Sebelum Bulan Syawal Berlalu, Banyak Amalan Utama Selain Ibadah Nikah

 

(gomuslim). Sebelum bulan Syawal meninggalkan kita, masih ada kesempatan untuk melaksanakan puasa sepekan bernilai setahun. Pada bulan ini juga banyak amalan lain yang di kalangan masyarakat Indonesia identik dengan ibadah-ibadah tertentu seperti menikah dan lainnya. Bagaimana penjelasannya? Berikut kajiannya!

Setelah berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan, kini tibalah memasuki bulan Syawal. Bulan yang dianggap baik untuk membina rumah tangga. Teman dan kerabat di bulan ini banyak melakukan pernikahan, bahkan mungkin setiap hari bisa jadi lebih dari satu undangan menghadiri pernikahan kerabat.

Adapun hadis yang menceritakan tentang anjuran menikah di bulan Syawal, salah satunya adalah “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahiku di bulan Syawal, dan membangun rumah tangga denganku pada bulan syawal pula. Maka isteri-isteri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam yang manakah yang lebih beruntung di sisinya dariku?” (Perawi) berkata, “Aisyah Radiyallahu ‘anhaa dahulu suka menikahkan para wanita di bulan Syawal” (HR. Muslim). Tapi apakah keutamaan bulan Syawal hanya terbatas pada anjuran untuk menikah?!

Banyak keutamaan yang tersimpan di bulan Syawal, dan memang menikah adalah salah satu yang dianjurkan. Selain menikah, di bulan Syawal juga dianjurkan untuk melakukan I’tikaf di masjid. Hal ini di karenakan untuk menutupi ibadah-ibadah yang tidak sah di bulan Ramadhan dan melanjutkan amalan sholih agar tidak berhenti di bulan Ramadhan saja.

 

 

I’tikaf disini tidak diartikan hanya berdiam diri tidak melakukan aktivitas, melainkan melakukan amal-amal sholih yang bermanfaat. Sholat lima waktu, dzikir, membaca Al Qur’an adalah lumrahnya melakukan I’tikaf. Belajar agama dan bersedekah untuk berbuka puasa bagi yang menjalankan puasa syawal ini juga bisa menjadi alternatif I’tikaf.  Hal ini juga seperti melanjutkan amalan yang dilakukan pada bulan Ramadhan, yakni bersedekah ta’jil.

Amalan lain yang sangat dianjurkan di bulan syawal adalah puasa enam hari. Banyak keterangan menuturkan tentang puasa Syawal. Salah satunya dalil disunnahkannya puasa sunnah syawal dalam kitab Syarh an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim juz 8 halaman 56, dijelaskan perihal puasa sunnah 6 hari di bulan Syawal pada hadits Nabi Saw. “Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun.” (HR. Muslim).

Dalam puasa Syawal juga dapat menjadi proyeksi sebagai bentuk syukur kepada Allah atas nikmat bulan Ramadhan dan ampunan yang telah dianugerahkan  kepada umat muslim. Hal ini juga menjadi pelengkap atas puasa yang telah dilaksanakan pada bulan Ramadhan, Karena Puasa Syawal dan Sya'ban bagaikan shalat sunnah rawatib, berfungsi sebagai penyempurna dari kekurangan, karena pada hari Kiamat nanti perbuatan-perbuatan fardhu akan disempurnakan (dilengkapi) dengan perbuatan-perbuatan sunnah.

Sebagaimana keterangan yang datang dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di berbagai riwayat. Mayoritas puasa fardhu yang dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan dan ketidak sempurnaan, maka hal itu membutuhkan sesuatu yang menutupi dan menyempurnakannya.

Menurut seorang ulama, bagi muslim yang hanya bersungguh-sungguh beribadah pada bulan Ramadhan saja dan tidak bersungguh-sungguh lagi setelah berlalunya bulan tersebut. Dianggap sebagai seburuk-buruknya kaum, karena tidak mengenal Allah secara benar kecuali di bulan Ramadhan saja, padahal orang shalih adalah yang beribadah dengan sungguh-sunggguh di sepanjang tahun.

Baiklah, bagi muslimin yang shalih-shalihah, tentunya amalan bulan Syawal diatas dapat menjadi jembatan kita untuk menyambung ibadah bulan Ramadhan dan bulan-bulan selanjutnya, agar kita tidak tergolong sebagai orang-orang yang merugi.  (mrz/dbs)

 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top