#HariBumi22April

Peringatan Hari Bumi: Mengamalkan Aksi Pelestarian Lingkungan yang Termaktub dalam Alquran

gomuslim.co.id-Isu lingkungan sering kali menjadi buah simalakama di negeri ini, di satu sisi sangat merugikan bagi alam, flora, fauna, dan tentunya manusia. Tapi di sisi lain, tak jarang isu ini sering kali diacuhkan. Bahkan, mirisnya dilupakan demi menghilangkan jejak untuk sebuah kepentingan.

Sudah banyak kasus yang terjadi di bumi pertiwi, dan seolah tidak pernah ada habisnya akibat ulah manusia itu sendiri. Padahal, alam sebagai penyangga dan pemberi kehidupan telah banyak memberikan kekayaan pada manusia.

Untuk kembali melawan lupa, ada 4 kejadian bencana alam terdahsyat karena kelalaian manusia yang dirangkum penulis.

Pertama, pada 29 Mei 2006, sebuah bencana luar biasa datang dari Sidoarjo yang dikenal dengan bencana Lumpur Lapindo. Kejadian ini berlokasi di pengeboran Lapindo Brantas Inc. di Dusun Balongnongo Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia.

Semburan lumpur panas menyebabkan tergenangnya kawasan pemukiman, pertanian, dan perindustrian di 16 desa di tiga kecamatan. Akibatnya, ribuan kepala keluarga harus mengungsi, mempengaruhi aktivitas perekonomian dan ekosistem lingkungan di Jawa Timur. Bukan rahasia umum lagi, semburan lumpur diakibatkan dari kesalahan prosedur dalam kegiatan pengeboran.

Kedua, di awal Maret 2014, kebakaran hutan dan lahan gambut terjadi di provinsi Riau, Sumatera. Hampir 50 ribu orang mengalami masalah pernapasan akibat kabut asap. Bahkan, berdasarkan pantauan citra satelit, banyaknya asap polutan yang dilepaskan ke atmosfer, yang  berdampak pada perubahan iklim.

Lagi-lagi, bencana terbakarnya hutan diakibatkan oleh manusia. Pembukaan lahan untuk tujuan agrikultur. Sekitar setengah dari kebakaran berlangsung di lahan yang dikelola oleh perusahaan tanaman industri, kelapa sawit, serta kayu.

Ketiga, belum lama ini kabar duka yang menggeramkan masyarakat Indonesia datang dari perairan Raja Ampat, Papua. Sebuah kapal pesiar milik Inggris, Caledonian Sky menabrak area utama terumbu karang pada 04 Maret 2017.

Kapal yang memiliki panjang 90 meter itu kandas saat air sedang surut usai melakukan aktivitas pemantauan burung di Pulau Waigeo.

Padahal, kapal tersebut telah dilengkapi dengan alat pemantau radar dan GPS. Akibatnya, terjadi kerusakan ekosistem di struktur habitat dan hilangnya beberapa jenis terumbu karang seperti acropra, porites, montipora dan stylophora.

Dan keempat, peristiwa yang belum lama terjadi, pencemaran minyak di teluk Balikpapan akibat pipa minyak yang bocor pada 31 Maret 2017. Minyak yang tumpah di Teluk Balikpapan berasal dari kebocoran pipa milik Pertamina yang putus dari arah perairan Lawe-lawe Penajam Paser Utara (PPU).

Mirisnya, fakta lapangan menemukan ekosistem terdampak berupa kerusakan hutan mangrove sekitar 34 hektar di Kelurahan Kariangau, 6.000 bibit mangrove di Kampung Atas Air Margasari, 2.000 bibit mangrove warga Kampung Atas Air Margasari, kepiting mati di Pantai Banua Patra, dan biota laut mamalia, seperti dugong, pesut, lumba-lumba hidung botol dan lumba-lumba tanpa sirip belakang juga terganggu habitatnya.

Di area pemukiman juga terasa dampaknya, warga merasakan mual dan pusing akibat menghirup bau minyak yang menyengat.

Beberapa contoh tersebut adalah bentuk kelalaian manusia pada alam yang akibatnya memberikan efek domino pada rantai ekosistem yang bermuara pada manusia. Keempat kasus ini hanya sedikit contoh dari kasus-kasus lainnya yang tidak terekspose. Di beberapa daerah sering kali terjadi namun tidak tertangani dengan baik serta proses yang berlarut-larut.

Tindakan pemerintah lebih pada reaktif daripada preventif. Tidak ada upaya pencegahan dan tak pernah belajar dari kejadian sebelumnya, hal inilah yang harus dirubah oleh generasi milenial.

Meski efeknya sudah meluas dan membutuhkan waktu panjang, namun upaya pencegahan masih bisa dilakukan dan tidak ada kata terlambat. Lakukan hal terkecil mulai dari;

1.      Beli yang baik

Konsumen adalah pihak yang sangat berpengaruh pada bumi. Jadilah konsumen yang mengetahui bagaimana produk diproses, apa dampak yang dihasilkan. Beli produk yang benar-benar dibutuhkan, dan membeli produk yang memiliki eco label.

2.      Ikut menjaga bumi dengan bergabung di komunitas lingkungan

Tidak harus menunggu menjadi dia atau mereka, segala sesuatu harus dimulai dari diri sendiri dan langkah kecil. Ada banyak kegiatan komunitas yang dapat diikuti sebagai partisipasi dalam menjaga dan melestarikan alam.

3.      Gaya hidup ramah lingkungan

Sebagai manusia yang bertanggung jawab, sudah saatnya memikirkan dampak apa yang terjadi dari setiap hal yang dikonsumsi. Bukan saatnya acuh dengan lingkungan sekitar, sadar sedari dini dengan keterbatasan sumber daya alam adalah hal yang bijak. Jadilah generasi milenial yang hidup ramah lingkungan, dimulai dari hal yang terkecil seperti; naik kendaraan umum untuk mengurangi polusi udara, tidak membuang sampah sembarangan, membawa tempat minum, mengurangi penggunaan plastik, styrofoam, dan mengkampanyekan/menularkan hal yang sama kepada keluarga, teman dan masyarakat.

Meneladani Hari Bumi dari Perspektif Alquran

Merefleksikan Hari Bumi 22 April 2018 menyadarkan kita agar melawan lupa tentang isu dan kerusakan apa yang selama ini terjadi. Seberapa besar dampaknya bagi kehidupan di masa yang akan datang dan generasi berikutnya.

Dalam Islam, manusia diajarkan untuk peduli lingkungan dan memakmurkan bumi. Seperti yang tertuang dalam Al Quran;

“Dia menciptakan kami dari tanah dan menjadikan kamu memakmurkannya”. (QS. 11 : 61).

“Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan”. (QS. 26 : 183).

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah Allah memperbaikinya”. (QS. 7 : 56).

Katakanlah “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adalah sekutu-sekutu bagi-Nya (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam” dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni-penghuni) nya dalam empat masa sesuai bagi segala yang memerlukannya. (QS. 41 : 9-10).

Allah SWT  telah memberikan segala isi Bumi untuk manusia, sebagai Muslim yang bertaqwa hendaknya meneladani pesan yang sudah tertuang dalam Alquran. Bukan bersikap serakah dan terus mengeruk tanpa melestarikan. Bukan hanya berdiam diri tanpa ada aksi. Bumi tidak butuh manusia, tapi manusia butuh Bumi untuk hidup hingga mati. Mari sayangi dan rawat bumi kita! Salam Lestari. (nat)

Penulis: Nathasi Fadlin, Aktivis Kemangteer Jakarta

 

 

 

 


Back to Top