Hari Santri Nasional

Hari Santri dan Tantangan Pendidikan Islam di Indonesia

gomuslim.co.id- Satu tahun lalu, 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri di Indonesia. Tentu, hal ini harus disambut baik dan dirayakan sebagai pengakuan negara terhadap peran santri dalam sejarah Indonesia modern. Memang, tidak sedikit juga orang yang menyatakan tidak setuju terhadap penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri. Ada yang menganggap hari Santri hanya terkait dengan salah satu Ormas Islam, yaitu NU, sebab pada tanggal itu keluar fatwa jihad KH. Hasyim Asyari yang menyerukan kewajiban umat Islam berperang melawan penjajah. Tentu, anggapan ini patut disayangkan, sebab seruan jihad tersebut dijawab oleh semua umat Islam.

Tetapi, dari sekian alasan penolakan, yang paling menarik adalah alasan penetapan Hari Santri dianggap memperkuat tesis politik aliran Clifford Geertz (1926-2006). Antropolog Amerika ini memilah golongan masyarakat Jawa (baca: Indonesia) menjadi tiga: santri, abangan, dan priyayi dalam bukunya The Religion of Java (1976). Pembagian masyarakat Jawa (Indonesia) kepada tiga aliran itu sudah dibantah oleh banyak penelitian terakhir. Sayang sekali, kita terjebak dalam kategorisasi politik aliran Geertz tersebut, sambil menafikan kenyataan makna dan sejarah santri yang sudah ada sejak berabad-abad lalu. Santri dalam sejarah Indonesia bukan hal baru. Faktor sejarah inilah yang sering dilupakan.

Sejarah Santri di Nusantara

Saat islamisasi Nusantara dilakukan secara lebih professional dan massif pada abad ke-13, Islam tidak benar-benar membawa sesuatu yang baru, tetapi memanfaatkan sistem, konsep, dan pranata yang sudah ada sebelum kedatangan Islam. Sederhananya, Islam telah melakukan islamisasi apa yang telah diasaskan oleh Hindu-Budha, seperti istilah, gagasan, dan pranata tentang santri ini.

Santri, mungkin, berasal dari bahasa Sansekerta “shastri”, yang berakar kata sama dengan kata “sastra”, yaitu kitab suci, agama, atau pengetahuan. Dapat dibayangkan, sebelum Islam datang, mereka yang belajar agama Budha atau Hindu disebut “santri.” Setelah Islam datang, istilah ini diislamkan. Dari sini muncul pengertian santri sebagai murid yang belajar khusus ilmu-lmu agama Islam yang berasrama di pesantren yang dipimpin seorang kyai.

Kata ‘santri’ bisa juga berasal dari kata “cantrik” yang bermakna ‘pembantu atau pelayan’ para begawan atau resi. Sebagai upah dari jasa mereka, Begawan atau resi akan memberikan ilmu pengetahuan. Para begawan atau resi itu adalah tokoh-tokoh utama dalam agama Hindu atau Budha. Setelah Islam datang, istilah ini diislamkan. Dari sinilah muncul adat atau kebiasaan para murid melayani kyai dan keluarganya, bahkan sebelum pelajaran dan pengajian dimulai. Melayani kyai dengan imbalan mengaji tanpa bayaran di pesantrennya.

Jadi, pranata semacam ‘pesantren’ itu sudah ada sebelum datangnya Islam, yaitu lembaga untuk mendidik ahli agama Hindu atau Budha. Umat Islam yang baru di Nusantara itu mengislamkan lembaga dan pranata Hindu-Budha tersebut. Dengan demikian, pesantren dan santri telah lama ada sejak Islam menjadi agama resmi yang dianut oleh masyarakat Nusantara. Kesultanan Banten, misalnya, pada abad ke-16 dan ke-17, memiliki lembaga pendidikan Islam, semacam pesantren, yaitu di daerah Kasunyatan yang dipimpin oleh Kyai Pangeran Kasunyatan.

Ulama abad ke-18 dan ke-19 menjadi awal kesungguhan upaya islamisasi pranata pra-Islam tersebut dengan menjadikan pesantren sebagai wadah pembelajaran agama Islam. Misalnya pada abad ke-19 terdapat banyak santri dan pesantren. Menurut Van Den Berg (1886) di dalam artikelnya «  Het Mohammedaansche godsdienstonderwijs op Java en Madoera en de daarbij gebruikte Arabische boeken » pada paruh kedua abad ke-19, terdapat lima belas ribu (15.000) lembaga pendidikan Islam dengan santri dua puluh lima ribu orang (25.000) yang menjadikan kitab kuning (55 judul) sebagai rujukan utama.

Pada abad ke-19 itu banyak ulama yang menjadi arsitek pendirian pesantren di Nusantara, yaitu Umar Nawawi al-Bantani, Muhammad Saleh Darat, Ahmad Rifai Kalisalak, Mahfuz al-Termasi, Khalil Bangkalan, Asnawi Kudus, dan Hasyim Asyari. Para ulama itu meninggalkan warisan ‘pesantren’ yang masih berdiri hingga sekarang, misalnya Pesantren Tebuireng. Hasil didikan pesantren ini, banyak menjadi orang-orang hebat yang memberikan tidak sedikit terhadap pembangunan negeri ini.

Santri pada Masa Orde Baru

Kebangkitan kaum “santri” terjadi pada masa Orde-Baru. Mereka menjadi orang-orang yang memengaruhi kebijakan negara dan juga masyarakat sesuai dengan peran yang mereka ambil. Politik awal Orde-Baru memang menekan umat Islam, tetapi justeru itu menjadikan pemicu bagi kebanyakan orang untuk lebih mendalami Islam. Di akhir kekuasaan Orde-Baru, sikap ramah pemerintah terhadap Islam menjadikan masa itu sebagai titik penting bagi kaum santri. Pergantian rezim dari Orde-Baru ke Orde-Reformasi telah merubah ranah keagamaan di Tanah Air. Hampir semua orang beralih menjadi santri. Makna santri mengalami perluasan. Dari yang tadi hanya mereka yang pergi ke pesantren, sekarang melingkupi muslim perkotaan yang memasukkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah Islam. Terjadi geliat dan kebangkitan kesadaran Islam.

Kebangkitan kaum santri ditandai dengan jumlah lembaga pendidikan Islam yang terus meningkat, seperti madrasah dan pesantren. Terdapat 40.469 madrasah pada 2008-9 dan 67.3000 madrasah pada 2013 di bawah Kemenag. NU memiliki lebih dari 6.000 sekolah, mulai dari TK/RA sampai Universitas, sementara Muhamadiyyah mempunyai 2.604 SD/MI, 1774 SMP/MTS, 1.143 SMA/MA dan 172 Universitas. Jumlah pesantren dan santri meningkat cukup penting. Hal ini merupakan tantangan bagi pendidikan Islam. Mampukah pesantren mencetak santri-santri baru ini menjadi orang yang berhasil dalam segala bidang? Mampukah pesantren membentuk pribadi-pribadi yang tangguh dalam menghadapi persaingan dunia yang semakin keras?

Santri dan Pendidikan Islam

Inilah makna dan tantangan sesungguhnya bagi kaum santri setelah penetapan Hari Santri sebagai hari Nasional bangsa Indonesia: membenahi dan mengisi pendidikan Indonesia yang karut-marut. Pesantren harus mengedepankan pendidikan yang santun dan penuh teladan. Pesantren dapat menjadi contoh bagi sistem pendidikan nasional yang sedang tidak sehat dengan kasus kekerasan fisik dan seksual. Para ustaz, ustazah, dan semua pihak di pesantren wajib bekerja sama menjadikan pesantren kawah candradimuka pendidikan Islam dan contoh bagi pendidikan nasional.

Keberhasilan Indonesia menjadi negara demokratis di dunia merupakan salah satu sumbangsih besar kaum santri. Para sarjana yang berasal dari santri dapat memformulasikan Islam sebagai sumber etika dan moral dalam tataran substansial kenegaraan. Harus kita akui masih banyak masalah di negeri ini, tetapi dibandingkan dengan negeri-negeri muslim lainnya, Indonesia menjadi contoh par excellence, untuk sistem pendidikan Islam yang baik dengan madrasah dan pesantren menjadi modelnya. 

Tidak berlebihan, jika pemerintah memberikan hari khusus bagi kaum Santri yang telah memberikan sumbangan tidak kecil bagi negara dan bangsa ini, bukan saja dalam merebut kemerdekaan, tetapi dalam mengisi kemerdekaan dan mengawal marwa bangsa ini ke depan. (foto: cssmora)

Ayang Utriza Yakin, Ph.D

Asia Leadership Fellow Program 2016 Jepang dan Direktur Indonesian Sharia Watch

 


Komentar

Tulis Komentar


Back to Top