Qurban Temporer: Menjangkau yang Jauh, Mencukupi yang Dekat

(gomuslim). Akhir-akhir ini, aplikasi agama dalam kehidupan nyata guna mengaplikasikan kata Rahmatan Lil’alamin mulai terlihat jauh dari kejadian-kejadian yang sering terjadi di masyarakat. Tak terkecuali hal-hal yang menyangkut jenis-jenis dalam peribadan atau ibadah fi’liyyah. Salah satunya ibadah Qurban.

Dewasa ini, terdapat beberapa lembaga yang bergerak di bidang sosial, seperti Badan Zakat Nasional (Baznas), Dhompet Dhuafa (DD), dan Aksi Cepat Tanggap (ACT). Lembaga-lembaga tersebut pada umumnya membuat gebrakan dalam ranah pendistribusian. Adapun pendistribusian yang mereka lakukan menjangkau bukan hanya ke luar pulau, melainkan juga ke luar negara dan benua.

Secara eskplisit, qurban seperti itu memang sangat bagus dan patut diapresiasi. Namun, karena kurban adalah bagian dari syariah Islam yang notabene ada tuntunan dan tuntutannya, kurban model apapun haruslah mengikuti metode dan cara-cara yang dibenarkan menurut Alquran dan As-sunnah.

Seluk-Beluk Berqurban

Berkurban termasuk ibadah yang paling utama. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam." (Al-An’am: 162). Firman lainnya: “Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan sembelihlah hewan qurban.” (Al-Kautsar: 2).

Adapun berdasarkan hadis nabi SAW, diriwayatkan Ahmad dan Ibnu Majah, dari Abu Hurairah, nabi Shollahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Barang siapa yang mendapatkan keluasaan (rizki untuk berqurban), tetapi ia tidak berqurban (dengan menyembelih binatang) maka janganlah mendekati tempat ahalat Kami”.

Kata “Qurban” sendiri dalam bahasa Arab berasal dari kata qarraba – yuqarribu – qurbaanan, yang berarti “pendekatan diri “. Dalam istilah agama berarti usaha pendekatan diri kepada Yang Maha Kuasa, yang realisasinya dengan menyerahkan sebagian nikmat yang telah diterima dari Allah SWT dan diserahkan kepada Allah SWT.

Disebutkan dalam al-Qur’an ayat 27 Surat Al-Maidah, bahwa Qurban telah dilakukan oleh kedua anak Adam: “Ceritakan kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil ) menurut agama yang sebenarnya ketika keduanya mempersembahkan Qurban, maka diterima dari seorang dari mereka berdua (Habil ) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu”. (Habil) berkata: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (Qurban ) dari orang-orang yang takwa”.

Menurut Mufassirin, kedua anak Adam itu adalah Qabil, yang melakukan Qurban dengan memberikan hasil tanamannya yang jelek-jelek, sedang Habil berqurban dengan menyembelih seekor kambing yang baik. Dari informasi itu dapat kita ketahui bahwa qurban telah dilkukan orang sejak jaman Nabi Adam As.

Melihat kandungan ayat 107-108 Surat Ash-Shaffat (37), Ibrahim As melaksanakan perintah dari Allah SWT untuk mengurbankan anaknya yang kemudian menjadi tuntunan untuk melaksanakan Qurban yang diabadikan, ayat tersebut adalah :

“Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan anak Ibrahim (pujian yang baik ) dikalangan orang-orang yang datang kemudian“.

Syariat berqurban dengan menyembelih binatang ternak tersebut menjadi syariat untuk umat nabi Muhammad. Ibadah qurban itu disyariatkan kepada umat Muhammad pada tahun kedua dari Hijrah Nabi SAW. Sebagaimana disyariatkan shalat ‘Idul Adha, shalat ‘Idul Fitri dan Zakat.

Esensi Berqurban

Berdasarkan  ayat 37 surat  Al Hajj (22), bahwa berqurban itu merupakan realisasi taqwa: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhoan) Allah, tetapi ketaqwaan daripada kamulah yang dapat mencapainya.

Adapun menurut Hadis riwayat At Tairmidzi dari Aisyah, hadis itu menunjukan betapa besarnya pahala besarnya bagi orang yang berqurban. Hadis tersebut berbunyi : Dari Aisyah r.a. ia berkata, “ tidak ada satupun perbuatan manusia dari suatu perbuatan pada hari raya Nahr yang lebih disukai oleh Allah daripad mengalirkan darah (menyembelih Qurban). Sesungguhnya orang yang berqurban itu akan datang pada hari kiamat dengan membawa tanduk, bulu dan kuku binatang Qurban itu (sebagai bukti). Sesungguhnya darah yang mengalir itu lebih cepat sampainya kepada Allah daripada jatuhnya darah ke tanah. Maka berbuatlah sebaik-baiknya dengan berqurban, dengan mensucikan diri (ikhlas)”. (HR. At Tirmidzi, ibnu Majah dan Hakim).

Dari dasar-dasar hukum di atas, yakni Alquran dan Sunnah, jelaslah bahwa esensi dari berkurban adalah untuk merupakan realisasi dari nilai ketaqwaan, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS yang telah rela dan ikhlas serta tunduk hanya pada perintah Allah SWT. Demikian pula dengan putranya, Ismail AS yang dengan ketulusan hati dan visi serta misi yang seragam dengan ayahnya, mengikhlaskan dirinya untuk disembelih karena perintah dari Allah SWT telah turun atas ayahnya.

Qurban Masa Kini

Setelah mengetahui asal muasal kurban hingga akhirnya disyariatkan dalam Islam dan menjadi salah satu syiar Islam yang paling dicintai oleh Rasulullah SAW, barulah kita bisa membahas tentang hal-hal yang banyak menjadi masalah di masyarakat mengenai kurban temporer, yakni metode berkurban yang memanfaatkan kecanggihan dan kemudahan informasi saat ini.

Dalam metode kurban digital atau metode berkurban sejenisnya, tentu saja dapat diperbolehkan dalam kacamata agama jika mengikuti tuntunan dan tuntutan Alquran dan Sunnah yang sudah dibahas di atas. Namun, berbicara lebih lanjut mengenai metode yang digunakan, tentu saja ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kurban temporer.

Pertama, masalah niat. Niat adalah salah satu hal yang terpenting sebelum melakukan sebuah tindakan. Baik buruknya itu bergantung pada niat. Dalam Islam, niat juga menjadi salah satu instrumen yang dapat mengukur seberapa besar kecintaan Allah SWT kepada hamba-hambanya.

Dalam Islam, jikalah seorang hamba berniat untuk berbuat baik, maka seorang hamba tersebut sudah mendapatkan satu kebaikan dari niat baik tersebut. Sebaliknya, jika seorang hamba berniat untuk berbuat yang tidak baik, maka Allah SWT belum memerintahkan malaikatnya untuk mencatat niat buruk tersebut sebagai satu keburukan. Barulah, jika niat buruk tersebut dilaksanakan maka hamba tersebut mendapatkan keburukan dan jika niat buruk tersebut tidak dilaksanakan maka hamba tersebut akan berbalik mendapatkan satu kebaikan. Inilah, salah satu dari triliunan indikasi kecintaan Allah SWT kepada hamba-hambanya yang beriman. Maka alangkah sombong dan angkuhnya jika seorang hamba tidak tunduk kepada-Nya.

Dalil tentang niat yang paling mashyur terdengar ialah datang dari hadist nabi SAW. Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Imam Bukhari menyebutkan hadits ini di awal kitab shahihnya sebagai mukadimah kitabnya, di sana tersirat bahwa setiap amal yang tidak diniatkan karena mengharap Wajah Allah adalah sia-sia, tidak ada hasil sama sekali baik di dunia maupun di akhirat. Al Mundzir menyebutkan dari Ar Rabi’ bin Khutsaim, ia berkata, “Segala sesuatu yang tidak diniatkan mencari keridhaan Allah ‘Azza wa Jalla, maka akan sia-sia”.

Abu Abdillah rahimahullah berkata, “Tidak ada hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih banyak, kaya dan dalamnya faidah daripada hadits ini”.

Abdurrahman bin Mahdiy berkata, “Kalau seandainya saya menyusun kitab yang terdiri dari beberapa bab, tentu saya jadikan hadits Umar bin Al Khatthab yang menjelaskan bahwa amal tergantung niat ada dalam setiap bab”.

Menurut Imam Baihaqi, karena tindakan seorang hamba itu terjadi dengan hati, lisan dan anggota badannya, dan niat yang tempatnya di hati adalah salah satu dari tiga hal tersebut dan yang paling utama. Menurut Imam Ahmad adalah, karena ilmu itu berdiri di atas tiga kaidah, di mana semua masalah kembali kepadanya, yaitu:

Pertama, hadits “Innamal a’maalu bin niyyah” (Sesungguhnya amal itu tergantung dengan niat).

Kedua, hadits “Man ‘amila ‘amalan laisa ‘alaihi amrunaa fahuwa radd” (Barang siapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak kami perintahkan, maka amal itu tertolak).

Ketiga, hadits “Al Halaalu bayyin wal haraamu bayyin” (Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas).”

Di samping itu, niat adalah tolok ukur suatu amalan; diterima atau tidaknya tergantung niat dan banyaknya pahala yang didapat atau sedikit pun tergantung niat. Niat adalah perkara hati yang urusannya sangat penting, seseorang bisa naik ke derajat shiddiqin dan bisa jatuh ke derajat yang paling bawah disebabkan karena niatnya.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuatkan perumpamaan terhadap kaidah ini dengan hijrah; yaitu barang siapa yang berhijrah dari negeri syirik mengharapkan pahala Allah, ingin bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menimba ilmu syari’at agar bisa mengamalkannya, maka berarti ia berada di atas jalan Allah (fa hijratuhuu ilallah wa rasuulih), dan Allah akan memberikan balasan untuknya. Sebaliknya, barang siapa yang berhijrah dengan niat untuk mendapatkan keuntungan duniawi, maka dia tidak mendapatkan pahala apa-apa, bahkan jika ke arah maksiat, ia akan mendapatkan dosa.

Singkatnya, jika orang-orang yang berkurban melalui metode transfer dan sejenisnya, pastikan dahulu calon orang berkurban tersebut terlebih dahulu mengikrarkan niatnya walau dalam hati.

Kedua, yakni masalah urgensi atau esensi dari kurban digital tersebut. Jika saja dengan kurban digital tersebut masyarakat yang berada disekitar lingkungannya tidak bisa merasakan hikmah dan manfaat secara langusng dari berkurban, maka kurban yang menjangkau saudara-saudara kita yang lebih jauh tersebut bisa diharamkan secara syariat.

Landsannya adalah  firman Allah SWT, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”. [QS. An-Nisaa' : 36]. Wallahu ‘Alam

 

Hardiyansah Alpin

Aktivis Dakwah Kampus Syahid UIN Jakarta

 

Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top