Lailatul Qadar, Malam Apresiasi Keluar dari Zona Nyaman

Ramadhan sudah memasuki 10 malam terakhir. Namun orang-orang banyak yang disibukan dengan diskon besar-besaran yang ditawarkan aneka macam produk serta disibukan pula dengan aktifitas pulang kampung atau biasa disebut mudik. Padahal, di dalam 10 malam terakhir, khusunya malam-malam ganjil terdapat sebuah malam yang langka, malam yang spesial, malam apresiasi dari Dzat Yang Maha Mulia, malam yang berlangsung penuh dengan cahaya dari para malikat yang turun dari langit, malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan, yakni malam lailatul qadar.

Sebagaimana yang telah termaktub dalam surat al-Qadr yang artinya, “Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemulian. Dan tahukan kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikan dan malaikan Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”, Alquran juga diturunkan di malam yang mulia tersebut, yakni malam lailatul qadar“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al Qadr: 1). “Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran.” (QS. Al Baqarah: 185).

 

Malam Ganjil

Terkait peristiwa lailatul qadar, tak banyak nash-nash yang menyebutkan secara rinci kapan terjadinya peristiwa tersebut. Termasuk sabda dari baginda Rasul SAW yang hanya mengabarkan kepada umatnya mengenai kemungkinan terjadinya peristiwa mulia tersebut. “Telah diriwayatkan oleh al-Bukhari rahimahullah dalam Shahihnya, dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Carilah lailatul Qadr pada (bilangan) ganjil dari sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.”

Dalil lainnya yakni hadits dari Abu Sa’id bahwasanya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallamberkhutbah kepada para sahabat, beliau bersabda: “Sesungguhnya aku telah diberitahu kapan lailatul qadar terjadi, kemudian aku dibuat lupa. Maka carilah ia di sepuluh hari terakhir yaitu di malam ganjilnya. Dan aku ingat bahwa ketika itu aku bersujud di atas air dan tanah.” Abu sa’id mengatakan, “Pada malam kedua puluh satu terjadi hujan sehingga membasahi masjid tempat sholat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian aku melihat beliau telah selesai sholat subuh dan di wajahnya terdapat bekas air dan tanah.” (HR. Bukhari – Muslim).

Subhanallah, sebuah karunia Allah yang sungguh luar biasa dibalik lupanya baginda nabi mengenai tanggal pasti peristiwa tersebut. Bisa dibayangkan, jika Rasul SAW masih ingat persis kapan terjadi lailatul qadar tersebut, akan seperti apa umatnya dalam menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan dan memuliakannya.

Akan tetapi, dari kajian-kajian ulama salaf, banyak yang menyebutkan bahwa malam lailatul qadar terjadi di malam 27 bulan Ramadhan. Meskipun dari hadist di atas menunjukan malam lailatul qadar pernah terjadi di malam 21, akan tetapi jumlahnya tidak terlalu banyak. Oleh sebab itu, banyak masjid-masjid di Jakarta dan sekitarnya yang rutin mengadakan khatmul quran dalam shalat tarawihnya pada malam 27 Ramadhan. Selain dari kajian para salafusshalih, terkait pendapat terkuat tentang terjadinya peristiwa lailatul qadar di malam 27 Ramadhan juga diperkuat oleh pengalaman ‘ulama salaf yang juga dikenal karena ilmunya yang tinggi hingga mashyur disapa “Imam”, yakni al-Imam an-Nawawi.

Imam Nawawi kecil, ketika itu sedang berada di pembaringannya di tengah malam. Di sampingnya terdapat ayahnya yang juga sedang tertidur lelap. Heningnya malam kemudian terpecah ketika Imam Nawawi kecil teriak dengan heboh karena melihat sesuatu. Tak lama kemudian, ayahnya langsung terbangun dan diikuti dengan kedatangan ibunya ke dalam kamar. Imam Nawawi terus berteriak tentang cahaya terang-benderang yang mengelilingi kamar dan juga rumahnya. Namun, orang tuanya tidak melihat apapun kecuali hal-hal yang biasa saja. Dari situlah, orangtuanya menduga kalau Imam Nawawi kecil sudah diperlihatkan malam lailatul qadar dan diprediksi akan mencapai kesuksesan serta kemuliaan kelak dikemudian hari. Dan, jadilah beliau seperti yang sudah sama-sama kita ketahui sekarang-sekarang ini, yakni sebagai Imam besar yang karya-karyanya masih dikaji, dipelajari, dijadikan rujukan atas berbagai masalah, serta disimpan sebagai sebuah harta yang berharga.

 

Raih Malam Lailatul Qadar

Dalam kajian bahasa Arab, kata lailatul qadar (ليلة) menggunakan huruf yang dikenal dengan sebutan “Ta Marbuto (ـة)” di akhir kata tersebut. Selanjutnya, pada kata “تنزل الملئكة......” menurut para ahli bahasa, dalam ayat keempat surat Al-Qadar tersebut terdapat kaidah “hazf” atau sesuatu yang dihilangkan dari seharusnya, “تتنزل الملئكة......”. Dari kedua keterangan di atas, masih menurut para ahli bahasa, hal itu menandakan bahwa peristiwa malam lailatul qadar ini adalah peristiwa yang langka dan spesial.

Oleh karena itu, untuk mendapatkannya pun harus melakukan hal-hal spesial terlebih dahulu. Hal spesial itu penulis katakan dengan bahasa “keluar dari zona nyaman”. Pada umumnya, orang-orang sukses telah melakukan sesuatu yang disebut keluar dari zona nyaman itu. Seperti, dari biasanya sering menghambur-hamburkan uang menjadi hemat dan rajin menabung, dan contoh-contoh lainnya. Sama halnya dengan itu, keluar dari zona nyaman dalam meraih lailatul qadar diartikan mengihindari kebiasaan tidur di malam hari untuk mendapatkan malam mulia tersebut.

Pada umumnya, setelah melewati hari-hari yang lelah di siang hari, ketika beranjak malam umumnya orang-orang mengalami zona nyaman dengan tertidur lelap. Dan untuk mendapati malam tersebut, dianjurkan umat Islam agar terjaga dari tidurnya dengan beri’tikaf, berdzikir, bershalawat, membaca Alquran, menghidupkan malam dengan shalat, dan lain sebagainya. Maka dari itu, banyak ulama, salah satunya Prof. Dr. Quraish Shihab yang mengatakan bahwa malam lailatul qadar merupakan malam apresisasi. Apresasi untuk orang-orang yang telah bekerja keras keluar dari zona nyaman dengan terjaga dari tidurnya dan menggantinya dengan cara-cara yang sudah dicontohkan Rasulullah SAW.

Namun, oleh karena beratnya usaha untuk terjaga dari tidur dan menggantinya dengan sunnah-sunnah yang telah diajarkan Rasulullah SAW, para ulama kemudian memberikan kita untuk mendapatkan malam lailatul qadar dengan cara yang lebih simpel, yakni dengan shalat isya dan subuh secara berjama’ah di masjid. Landasannya adalah, “Barangsiapa yang shalat isya` berjama’ah maka seolah-olah dia telah shalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang shalat shubuh berjamaah maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya.” (HR. Muslim no. 656).

Bagaimanapun juga, beribadah dengan ikhlas adalah ibadah yang nilanya tertinggi dihadapan Allah SWT, yakni beribadah tanpa mengaharapkan balasan darinya. Beribadah dengan hanya mengharapkan ridho Allah SWT. Sejalan dengan ini,  hadits dari A’isyah, beliau berkata: “Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku jika aku mengetahui pada suatu malam bahwa itu adalah lailatul qadar, apa yang harus aku katakan?” Maka beliau menjawab: ‘Katakanlah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa, fa’fu’anni (Ya Allah Engkau adalah Maha Pengampun, mencintai orang yang meminta ampun, maka ampunilah aku)” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, shahih). Dari hadis tersebut, terlihat bahwa ketika terjadinya malam lailatul qadar, kita diperintahkan untuk mencari keridhoan dengan memohon ampun kepada-Nya. Jadi, keridhoan Allah SWT itu lebih penting dari malam lailatul qadar.

 

Pasca Lailatul Qadar

Pada umumnya, orang-orang yang mendapatkan malam lailatul qadar selanjutnya akan sangat berpengaruh dalam kehidupannya di masa yang akan datang. Seperti yang terjadi dengan Imam Nawawi, para sahabat, para wali-wali Allah, para ‘ulama salaf, para thabi’in, para sahabat, dan tentu saja baginda Rasulullah SAW.

Mendapakan malam lailatul qadar juga akan mempengaruhi orang yang mendapatkannya dalam bersikap, beribadah kepada Allah SWT, dan dalam hidup bermasyarakat. Lebih dari itu, mendapatkan malam lailatul qadar yang nilainya lebih baik dari seribu bulan itu juga telah membuat seseorang yang gugur dalam medan perang dalam keadaan syahid, membela agama Allah, yang sudah dijamin masuk surga akan tetapi dalam sebuah cerita masih bisa disalip oleh seseorang yang mendapatkan malam lailatul qadar sebelum akhir hayatnya.

Maka dari itu, di sisa Ramadhan yang mulia ini, penulis mengajak kepada kaum muslimin agar mengencangkan ikat pinggang masing-masing serta menyerukan kepada keluarga dan sahabat untuk bersama-sama beribadah menyambut datangnya malam kemuliaan, seperti yang sudah dicontohkan baginda Rasul yang kakinya hingga bengkak-bengkak dalam menjelang kepergian Ramadhan al-Mubarak. Semoga kita semua termasuk  hamba-hamba-Nya yang mendapatkan kemuliaan di dunia dan di akhirat dengan keridhoan-Nya. Wallahu ‘alam.

 

Hardiyansah Alpin

Aktivis Dakwah Kampus Syahid UIN Jakarta


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top