Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW: Hikmah Peristiwa Agung Penyempurna Iman

gomuslim.co.id- Setiap tanggal 27 Rajab, umat Islam di seluruh dunia memperingati peristiwa penting dalam sejarah Islam yaitu, Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Peristiwa yang menjadi awal diperintahkannya shalat lima waktu sehari semalam bagi umat Islam.

Isra dan Mi’raj adalah dua peristiwa berbeda tapi terjadi dalam satu malam. Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW yang diberangkatkan oleh Allah dari Masjidil Haram (Mekkah) ke Masjidil Al Aqsa (Yerusalem). Sedangkan Mi’raj adalah peristiwa dinaikkan Rasulullah SAW ke langit sampai ke Sidratul Muntaha yang merupakan tempat tertinggi.

Di sana Beliau mendapat perintah langsung dari Allah SWT untuk menunaikan salat lima waktu. Isra Mi’raj terjadi pada periode akhir kenabian di Makkah sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Menurut al-Maududi dan mayoritas ulama, Isra Mi’raj terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, yaitu antara tahun 620-621 M. Menurut al-Allamah al-Manshurfuri, Isra Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, dan inilah yang populer.

Peristiwa agung ini diabadikan Allah SWT dalam Alquran Surat Al Isra ayat 1. Dalam terjemahan bahasa Indonesianya seperti ini, “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada suatu malam dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa yang Kami berkahi sekelilingnya supaya Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya, Dia adalah Maha Mendengar dan Maha Melihat.”

Mandat Shalat 5 waktu

Inti dari peristiwa Isra’ Mi’raj sebagaimana kita lihat pada ayat 78 surat al-lsra’, adalah untuk menerima mandat melaksanakan shalat lima waktu. Shalat merupakan media untuk mencapai kesalehan spiritual individual hubungannya dengan Allah SWT. Shalat juga menjadi sarana untuk menjadi keseimbangan tatanan masyarakat yang egaliter, beradab, dan penuh kedamaian.

Alexis Carrel pernah menyatakan, “Apabila pengabdian, shalat dan do’a yang tulus kepada Sang Maha pencipta disingkirkan dari tengah kehidupan bermasyarakat, hal itu berarti kita telah menandatangani kontrak bagi kehancuran masyarakat tersebut“.

Perintah shalat ini kemudian menjadi ibadah wajib bagi setiap umat Islam dan memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan ibadah-ibadah wajib lainnya. Sehingga, dalam konteks spiritual-imaniah maupun perspektif rasional-ilmiah, Isra Mi’raj merupakan kajian yang tak kunjung kering inspirasi dan hikmahnya bagi kehidupan umat Islam.

Imam Al-Qusyairi (376 H) dalam buku yang berjudul asli ‘Kitab al-Mikraj’ menjelaskan bahwa Isra Mi’raj merupakan perjalanan suci, dan bukan sekadar perjalanan wisata biasa bagi Rasul. Peristiwa ini menjadi perjalanan bersejarah yang menjadi titik balik dari kebangkitan dakwah Rasulullah SAW.

John Renerd dalam buku ”In the Footsteps of Muhammad: Understanding the Islamic Experience,” seperti pernah dikutip Azyumardi Azra, mengatakan bahwa Isra Mi’raj adalah satu dari tiga perjalanan terpenting dalam sejarah hidup Rasulullah SAW, selain perjalanan hijrah dan Haji Wada. Isra Mi’raj, menurutnya, benar-benar merupakan perjalanan heroik dalam menempuh kesempurnaan dunia spiritual.

Jika perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah pada 662 M menjadi permulaan dari sejarah kaum Muslimin, atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum Muslimin atas kota suci Mekah, maka Isra Mi’raj menjadi puncak perjalanan seorang hamba (al-abd) menuju sang pencipta (al-Khalik). Isra Mi’raj adalah perjalanan menuju kesempurnaan ruhani (insan kamil). Sehingga, perjalanan ini menurut para sufi, adalah perjalanan meninggalkan bumi yang rendah menuju langit yang tinggi.

Jika kita menyadari, dalam setiap shalat selalu membacakan momen penting dari peristiwa Isra Mi’raj pada Tahiyat Akhir. “Attahiyatul mubaarakaatush shalawatuth thayyibatulillah” yang artinya segala penghormatan, kemuliaan, dan keagungan hanyalah milik Allah saja. Kata inilah yang disampaikan oleh Rasul ketika berjumpa dengan Allah SWT.

Allah SWT pun berfirman “Assalamu’alaika ayyuhan nabiyu warahmatullahi wabarakaatuh”. Mendengar percakapan ini, para malaikat serentak mengumandangkan dua kalimah syahadat. “Asyhadu alla Ilaha Illallah, Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”.

Hikmah Isra Mi’raj

Seyyed Hossein Nasr dalam buku ‘Muhammad Kekasih Allah’ (1993) mengungkapkan bahwa pengalaman ruhani yang dialami Rasulullah SAW saat Mi’raj mencerminkan hakikat spiritual dari shalat yang di jalankan umat islam sehari-hari. Dalam artian bahwa shalat adalah mi’raj-nya orang-orang beriman. Sehingga jika kita tarik benang merahnya, ada beberapa urutan dalam perjalanan Rasulullah SAW ini.

Pertama, adanya penderitaan dalam perjuangan yang disikapi dengan kesabaran yang dalam. Kedua, kesabaran yang berbuah balasan dari Allah berupa perjalanan Isra Mi’raj dan perintah shalat. Dan ketiga, shalat menjadi senjata bagi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin untuk bangkit dan merebut kemenangan.

Ketiga hal diatas telah terangkum dengan sangat indah dalam salah satu ayat Alquran, yang berbunyi “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS Al Baqarah ayat 45).

Selain itu, peristiwa Isra Mi’raj mengingatkan kita bahwa perintah shalat tidak serta merta terjadi begitu saja. Tetapi melalui proses perjuangan mulia manusia agung Rasulullah Muhammad SAW yang melakukan perjalanan sangat jauh.

Kita juga perlu bersyukur dengan adanya kewajiban shalat lima waktu bagi setiap muslim. Selain menjadi ibadah wajib, shalat mempunyai manfaat dan nilai utama bagi manusia. Shalat mengingatkan kita untuk selalu menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat.

Mulai dari shalat subuh misalnya, sebelum beraktivitas di pagi hari, kita diingatkan untuk beribadah sebelum matahari terbit. Saat siang hari, kita kembali diingatkan untuk sujud kepadanya melalui shalat dzuhur. Sore menjelang petang, shalat ashar mengingatkan manusia untuk kembali beribadah. Lalu dilanjut dengan shalat maghrib saat matahari terbenam. Dan sebelum istirahat, kita diwajibkan untuk shalat Isya.

Peristiwa Isra Mi'raj merupakan sebuah kejadian gaib (metafisika) yang berada di luar nalar dan logika manusia. Hukum dan ibadah tidak musti dibuktikan secara logika, Valid atau tidaknya kebenaran sebuah peristiwa yang tidak bisa dinalar, bukanlah menjadi soal selagi ia diimani. Maka dari itu, semoga dengan peringatan Isra Mi’raj ini dapat menguatkan keyakinan terhadap Islam menuju kesempurnaan iman. (njs/dbs)

 

Oleh: 

Nur Jamal Shaid, Alumni Bimbingan Penyuluhan Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 

 


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top