Refleksi Peringatan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW

gomuslim.co.id- Isra dan Mi’raj merupakan dua peristiwa penting dalam Islam. Saking utamanya, kejadian luar biasa yang sulit dijangkau nalar manusia ini diabadikan dalam kitab suci Alquran surat Al Isra ayat 1. 

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha yang tela kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. 17:1)

Bagaimana tidak, Alquran menggambarkan Nabi Muhammad telah melakukan perjalanan spiritual yang super cepat hanya dalam waktu semalam. Perjalanan dimulai dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Palestina (Isra). Kemudian, perjalanan Nabi berlanjut sampai ke Sidratul Muntaha yang merupakan tempat tertinggi (Mi’raj). 

Bagi seorang yang tidak memiliki iman, peristiwa super dahsyat ini sangat sulit dipercaya. Namun, kitab suci Alquran menyatakan demikian. Artinya, seorang muslim haruslah meyakini bahwa kejadian itu benar-benar nyata atas kehendak Allah SWT. Apalagi Nabi Muhammad SAW merupakan sosok yang jujur dan terpercaya dengan gelar "al-Amin" (yang terpercaya) dari masyarakat jauh sebelum dirinya diangkat sebagai nabi.

Setiap tahun, umat muslim di seluruh dunia memperingati peristiwa agung yang terjadi pada tahun ke 10 kenabian, yaitu antara tahun 620-621 M atau setahun sebelum Nabi hijrah ke Madinah. Namun, sebetulnya apa hikmah yang bisa diambil dan substansi dari kejadian ini bagi muslim?

Seperti disebutkan dalam beberapa keterangan, sebelum peristiwa Isra dan Mi’raj terjadi, Nabi mengalami cobaan yang sangat berat yaitu ditinggalkan orang-orang penting dan paling dicintainya. Adalah pamannya Abu Thalib dan kemudian istrinya Khadijah meninggal dunia dalam jarak waktu yang tidak lama.

Saat mengalami kesedihan inilah, Allah SWT menghibur sang Nabi dengan memperjalankan Nabi melalui Isra dan Mi’raj. Peristiwa yang dianggap mustahil ini pun hampir saja diragukan oleh sahabat Nabi, Abu Bakar.

Namun, sahabat bergelar Ash-Shiddiq (yang membenarkan) ini memiliki cara sendiri untuk meyakini peritiwa heroik tersebut. Ia menanyakan langsung kepada Nabi soal bagaimana ciri-ciri Baitul Maqdis, karena Abu Bakar pernah singgah sebelumnya ketika perjalanan niaganya.

Benar saja, tak ada satupun yang meleset dari jawaban Nabi soal ciri-ciri dan kondisi Baitul Maqdis, sehingga dirinya dengan yakin membenarkan cerita Nabi bahkan sampai berkali-kali membenarkan setiap Nabi menceritakan apa yang dialaminya. Itulah kenapa, Abu Bakar kemudian diberi gelar "Ash-Shiddiq" (yang membenarkan), karena dialah satu-satunya orang yang dengan begitu yakin, sangat percaya atas seluruh apa yang diceritakan Nabi, tanpa harus meminta pertimbangan akalnya terlebih dahulu.

Ada beberapa hikmah yang dapat diambil dari peristiwa Isra Mi’raj ini. Sehingga harapannya umat tidak terjebak hanya dalam peringatan seremonial saja, tetapi masuk pada hal yang lebih substansial dan kontekstual.

Pertama, setiap manusia yang hidup tidak akan pernah lepas dari berbagai persoalan. Namun, semua persoalan tersebut selalu menyimpan jawaban tersendiri. Salah satunya adalah dengan mengadakan perjalanan wisata spiritual.

Perjalanan yang diperuntukkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW adalah bentuk wisata spritual dalam rangka meneguhkan pendirian dan keistiqomahan serta kesabaran beliau dalam menghadapi berbagai tantangan dan kecaman kafir Quraisy pada saat itu.

Begitu pun dengan kita, setidaknya cara yang dilakukan dengan mendatangi tempat-tempat yang sifatnya menggugah keimanan dan ketakwaan, seperti tadabbur alam, tempat bersejarah, atau bahkan tempat-tempat wisata, yang kita dapat menangkap dan menerjemahkannya untuk mengokohkan dan memperkuat keimanan.

Kedua, pesan paling substansial dari perjalanan Isra’ Mi’raj adalah kewajiban bagi kaum muslimin untuk menegakkan shalat. Shalat merupakan sarana terpenting guna menyucikan jiwa dan memelihara ruhani. Shalat juga dibutuhkan oleh masyarakat manusia. Karena, shalat dalam pengertiannya yang luas, merupakan dasar-dasar pembangunan.

Dalam ibadah shalat, kesadaran vertikal-spiritual dan aksi-sosial itu disimbolisasikan dengan ucapan takbir di permulaan dan diakhiri dengan salam sambil menengok ke kanan dan ke kiri. Keduanya merupakan bahasa performatif dan deklaratif bahwa setiap muslim yang selalu menegakkan shalat, baru akan bermakna shalatnya kalau dilanjutkan dengan sikap kepedulian sosial secara nyata. (Komaruddin Hidayat: 2000)

Pada hakikatnya, kalau kita mau merenung, dengan shalat kita diajak melakukan transendensi, merefleksi, mengapresiasi, serta menginternalisasi nilai-nilai moral Ilahi yang sangat mulia, dalam rangka memelihara eksistensi martabat manusia, yang oleh Alquran disebut dengan istilah taqwa.

Manusia membutuhkan petunjuk yang dapat mengarahkannya menuju ketenangan batin dan ketenteraman jiwa. Batin yang telah lama gersang, kering kerontang, mendambakan siraman spiritual. Sehingga kembali bangkit penuh optimisme menyongsong hari esok yang lebih cerah. Dalam konteks ini, shalat menjadi solusi yang tepat, seperti dalam Hadis Nabi, “Shalat adalah mi’rajnya kaum Muslimin”.

Shalat lima waktu sehari semalam merupakan solusi bagi persoalan dan sebagai sarana untuk meminta pertolongan Allah SWT. ”Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu” (QS. 2:45).

Ketiga, kata Isra yang berarti "perjalanan" menunjukan bahwa sejatinya kehidupan manusia merupakan perjalanan melewati berbagai peristiwa. Perjalanan ini sifatnya hanya sesaat karena ada kehidupan akhirat yang lebih kekal. Dunia hanya ladang bagi manusia untuk memperbanyak bekal dengan ibadah dan amal kebaikan.

Perjalanan sesungguhnya dalam dimensi kehidupan manusia adalah Mi'raj (mencapai puncak tertinggi). Ini disebut sebagai perjalanan meninggalkan bumi yang rendah menuju langit yang tinggi. Mi'raj seakan menjadi perjalanan spiritual tanpa penghalang antara seorang hamba dengan Tuhannya.

Keempat, Isra’ dan Mi’raj hakikatnya adalah dua etape penyeberangan keyakinan. Yaitu: Isra’ berarti perjalanan menyeberang dari Ilmul Yaqin menuju Ainul Yaqin. Mi’raj berarti perjalanan menyeberang dari Ainul Yakin menuju Haqqul Yakin.

Berbagai kajian ilmiah, berbagai analisa, berbagai pemikiran tentang Isra’dan Mi’raj tak pernah habis dan tak pernah selesai ditulis oleh para ahli di bidangnya masing-masing baik ditinjau dari segi historis (sejarahnya) maupun dari segi substansinya (makna yang terkandung di dalamnya) karena peristiwa Isra’dan Mi’raj adalah suatu peristiwa spektakuler yang tidak dapat dijangkau oleh logika manusia yang bersifat relatif dan terbatas oleh ruang dan waktu. “Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali sedikit” (QS. 17:85).

Isra’ dan Mi’raj juga merupakan mu’jizat yang diperagakan oleh Allah kepada nabi Muhammad SAW yang mengatasi segala teori ilmiah yang dibuat oleh manusia untuk membuktikan kemahakuasaan Allah dalam segala hal diantara sekalian makhluknya. ”Sesungguhnya perkataan kami terhadap sesuatu apabila kami menghendakinya, kami hanya mengatakan kepadanya Kun (jadilah)! maka jadilah ia” (QS. 16:40)

Karena itu dalam memandang peristiwa Isra’ dan Mi’raj tidak hanya ditinjau dari sudut ilmiah saja tetapi juga harus dipandang dari sudut Imaniah. Karena jika peristiwa Isra’ dan Mi’raj hanya dipandang dari segi ilmiah tak akan ketemu teorinya dan tak akan terjangkau oleh pemikiran manusia yang sempit ini.

Ruang dan waktu adalah statistika manusia, perhitungan makhluk. Sementara Tuhan adalah Sang Penguasa yang tiada pernah dibatasi oleh ruang maupun waktu.

Kelima, konsep Isra banyak yang menafsirkan sebagai hubungan dengan sesama manusia (hubungan sosial). Sedangkan konsep Mi'raj adalah hubungan dengan Allah. Keduanya disebut dengan hubungan horizontal dan vertikal. Dalam Islam, keduanya harus saling berkaitan, sehingga muncul istilah kesalehan sosial dan kesalehan individual. (njs/dbs)

Wallaahu a'lamu bishshowaab.

 

 

 


Back to Top