HUT DKI Jakarta

Jakarta, Fatahillah dan Warisan Umat untuk Bangsa

Tahun ini Daerah khusus Ibukota Jakarta memeringati hari ulang tahun (HUT)  ke-489, tepatnya pada 22 Juni 2016.  Berdasarkan penelusuran sejarah, Fatahillah dikenal sebagai pendiri kota Jakarta.  Seorang  seorang panglima dan ulama yang menurunkan para guru di tanah Betawi dan sekitarnya.

Jakarta telah melewati sejarah panjang. Sejak abad ke-10 M, daerah yang saat ini disebut Jakarta awalnya dikenal dengan sebutan Pelabuhan Sunda Kelapa yang terkenal sebagai pusat perdagangan. Pada tanggal 21 Agustus 1522 ditandatangani perjanjian persahabatan antara Portugis dan Kerajaan Pajajaran. Raja Pakuan Pajajaran melakukan perjanjian tersebut guna memperoleh bantuan dari Portugis dalam menghadapi ancaman Kerajaan Demak. Namun perjanjian itu sia-sia karena Portugis tidak membantu Pajajaran, tetapi Portugis malah ingin menguasai Pelabuhan Sunda Kelapa.

Kerajaan Demak menguasai Sunda Kelapa di bawah pimpinan Fatahillah/Fadilah Khan/Faletehan, panglima perang. Pada tanggal 22 Juni 1527 Sunda Kelapa Jatuh ke tangan Kerajaan Demak. Nah, tanggal 22 Juni dijadikan sebagai kelahiran kota Jakarta. Nama Sunda Kelapa diganti menjadi Jayakarta oleh Fatahillah yang artinya kemenangan berjaya.

Baik sumber Portugis maupun sumber tradisi menyebutkan bahwa tokoh yang dikenal merebut Sunda Kalapa itu adalah seorang Muslim kelahiran Pasai yang dipercaya sebagai panglima Kerajaan Demak. Dalam sumber tradisi dia dikenal dengan nama Ratu Bagus Paseh, Tubagus Paseh, Wong Agung Sabrang, Fadhillah Khan, atau Pangeran Pase. Sementara dari sumber Portugis dia dikenal dengan nama Faletehan, Falatehan, atau Tagaril.

Kini, nama Fatahillah antara lain diabadikan sebagai nama jalan di kawasan Jakarta Kota, tak jauh dari stasiun kereta api Beos. Fatahillah juga dikenal nama lain Faletehan, nama ini juga diabadikan sebagai nama jalan di daerah Kebayoran Baru, beberapa ratus meter dari terminal bis Blok M.

Pada tahun 1619, Belanda di bawah pimpinan Jan Pieterzoon Coen (J. P. Coen) menyerbu Jakarta sehingga orang Banten serta etnis Arab dan Tionghoa mengundurkan diri ke daerah Kesultanan Banten. Setelah berhasil dikuasai Belanda, nama Jayakarta diganti menjadi Batavia oleh Gubernur Jendral J. P. Coen. Setelah kepemimpinan J. P. Coen, Batavia selanjutnya dipimpin oleh Jacques Speex, Daendels, Raffles,dan Van den Bosch, yang membangun Jakarta dengan beberapa bangunan yang masih berdiri sampai sekarang seperti Stasiun Kota, dan lainnya.

Pada bulan September 1945 Pemerintah Kota Jakarta diberi nama Pemerintahan Nasional Kota Jakarta dengan dipimpin oleh seorang walikota. Setelah itu, wilayah Jakarta mengalami penambahan yaitu Kepulauan Seribu, Cengkareng, Kebayoran (Kebon Jeruk, Kebayoran Ilir, dan Kebayoran Udik), dan sebagian Bekasi (Pulogadung dan Cilincing). UU No. 10 Tahun 1964 Daerah Khusus Ibukota Raya dinyatakan sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia dengan nama Jakarta.

Jika kita ingat Jakarta, ingat Betawi.  Suku Betawi berasal dari hasil kawin-mawin antaretnis dan bangsa pada masa lalu seperti orang Sunda, Melayu, Jawa, Arab, Bali, Bugis, Makassar, Ambon, dan Tionghoa.

Suku Betawi dikenal dalam Babad Tanah Jawa yang ada pada abad ke 15 (tahun 1400-an Masehi) sudah ditemukan kata "Negeri Betawi". Suku Betawi secara geografis terletak di pulau Jawa, namun secara sosiokultural lebih dekat pada budaya Melayu Islam.

Batas Wilayah Betawi pada Zaman Penjajahan Belanda adalah:

  1. Batavia sebagai wilayah residentie : de Stad en Voorsteden (Kota dan Kota Pelabuhan), Buiten de Stad (Luar Kota), dan Ommelanden (sekitar Batavia).
  2. Wilayah Batavia yang masih dikelilingi rawa-rawa pada abad ke-19 : Stad de Voorsteden (Utara), Meester Cornelis (Timur), Tangerang (Barat), dan Buitenzorg (Selatan).

Batas Wilayah Betawi:

  1. Bagian Utara             : Laut Jawa
  2. Bagian Timur            : Kabupatendan Kota Bekasi
  3. Bagian Selatan          : Kota Depok
  4. Bagian Barat             : Kabupaten dan Kota Tangerang

5 wilayah kotamadya Jakarta :

  1. Jakarta Pusat
  2. Jakarta Utara
  3. Jakarta Barat
  4. Jakarta Selatan
  5. Jakarta Timur

Ditambah dengan Kepulauan Seribu.

Masyarakat Betawi :

  1. Masyarakat Betawi asli
  2. Masyarakat pendatang
  3. Masyarakat peranakan

Istilah-Istilah dalam Bahasa Betawi yang terkenal adalah:

  1. Mpok : kakak perempuan.
  2. Abang : kakak laki-laki.
  3. Encing : bibi/tante.
  4. Encang : paman/om.
  5. Engkong : kakek.
  6. Nyai : nenek.
  7. Kumpi : buyut.

Demikianlah sejarah tentang kota Jakarta yang kita kenal hingga saaat ini. Dari perjuangan para ulama dan umat untuk bangsa Indonesia. (mm)


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top