Perayaan World Hijab Day, Refleksi untuk Muslimah ‘Jaman Now’ Indonesia

gomuslim.co.id- World Hijab Day, atau hari hijab sedunia yang jatuh setiap tanggal 1 Februari ini berawal dari gerakan yang dilakukan Nazma Khan pada 2013 lalu untuk membuat dunia lebih mengenal perempuan berhijab. Saat itu, ia ingin memberikan kesempatan dalam satu hari yang diselenggarakan setiap tanggal 1 Februari agar semua orang mau mencoba memakai hijab.

Pengalaman memakai hijab ini, diperuntukan bagi semua perempuan dengan latarbelakang dan agama apapun. Tujuannya, untuk memberikan pemahaman bahwa perempuan muslim yang menggunakan hijab bukanlah kelompok yang menakutkan, radikal bahkan teroris.

Sementara di Indonesia, hijab bukanlah barang baru yang mesti diperkenalkan. Dengan menjadi salah satu negara dengan mayoritas masyarakatnya beragama Islam, menjadikan hijab beberapa tahun ke belakang ini terbilang lebih ‘tenar’ sebagai pilihan berpakaian bagi sebagian muslimah.

Perempuan yang mengenakan hijab tidak lagi terlihat kuno, bahkan sebaliknya begitu fashionable tergantung kemampuannya memadu-padankan pakaian dan hijab. Role model-nya pun kini mudah dicari, tak terhitung sudah berapa banyak selebritis dan para influencer media sosial yang berhijab dan mencontohkan bagaimana cara berbusana hijab yang chic.

Ketenaran hijab di Indonesia ini muncul bersamaan dengan lahirnya brand-brand busana hijab yang sedikit banyak mempengaruhi keinginan dan kemudahan perempuan Indonesia untuk mengenakan hijab.

Pengalaman Berhijab dan Maknanya

Saya pribadi mengenakan hijab, baru diumur 17 tahun. Ketika hijab tidak setenar sekarang, memakai hijab-pun awalnya memang untuk menutupi tubuh saya yang entah mengapa ada perasaan was-was ketika berjalan dimuka umum dengan rambut yang terurai.

Meski hijab adalah bagian dari pilihan perempuan muslimah dalam berbusana, agak kurang bijak rasanya jika sekarang kita banyak men-judge mereka yang tidak berhijab atau berhijab tapi dengan berbagai model alternatif pilihan mereka.

Ada satu kutipan yang saya suka tentang hijab ini datang dari Inayah Wahid, putri Presiden keempat Indonesia yang akrab disapa Gus Dur.

“Ironis ketika perempuan yang tidak berhijab dianggap tidak islami dibandingkan dengan mereka yang menggunakan hijab, tapi mereka yang menggunakan hijab kemudian memakai makeup dan riasan bunga-bunga juga kerap dinilai kurang islami. Kadang-kadang semua orang seperti saling menilai orang lain buruk”

Ini menggambarkan bahwa persoalan hijab di negara dengan mayoritas Islam pun dalam tataran praktiknya, muslimah memiliki tafsiran yang berbeda-beda . Meski kebebasan mengenakan hijab (dengan model seperti apa) atau bahkan tidak mengenakan berada pada individu muslim itu sendiri.

Ada satu ayat yang sering dikutip ketika kita membahas hijab, Surat Al-Ahzab Ayat 59 yang artinya “Wahai Nabi, katakanlah terhadap istri-istrimu, anak-anakmu, dan istri-istri orang-orang yang beriman (agar) mereka mengulurkan jilbab mereka. Demikian itu, supaya mereka lebih mudah dikenal dan tidak disakiti. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Menarik untuk direnungi bersama selain dari kutipan langsung firman Allah SWT diatas adalah kisah dibalik turunnya ayat tersebut. Di mana ketika itu istri Nabi keluar karena suatu keperluan tanpa menggunkan kain penutup kepala dan ada sekelompok orang yang menggangu mereka.

Selain itu, pada jaman tersebut, hijab ini juga menandakan perempuan yang merdeka sedangkan budak perempuan saat itu tidak menutup kepalanya.

Renungan untuk Muslimah ‘Jaman Now’

Bila dikaitkan pada saat ini, masihkah niat berhijab kita untuk melindungi diri, menghindarkan diri dari gangguan-gangguan dan menaati kewajiban Allah? Atau bahkan niat berhijab kita hanya untuk mengikuti trend terkini dan merasa fashionable ketika berhijab?

Atau justru hijab adalah pembatas ruang gerak kita dan bukan menjadi simbol kebabasan kita?

Apapun yang ada di dalam benak, mari bersama menjadikan momen Hijab World Day ini sebagai refleksi diri. Mencari, menggali kembali mengapa dan untuk apa kita berhijab.

Wallahu’alam Bissawab

 

 

Penulis:

Ratu Arti Wulan Sari

Mahasiswi Magister Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung

Alumni Forum Indonesia Muda (FIM) 2015

 


Back to Top