Bank Halal Itu Bernama Bank Syariah

gomuslim.co.id- Perbankan walaupun belum menjangkau ke seluruh pelosok masyarakat, namun hampir sebagian besar masyarakat terutama masyarakat perkotaan tahu dan menjadi bagian dari bank, baik sebagai nasabah simpanan maupun sebagai nasabah pinjaman atau keduanya.

Jika dahulu di Indonesia hanya ada bank yang berbisnis dengan suku bunga atau yang biasa disebut dengan bank konvensional, sejak tahun 1992 masyarakat diberikan pilihan untuk memilih bank yang menggunakan prinsip syariah yang tentunya bebas dari suku bunga atau riba.

Sejak munculnya bank syariah pertama hingga sekarang ini, bank syariah di Indonesia telah hadir melayani masyarakat selama 25 tahun. Masa 25 tahun tidak dapat dikatakan singkat, walaupun memang belum selama bank konvensional. Jika diibaratkan manusia, usia 25 tahun adalah usia di mana dimulainya jalan menuju kesuksesan.

Namun apa yang terjadi dengan bank syariah kita saat ini? Selama 25 tahun kiprah bank syariah di Indonesia, baru menguasai 5,13% pangsa pasar perbankan Indonesia (statistik perbankan syariah Januari 2017, OJK).

Mengapa seperti ini?

Padahal mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. Apa yang membuat muslim di Indonesia belum tertarik untuk bermitra dengan bank syariah? Jika kita mengetahui bahwa riba itu haram mengapa masih banyak yang tetap memilih bank konvensional dibandingkan dengan bank syariah?

Jika dilihat dari persepsi masyarakat tentang Bank Syariah, masih banyak terdapat persepsi negatif yang menyebabkan masyarakat enggan ke Bank Syariah. Minimnya informasi yang didapatkan seperti apa sebenarnya bisnis Bank Syariah turut andil dalam membentuk persepsi tersebut. Banyak masyarakat yang beranggapan bahwa bank konvensional telah didukung dengan teknologi informasi yang canggih sehingga pelayanan terhadap nasabah lebih cepat.

Ada juga yang beranggapan bahwa Bank Konvensional memberikan  kemudahan dan kantor layanan tersebar di seluruh pelosok sedangkan bank syariah jumlahnya masih sedikit, sehingga akan menyulitkan jika harus bertransaksi baik melalui bank langsung maupun melalui ATM. Alasan-alasan tersebut dapat dibenarkan pada masa beberapa tahun yang lalu, tetapi sekarang Bank Syariah terus berbenah dan berusaha untuk memberikan kemudahan dan pelayanan yang sama bahkan ada yang dapat melebihi bank konvensional.

Di samping pelayanan dan kemudahan, ada juga yang beranggapan jika menabung di bank syariah tidak mendapatkan bunga, lalu apa yang didapat? Sementara nasabah yang menabung ingin mendapatkan hasil dari tabungannya tersebut. Selain itu, kurangnya variasi produk yang ditawarkan juga menjadi salah satu penyebab.

Kesalahpahaman terhadap Bank Syariah membuktikan bahwa sosialisasi tentang perbankan syariah belum menyentuh semua lapisan. Masih banyak masyarakat yang tidak mengerti dan tidak mencari tau seperti apa sebenarnya Bank Syariah. Karena tidak ketidaktahuannya, masyarakat lebih memilih Bank Konvensional. Hal inilah yang menjadi tantangan tersendiri bagi Bank Syariah maupun otoritas terkait untuk semakin gencar mensosialisasikan secara merata bagaimana Bank Syariah itu sebenarnya.

Sosialisasi yang dilakukan ke masyarakat harus mampu membuka mata masyarakat bahwa dalam memilih Bank pun kita harus mempertimbangkan aspek kesyariahannya. Selain dengan adanya sosialisasi yang intensif, Bank Syariah juga harus giat dalam inovasi produk perbankan yang ditawarkan. Bank Syariah seharusnya menjadi solusi dalam hal keuangan khususnya bagi mayoritas muslim di Indonesia.

Jumlah penduduk Indonesia yang mayoritas muslim, seharusnya mampu berperan dalam memajukan Bank Syariah. Jika sampai saat ini kita masih ragu untuk berbank dengan Bank Syariah karena alasan pelayanan, fasilitas dan lain sebagainya, jangan ragu untuk memulai.

Cobalah kunjungi kembali Bank Syariah!

Bank Syariah sekarang sudah jauh lebih maju, dari sisi pelayanan sudah mampu bersaing dengan yang ada di Bank Konvensional. Satu hal yang tidak akan didapati dari Bank Konvensional adalah rasa ketenangan batin, rasa ketenangan karena kita berbisnis dengan bank yang bebas dari riba.

 

Penulis:

 

Dahnila Dahlan

Mahasiswa S2 Program Studi Kajian Timur Tengah dan Islam

Universitas Indonesia

 

 

 

 

 

 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top