang lebih baik, lebih elok dan lebih mulia, melainkan sosialisme yang berdasar Islam itulah saja” (HOS Tjokroaminoto)

Sekitar tahun 1930-an banyak sekolah didirikan berdasarkan semangat kebangkitan yang dibawa oleh Haji Omar Said Tjokroaminoto. Silabus dan kurikulumnya didasarkan pada buku “Moeslim National Onderwijs” yang ditulisnya pada 1925. Sokalah-sekolah ini, saat itu, mengajarkan arti kemerdekaan, budi pekerti, ilmu umum, dan ilmu keislaman. Tjokroaminoto menganggap asas-asas Islam sejalan dengan demokrasi dan sosialisme. Sebuah logika yang sebenarnya bertolak belakang dalam pikiran Kapitalisme awal. Karena itu, menurutnya, kaum bumiputra harus dididik menjadi muslim yang sebenarnya untuk mencapai cita-cita kemerdekaan.

Tjokro meyakini Islam banyak mengandung nilai-nilai Sosialisme. Hal ini dapat dipahami dengan baik jika kita membaca buku karangannya “Islam dan Sosialisme”. Dalam buku yang bisa dikatakan magnum opus-nya dalam pemikiran sosialisme Islam, ia banyak mengutip ayat Al Quran dan Hadis. Dengan meletakkan dasar-dasar Sosialisme dari asas-asas Islam, Tjokroaminoto tidak segan-segan menyerang Sosialisme Marxisme. Menurutnya, Karl Marx dengan jelas menyangkal keberadaan Tuhan, malaikat, roh, dan perkara lain yang diajarkan oleh agama. Karuan saja, kritik Tjokro ini bisa dibenarkan. Sebab pemikiran Karl Marx secara filsafat adalah pembalikan (antithesa) dialektis atas gagasan Hegelian. Filsafat Hegel nyaris bisa dikatakan sebagai gagasan revolusi terpendam yang terlalu soleh bagi Karl Marx—di mana dalam faktanya menguntungkan kaum borjuis kapitalis, dan menyisakan penderitaan pada kaum miskin-proletar. Sehingga Marx perlu mengangkatnya menjadi teori-teori revolusioner. Sementara, sebagai pembacaan latar belakang, Agama saat itu melakukan perselingkuhan dengan kelompok borjuis dalam mengeksplotasi kaum mustad’afin (miskin papa) ini.

Hal sama juga terjadi di dalam Islam, ia menyimpan asas-asas gagasan revolusioner, tetapi kurang terangkat menjadi greget zaman. Sehingga Omar Said merasa terpanggil untuk menggalinya kembali menjadi visi pergerakan yang kini telah menjadi ideologinya tersendiri. Apalagi saat itu, Agama adalah “rumah” bagi kelompok-kelompok yang dianggap menerima keuntungan dan kenikmatan dari sistem yang ada, yaitu sistem pemerintahan Kolonial Belanda, maupun kelompok-kelompok yang mengalami penderitaan akibat sistem kolonial tersebut. Sehingga wajar, saat organisasi SI dipimpin Tjokro ia menyedot ribuan massa untuk bergabung. Sementara itu organisasi Boedi Oetomo (1908), yang telah berdiri dan diharap menjadi organisasi revolusioner kaum bumi putra, mengalami layu bunga buah tak jadi. Kepemimpinan kaum priyayi, kelompok kelas yang ditentang sendiri oleh Tjokroaminoto, dianggap berkontribusi pada lemahnya daya kristis organisasi terdidik ini terhadap sistem pemerintah kolonial.

Asas Prikemanusiaan sebagai Dasar Sosialisme Islam

Lagi-lagi, dalam menguatkan gagasan Tjokro mengutip sebuah ayat “Kaanannasu ummatan wahidatan”untuk memahamkan asas yang mendasari pikiran Sosialisme Islam yang digagasnya. Ia menulis dalam bukunya“Sosialisme Dalam Islam” Bab I hal 24 – 41 (Penerbit TriDe);

Peri-kemanusiaan adalah menjadi satu persatuan, begitulah pengajaran di dalam Qur’an yang suci itu, yang menjadi pokoknya Sosialisme. Kalau segenap peri-kemanusiaan kita anggap menjadi satu persatuan, tak boleh tidak wajiblah kita berusaha akan mencapai keselamatan bagi mereka semuanya.

Ada lagi satu sabda Allah di dalam Al Qur’an memerintahkan kepada kita, bahwa kita “harus membikin perdamaian (keselamatan) diantara kita”. Lebih jauh di dalam al Qur’an ada dinyatakan, bahwa “kita ini telah dijadikan dari seorang-orang laki-laki dan seorang-orang perempuan” dan “bahwa Tuhan telah memisah-misahkan kita menjadi golongan-golongan dan suku-suku, agar supaya kita mengetahui satu sama lain”.

Nabi kita Muhammad s.a.w. telah bersabda, bahwa “Tuhan telah menghilangkan kecongkakan dan kesombongan di atas asal turunan yang tinggi. Seorang Arab tidak mempunyai ketinggian atau kebesaran yang melebihi seorang asing, melainkan barang apa yang telah yakin bagi dia karena takut dan baktinya kepada Tuhan”. Bersabda pula Nabi kita s.a.w. bahwa “Allah itu hanyalah satu saja, dan asalnya sekalian manusia itu hanyalah satu, mereka ampunnya agama hanyalah satu juga”.

Dasar persamaan rasa dan nasib ini-lah yang digali Tjokroaminoto dari Islam. Asas Islam yang tidak pandang bulu dan mengenal perbedaan ras warna kulit dan bangsa menjadi kekuatan yang diangkat sebagai motor penggerak kebangkitan kaum bumi putra.

 jokro memandang ada nilai-nilai Islam yang satu sisi dapat menjadi benih ke arah borjuasi dan satu sisi ke arah sosialis. Sehingga ia menegaskan aspek-aspek kepedulian kepada sesama di dalam Islam, seperti mengeluarkan shadaqah bukan lagi tindakan yang perlu tetapi wajib. Ia melihat shdaqah di dalam Islam ada dua, pertama wajib dikeluarkan, namnya zakat dan satu lagi sebagai bentuk derma.

Ia menulis dengan menyertakan dalil-dalil ayat Al Quran dan Hadis secara terinci;

Nabi kita menyuruh kita berlaku dermawan dengan asas-asas yang bersifat sosialis. Sedang Quran berulang-ulang menyatakan, bahwa memberi sedekah itu bukannya bersifat kebajikan, tetapi bersifat satu wajib yang keras dan tidak boleh dilalaikannya. Kecuali yang lain-lainnya, maka tentang pemberian sedekah itu Allah ta’ala ada bersabda di dalam Quran beginilah maksudnya:

“Kamu tidak pernah akan dapat mencapai keadilan, kecuali apabila kamu telah memberikan daripada apa yang kamu cintai; dan Tuhan mengetahui apa yang kamu berikan itu”.

Di satu tempat yang lain, Allah ta’ala bersabda di dalam Quran begini maksudnya:
“Barang siapa memberi sedekah dari pada kekayannya, guna membuat lebih suci dirinya. Dan tidak supaya kebajikannya akan diberi upahan. Tetapi barang siapa memberikan kekayannya untuk keperluan perkaranya dia punya Tuhan, yaitu Tuhan yang Maha luhur. Dan kemudiannya tidak boleh tidak dia akan bersenang dengan dia punya upahan”.

Masih ada lagi lain-lain perintah Tuhan yang mewajibkan kita memberi sedekah dari pada kekayaan kita. Satu dua sabda Nabi kita, yang menunjukkan sifat sosialis yang terkandung di dalam aturan pemberian sedekah, adalah seperti yang berikut:

“Sekalian makhluk Tuhan adalah Tuhan ampunnya keluarga dan ialah yang sangat berbakti (percaya) kepada Tuhan yaitu barang siapa berusaha berbuat sebanyak-banyaknya kebajikan kepada makhluk Tuhan”.

“Memberi sedekah adalah satu wajib bagi kamu. Sedekah hendaklah diberikan oleh orang kaya diberikan kepada orang miskin”.

“Siapakah yang sangat dikasihi oleh Tuhan? Yaitu barang siapa mendatangkan sebesar-besarnya kebaikan bagi makhluk Tuhan”.

Sepanjang pengetahuan saya, maka hanyalah Nabi kita itu saja pemberi wet yang telah menetapkan ukuran besar-kecilnya kedermawanan yang berupa sedekah. Sepanjang kemauan Islam maka sedekah ada dua macamnya, yaitu sedekah yang bergantung dari kemauannya pemberi, dan sedekah yang diwajibkan, ialah zakat namanya. Menurut perintah Tuhan di dalam Al Qur’an maka zakat haruslah diberikan kepada delapan golongan manusia: 1. Orang-orang fakir; 2. Orang-orang miskin; 3. ‘Amil, yaitu orang-orang yang diserahi pekerjaan mengumpulkan dan membagi zakat; 4. Mu’amalah kulubuhum (mereka yang hatinya harus dilembekkan akan menurut kepada agama Islam), yakni orang-orang yang meskipun sudah masuk agama Islam, tetapi kerajinannya kepada agama masih lembek, atau orang-orang ternama yang boleh melakukan pengaruh di atas masuknya lain-lain orang kepada agama Islam; 5. Buat membeli lepas orang-orang budak belian. 6. Orang-orang berhutang yang tidak berkuasa membayar hutang itu, yakni hutang untuk keperluan ke-islaman; 7. Orang-orang yang melakukan perbuatan untuk memajukan agama Tuhan dan 8. Orang-orang bepergian, yang tidak akan dapat menyampaikan maksud perginya kalau tidak dengan pertolongannya sesama orang Islam.

 Lebih dari itu, sebenarnya ada tiga pokok yang dijadikan asas pemikiran Sosialisme Omar Said Tjokroaminoto yang diakui diambil dari Islam dan kini dijadikan sebagai asas pergerakan oleh kelompok masyarakat yang masih meneruskan cita-cita perjuangan bapak aliran ideologi kebangkitan nasional ini. Ketiga asas itu ialah kemerdekaan (virjheid-liberty), persamaan (gelijkheid-equality) dan persaudaraan (broederschap-fraternity). Penjelasan tentang ketiga asas ini dapat dijumpai dalam tulisannya;

Menurut pendapatan saya di dalam faham sosialisme adalah tiga anasir, yaitu: kemerdekaan (virjheid-liberty), persamaan (gelijkheid-equality) dan persaudaraan (broederschap-fraternity). Ketiganya anasir ini adalah dimasukkan sebanyak-banyaknya di dalam peraturan-peraturan Islam dan di dalam perikatan hidup bersama yang telah dijadikan oleh Nabi kita yang suci Muhammad s.a.w.

Asas kemerdekaan menurutnya merupakan refleksi dari bentuk ketaatan kepda Allah SWT. Dalam gagasannya, setiap orang muslim tidak harus takut kepada siapa atau apa pun juga, melainkan diwajibkan takut kepada Allah saja. Sehingga merdeka dari siapapun.

Kemudian asas persamaan dan persaudaraan datang dari nilai-nilai Islam yang menyatakan bahwa setiap muslim adalah bersaudara, di antara mereka tidak ada perbedaan, hukum yang menimpa dan ditanggung mereka sama, derajat mereka sama, kaum mislim diikat oleh persaudaraan yang satu; persaudaraan yang ibarat satu tubuh dilandasi persamaan rasa (solidarity), kasih sayang, . Dalam hal ini ia menulis;

Tentang “persamaan” maka orang-orang Muslimin dalam zaman dulu bukan saja semua anggap dirinya sama, tetapi mereka semua anggap menjadi satu. Diantara orang-orang Muslimin tidak ada sesuatu perbedaan yang mana pun juga macamnya. Dalam pergaulan hidup bersama diantara mereka tidak ada perbedaan derajat dan tidak ada pula sebab-sebab yang boleh menimbulkan perbedaan klas.

Lalu ia mengutip kisah Khalifah Umar bin Khattab dalam menegakkan hukum Islam dan nilai-nilia persaudaraan dan persamaan derajat, sebagaimana berikut ini;

Tentang hal ini Khalifah Sayidina Umar r.a. adalah sangat kerasnya. Salah satu suratnya menceritakan satu perkara yang menunjukkan asas-asasnya dengan seterang-terangnya. Kecuali yang lain-lainnya maka ia telah menulis kepada Abu Ubaidah, yang salinannya kurang lebih begini:

…Begitulah bicara saya disebabkan oleh Jabalah Ibn Ayhim dari suku bangsa Gassan, yang datang pad kita dengan sanak saudaranya dan kepala dari suku bangsanya, yang saya terima dan saya jamu dengan sepatutnya. Di muka saya mereka menyatakan pengakuan memeluk agama yang benar, sayapun bermuka-cita bahwa “Allah telah menguatkan agama yang hak dan bertambah banyak orang yang memeluknya, lantaran mereka itu datang masuk dan mengetahui apa yang ada di dalam rahasia. Kita bersama pergi ziarah ke Mekkah, dan Jabalah pergi mengelilingi ka’bah tujuh kali. Ketika ia pergi keliling, maka kejadianlah ada seorang laki-laki dari suku bangsa Fizarah menginjak dia punya vest hingga jatuh dari pundaknya. Jabalah membelukkan diri sambil berkata: “Celakalah kamu! Kamu telah menelanjangkan belakangku di dalam ka’bah yang suci”. Si penginjak bersumpah, bahwa ia berbuat yang demikian itu tidak dengan sengaja. Tetapi lalu dipukul oleh Jabalah, dipecahkan hidungnya dan dicabut empat giginya yang sebelah muka. Si miskin yang teraniaya segeralah datang pada saya dan mengadukan keberatannya sambil meminta pertolongan saya. Maka saya perintahkan membawa Jabalah di muka saya, dan saya tanya apakah yang menyebabkan padanya telah memukul saudaranya Islam dengan cara yang demikian ini, mencabut gigi dan memecahkan hidungnya. Ia pun menjawab, bahwa orang tadi telah menginjak vest dan menelanjangkan belakangnya, dengan ditambah perkataan: kalau tidak mengingat hormat yang ia harus tunjukkan kepada ka’bah yang suci, niscaya orang itu telah dibunuh olehnya. Saya pun menjawab, bahwa ia telah melahirkan pengakuan yang terang memberatkan dirinya sendiri; dan apabila orang yang menanggung kerugian itu tidak memberi ampun padanya, saya mesti menuntut perkara padanya selaku pembalasan. Ia menjawab, bahwa ia raja dan orang yang lainnya itu orang tani”. Saya menyatakan padanya, bahwa hal itu tidak dapat diperdulikan, mereka keduanya adalah orang Islam dan oleh karenanya mereka bersamaanlah adanya. Sesudahnya itu ia minta, supaya dia punya hukuman dipertangguhkan sampai keesokan harinya. Saya menanya kepada orang yang mendapat kerugian, apakah ia suka menunggu selama itu; iapun melahirkan mufakatnya. Tetapi pada waktu malam Jabalah dan teman-temannya sama melarikan dirinya”.

Keyakinan akan asas-asas Sosialisme Islam itu ia kampanyekan terus hingga kongres PSII tahun 1933 di Jakarta. Setahun kemudian HOS Tjokroaminoto wafat dan ia tercatat dalam tinta emas sejarah sebagai bapak yang telah melahirkan tokoh-tokoh pergerakan kebangkitan nasional baik yang berhaluan nasionalis, agama, dan kiri.*(boz)

 

 

 

 

 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top