Menjadi Muslimah Pengguncang Dunia

Perkembangan zaman ini harusnya menjadi dorongan dan motivasi bagi perempuan muslim Indonesia untuk berbenah dan membangun kepribadian seorang wanita muslim mulia. Gantungkan cita-cita setinggi mungkin, biarpun sebagai ibu rumah tangga.

 

Rasulullah SAW pernah berpesan, tangan kanan seorang muslimah boleh mengoyang buaian buah hatinya tapi tangan kirinya mengguncang dunia. Ada pesan dahsyat dalam sabda Rasul ini, yaitu apapun yang dikaryakan oleh seorang Muslimah mestilah memiliki manfaat bagi sesamanya, terutama bagi keluarga (anak dan suami). Terutama dalam hal mendidik anak. Jika seorang ibu berhasil mendidik anak-anaknya, kelak anak-anak itu akan mengguncang dunia. Dan yang terkenang dalam diri mereka adalah ibu-ibu yang hebat yang telah membesarkan dan mendidiknya.

 

Perempuan muslimah tak akan pernah kehilangan peran dalam setiap kemajuan zaman. Entah karyanya langsung terbukti seketika ia masih ada atau kelak tumbuh bersama generasi yang ia bina. Banyak Muslimah berprestasi dari hal-hal kecil yang ditekuninya sebut saja salah satunya Malula (17 tahun) di Afganistan. Berkat perjuangannya dalam bidang pendidikan dan pemberdayaan perempuan ia dianugrahi nobel perdamaian.

 

Jika ingin melihat peran yang cukup diperhitungkan lihatlah Dalia Mogahed, seorang muslimah berhijab menjabat sebagai penasehat Presiden Obama untuk urusan agama Islam dan dunia muslim. Ia pernah memberikan pengertian tentang Jihad sehingga tidak disalaharitikan.   Bahwa jihad itu bukan jahat, tetapi sikap dan prilaku untuk bersungguh-sungguh menjadi pribadi muslim yang bermanfaat, yang meberikan kebaikan.

 

Muslimah sama hak dan kewajibannya dengan muslim, kaum Adam. Mereka sama-sama menerima perintah ibadah dengan kadar dan ketentuan yang sesuai kodratnya. Coba lihat perintah shalat, dari mulai kita diperintah bersuci hingga salam, semua sama. Dan semua adalah kebaikan yang diajarkan kepada kita. Baik muslim atau muslimah sama-sama diperintahkan shalat sebagai satu tonggak ibadah yang  utama demi kemaslahatan umat dan dunia. Sebab dari shalat yang ditegakkan oleh muslim dan perempuan muslimah itu bersumber berbagai kebajikan dan kemuliaan di muka bumi ini. Di dalamnya ada perintah untuk menutup aurat, maka demikian pula dalam kehidupan sehari-hari—perempuan dan laki-laki wajib menutup auratnya. Shalat kita adalan pendidikan kita, pendidikan bagi generasi—khususnya bagi perempuan bagaimana ia patuh untuk menjalankan perintah agama, tidak hanya dalam lingkung kecil tapi secara keseluruhan (kaffah). Termasuk dalam hal ini menutup aurat. Shalat itu akan jadi sumber ketentraman dan keselamatan bagi pelakunya—juga bagi orang lain di sekitarnya.

 

Bagaimana mungkin orang yang shalat tidak memberikan keselamatan kepada saudaranya. Bagaimana mungkin orang yang shalat tidak mengangungkan Allah (melalui melestarikan ciptaannya /alam lingkungan), dia kira ada yang lebih besar dari pada Allah padahal ia bertakbir (saat Shalat) menyebut kebesaran Allah. Bagaimana dia shalat jika dia tidak memberikan keselamatan bagi masyarakatnya ? Berarti dia orang yang tidak bisa melihat Islam itu sebagai rahmatan lil alamin.

Perempuan, khususnya muslimah, harus lebih cerdas hidup di tengah lingkungan yang penuh tantangan dan fitnah akhir zaman ini. Muslimah yang pandai, apa yang datang dari tangannya selalu menjadi buah karya. Peran domestik dan publik yang dimainkan seorang muslimah – harus lebih cerdas, karena itu ia harus sadar posisi.

Apa pun profesinya, seorang muslim dan muslimah punya tanggung jawab. Saya sebagai seniman, berpikir bagaimana memberikan seni yang islami ke pemirsa dan pendengarnya—seni yang mengajak orang mengingat penciptanya.

 

Ketika melihat baju yang bagus, yang dipuji Allah; Masya Allah la quwati illa billah.

Jadi sekarang para deigner itu sekarang mengajak para muslimah untuk tampi cantik, trendi, tapi

harus syari’i, bagaimana busana yang kita pakai ini tidak mengganggu aktivitas kita sehari-hari dari terbitnya matahari hingga terbenamnya mata suami kita. Jad harus nyaman.

 

Sebagai muslimah ada yang jadi dokter, jadi guru.  Malala muslimah hebat dari Afganistan, 17 tahun sudah mendapat nobel perdamaian. Ia berprestasi bukan hanya untuk negaranya tapi untuk dunia, kapan muslimah-muslimah Indonesia lewat kreasinya mengguncang dunia. karena lewat sabda Nabi SAW, perempuan itu tangan kanannya menggoyang buaian, tangan kirinya mengguncang dunia. Berikan yang terbaik dari diri kita sekecil apapun itu tetap bernilai. Perempuan harus mampu berkreasi karena kita adalah mahluk yang cerdas—untuk memakmurkan bumi dalam kerangka ibadah ke pada Allah (Wama kholaqul jjinna wal insa illa liya’buduni).

 

Tidak ada satu pun muslimah itu yang bodoh, yang ada mungkin malas, malu mungkin. Muslimah itu jadi anggota masyarakat, pendidik, pengelola rumah tangga.

 

Jadi muslimah itu banyak PR nya banyak fitnah yang menerpa rumah tangga kita, kita harus tangguh mampu menciptakan sekeping surga di muka bumi yaitu di rumah. Baiti Jannati. Perempuan punya tanggung jawab untuk menciptakan itu, karena banyak ujian menimpa kita, menimpa suami kita, menimpa anak-anak kita. Jika kita melihat dunia di luar, di media, merisaukan mendebarkan perasaan bagaimana anak-anak kita kelak. Lalu bagaimana kita melindungi diri kita, anak-anak kita, suami kita dari fitnah yang datang bertubi-tubi. Karena itu kita jadi muslimah jangan keluar dari fitrah.

 

Senang memberi. Asmaul husna itu jangan hanya dihafal tapi mampu diamalkan. Jadi muslimah yang gemar mengasihi, gemar mencintai, banyak ilmunya, gemar memelihara kesucian diri, karena tidak ada muslim yang lahir ke dunia ini tidak memiliki dosa. Lahir dalam keadaan fitrah, tapi perjalanan kehidupannya, sebagai peserta ujian, jadi manusia di muka bumi ini sebagai peserta ujian, Allah memberikan ujian kesenangan dan kesusahan, mampu kah dia menjawab ujian-ujian yang Allah berikan dalam kehidupan kita.

 

Ada seorang direktur, wartawan, seorang guru, seorang profesional, apapun kita profesi, kita adalah mahluk yang sedang diuji. Barangsiapa yang mau lulus ujian, ia harus aktif belajar, harus mengerti sebagai muslimah apa yang ia baca dari Al Quran – muslimah harus jadi Ulil Albab, yang mendalam berpikirnya.

 

Apa yang bisa saya, kami, berikan untuk keluarga, untuk bangsa tercinta ini, sumbangsih apa yang kita berikan. Sekecil apapun. Karena itu lihat kembali potensi diri kita. Mampukah ketika Allah memberikan ujian-ujian kesusahan ? mampukah kita menjawab ujian-ujian  “Sabar.” Sabar itu bukan ..”Saya sudah sabar,” sabar itu ialah tekun, teliti, tanggap. Itu sabar. Dia diberi ujian, diberi pengalaman-pengalaman untuk meningkatkan kualitas diir kita. Karena Allah itu sayang dengan diri kita, bukan karena suci yang tak berdosa. Karena tidak ada yang demikian. Tapi Allah sayang kepada muslimah yang gemar mensucikan dirinya. Ketika dia diberi ujian kesenangan dia mampu menjawab dengan jawaban-jawaban syukur. Jadi syukur bukan hanya mengucapkan hamdalah. Tapi syukur menggunakan nikmat yang Allah berikan di jalan ketaatan.

 

Lihat pada diri kita nikmat Allah mana yang kita dustakan, rambut yang indah, itu untuk ditutup, untuk kebahagiaan suami. Tapi nutupnya juga enggak boleh dolim, ditutup pake bandana, ciput, jilbab, pasmina, berjam-jam enggak dibuka, begitu dibuka rontok.  Tapi ditutup dengan ilmu.

Nikmat mata—masya Allah, padahal banyak orang tidak memiliki penglihatan tapi bisa berkarir.

Kita harus jadi orang tua yang cerdas.

Semua nikmat gunakan di jalan taat.

 

Memotovasi orang untuk mengerti apa yang ia baca dari Al Quran. Coba lihat Ibu Kartini, seorang muslimah, ketika dia membaca al Quran, terus dia enggak mengerti apa yang ia baca. Ia behenti ia minta seorang guru unutk menjelaskan apa yang ia baca kenapa? Karena kalau Al Quran dibaca, tapi tidak dimengerti tidak bisa diamalkan dalam kehidupan kita. Alhamdulillah ibu kita Kartini dapat terjemahan Al Quran dari KH Soleh Darat, sehingga kartini dapat memahami indahnya Islam.

Lalu bagaimana dengan kita, sekarang ini terjemahan, tafsir al Quran sudah di mana-mana. Sekarang waktunya kita memberikan waktu yang terbaik karya nyata. Apa pun itu yang menjadi potensi kita harus kita sumbangkan ke negara yang tercinta ini. Kita ajak pasangan kita, anak-anak kita, untuk memberikan yang terbaik dan mengamalkan dari apa yang ia baca dari Al Quran.

 

Menjadi muslimah ibu RT itu harus banyak ilmunya, MSI; ilmu agama, ilmu keuangan, pendidikan, psikologi anak.

 

Syukur, jangan kurangngi kadar ungkapan syukur kita dengan tapi.. “Sukur sih, tapi..”

Syukur itu kita yakin bahwa nikmat yang kita dapat itu datang dari Allah. Bukan karena kepandaian kita. Pernah dengar cerita Qorun pada zaman nabi musa. Orang terkaya di saat itu. Tapi walau kaya raya dia sombong, dia kira harta yang dia dapatkan itu karena dia pintar. Karena rajin bekerja, kamu malas. Sehingga ia menganggap apa yang ada di tangannya itu karena kehebatan dirinya. Maka Allah tenggelamkan Qorun berserta seluruh hartanya ke dalam bumi.

Kita harus yakin apa yang menjadi nikmat yang kita terima hari ini datangnya dari Allah. Nikmat tidak selamanya berbentuk harta, berbentuk kebahagiaan, tapi ternyata kesulitan kesempitan justru membuat seseorang meningkat derajatnya.

Pengalaman perang Uhud, yang dialami kaum muslim berupa kekalahan, tapi tidak membuat mereka putus asa, malah justru berapi-api semangatnya untuk memenangkan perang-perang selanjutnya. Jadi apa pun itu senang susah harus kita syukuri. Pertama yakin itu dari Allah, kedua kita ucapkan Alhamdulillah. Kita puji Allah.

 

Masya Allah—karena taqdir Allah lah ini terjadi. Kenalilah ummu Khadijah – panutan kita sebagai muslimah. Sosok perempuan luar biasa, taat, zuhud, tapi juga seorang bisniswoman, perempuan karir, kaya. Meski demikian itu tidak membuat dia lalai, tidak abai, untuk menjadi seorang ibu rumah tangga yang mendidik anak-anaknya, menjadi muslimah yang baik, mengurus rumah dan suaminya.

Pesan saya, apa pun yang datang ke kita jangan kurangi rasa syukur kita.

 

Itu yang kadnag tidak bisa kita lihat apa di balik peristiwa yang kita alami itu. Tapi bagi orang  bagi orang yang bisa mengerti apa yang ia baca dari Al Quran dan sunnah, ia mampu membaca taqdir yang Allah berikan. Kita mesti cerdas membaca taqdir dari Allah, karena Allah itu tidak mungkin tidak sayang sama kita. Ada rezeki yang sudah dijamin, jenis pertama. Ada rezeki yang dicari, kedua.

 

Banyak orang islam mencontoh Rasulullah hanya solatnya saja, tapi ethos kerjanya tidak diambil. Kalau bisa malas ngapain rajin.  Kalau mau mengambil sosok Rasulullah, sebagai contoh dan teladan, maka kita harus bekerja profesional. Naikkan kualitas dengan ketekunan capai hasil maksimal. Berikan yang terbaik, itu rezeki kedua.

 

Rezeki yang ketiga rezeki yang disyukuri . ketika Allah kasih sesuatu, kita ridlo, itu syukur, walaupun tidak memuaskan nafsunya. Karena barangsiapa bersyukur akan aku tambahkan nikmatku. Tapi siapa yang tidak bersyukur, ingat azabku pedih. Itu ketiga. Perempuan yang berkarya, memiliki potensi, maka ia harus memiliki yang ketiga ini, ia pandai bersyukur,maka Allah akan tambahkan nikmat.

Ada lagi rezeki yang ke –emat; rezeki orang-orang yang bertaqwa. Orang yang bertaqwa itu selalu punya Way-out (Waman yattaqillaha yarzuqhu men haistu la yahtasib), dia tidak “saya harus ngapain..??” enggak pernah mengeluh. Selalu menemukan jalan keluar, dan Allah berikan rezeki dari jalan yang tak disangka-sangka. Itu rezeki yang keempat.

Gunaka kesempatan Ramadhan untuk meningkatkan taqwa kita. Dari derajat orang mukimn menuju derajat orang muttaqin.

“Sumuu tashihhuu”  sehat jasmani, rohani dan sosialnya.

 

  1. Jadi muslimah yang shalehah
  2. Yang taat kepada suami selama tidak dalam kemaksiatan
  3. Yang berbakti kepada kedua orangtua
  4. Muslimah yang berkontribusi kepada masyarakat
  5. Mengerti ilmu urusan rumah tangga (pendidikan parenting), tata boga, keuangan, tutur komunikasi yg bagus.

Muslimah yang Gaul – QS: 40 : 7-8, jadi muslimah yang hebat, namanya disebut-sebut penduduk langit, jadi gaul itu tidak hanya dikenal oleh penduduk bumi, tapi juga dikenal penduduk langit, lewat karya-karyanya dan amal-amalnya. Bukan semata karena kecantikan dan hartanya, karena Allah tidak melihat cantik dan harta tapi Allah melihat hati dan amalnya.

Bersyukur itu bagi muslimah, ya menjaga dan merawat tubuh dan kecantikannya sebagai anugrah dan menjaganya untuk tidak tabarruj, dan semata hanya untuk ketaatan bukan bermaksiat. Jika ia telah bersuami, kecantikannya hanya untuk suaminya.

“Cantik itu bukan hanya dilihat saja, tetapi yang memberikan energi positif, ceria, tidak mudah putus asa. Muslimah mukmin itu tak akan mudah putus asa.”

 

ASTRI IVO

Penulis adalah Mantan Artis


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top