#HariAnakNasional

Begini Cara ‘IKHLAS’ Mendidik Anak Zaman Now untuk Persiapkan Generasi Zaman Future

gomuslim.co.id- Setiap tanggal 23 Juli, Indonesia merayakan peringatan Hari Anak Nasional. Peringatan ini bermula sejak tahun 1986 silam, berdasarkan Keputusan Presiden No. 44 tahun 1984. Sebagai negara yang telah menetapkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, pemenuhan hak dan perlindungan anak belum optimal. Sebagai contohnya; masih banyaknya anak yang tidak memiliki akta kelahiran, informasi yang ada belum ramah anak, mudahnya anak mengakses pornografi, masih banyak anak yang terkendala dalam layanan kesehatan, terbatasnya ruang kreativitas anak, masih banyaknya pekerja anak, serta maraknya kekerasan anak baik kekerasan di rumah, di jalan, di sekolah, dan tempat lainnya.

Bahkan dalam beberapa kasus terakhir anak dijadikan sebagai pelaku pornografi atau pornoaksi, pelaku tindak terorisme, diajak dalam aksi bunuh diri hingga dijadikan sebagai pemakai atau pengedar narkoba. Hal-hal tersebut sangatlah miris dengan posisi anak yang seharusnya dilindungi dan termasuk hak asasi manusia yang diakui secara internasional.

Hari Anak Nasional, bagi saya adalah momentum tahunan yang baik untuk merenung kembali tentang makna anak bagi orangtua sebagai pihak yang paling bertanggungjawab dalam mendidik anak-anaknya. Hal ini dikarenakan anak adalah anugerah terindah yang dimiliki oleh orangtua. Tetapi, anugerah tersebut dapat menjadi hal sebaliknya jika orangtua tidak dapat mendidik anak-anaknya dengan tepat. Karena itu, menjadi orangtua tidaklah mudah karena perlu melakukan perjuangan seumur hidup dalam mendidik putra-putrinya. Apa yang dilakukan orangtua sejatinya adalah investasi untuk masa kini dan diharapkan hasilnya pada masa depan.

Mendidik anak di masa kini berarti sedang mempersiapkan generasi selanjutnya. Setelah Generasi Y atau lebih dikenal dengan istilah Milenial (1980-1995), kemudian Generasi Z (1995-2010), maka terbitlah Generasi Alfa yang lahir mulai tahun 2010. Pada tahun 2030-2040, Indonesia diprediksi akan mengalami masa bonus demografi, yakni jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun). Itu artinya, pada tahun 2030-2040 Generasi Alfa yang menjadi penduduk usia produktif. Agar mendapatkan generasi emas Indonesia, para orang tua hendaklah bersiap dan bersegera melakukan pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya.

Sebagai orangtua muslim, referensi utama dalam mendidik anak haruslah bersumber pada Al-Qur'an, khususnya dalam surat Luqman ayat 13 sampai dengan ayat 18 yang mengisahkan bagaimana seorang Luqman Al-Hakim mendidik anaknya. Wasiat beliau kepada anaknya adalah tentang larangan untuk berbuat syirik dan menyekutukan Allah SWT, berbakti kepada orangtua, adanya pengawasan Allah SWT kepada manusia, selalu mengerjakan sholat, menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, selalu bersabar, tidak bersifat sombong dan bersifat tawadhu.

Berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW dan melalui berbagai referensi pustaka, keikutsertaan dalam berbagai seminar maupun training tentang parenting juga hasil dari mini riset yang saya lakukan dengan responden sebanyak 35 orang. Setidaknya ada enam hal dasar yang harus dimiliki setiap orangtua muslim dalam mendidik anak-anaknya yang saya rangkum dalam akronim kata IKHLAS (Iman dan Ilmu, Keteladanan, Happy, Loving heart, Adaptif, dan Sosial).

Iman dan Ilmu

Dua hal utama ini adalah satu paket yang tidak dapat dipisahkan. Bahwa Iman sebagai penunjuk dalam Ilmu, juga Ilmu sebagai penuntun dalam menggapai Iman. Mendidik dengan ilmu tanpa iman, akan menjadi buta. Sedangkan mendidik hanya dengan iman tanpa ilmu, akan lumpuh. Untuk menumbuhkembangkan iman dalam mendidik anak, orang tua harus menjadi pelopor kesholihan pribadi yaitu dengan bertaqwa kepada Allah SWT dan mengerjakan segala sesuatu secara ikhlas. Orangtua yang berilmu adalah orang tua yang berpendidikan secara formal juga terus menerus mempelajari Islam secara kaafah (menyeluruh) serta mempelajari ilmu pendukung mendidik anak dari berbagai disiplin ilmu yang berkembang dan sesuai yang disyariatkan oleh Rasulullah SAW.

Keteladanan

Orangtua adalah teladan pertama yang dilihat oleh anaknya. Untuk itu orang tua harus senantiasa berakhlak mulia, jujur, disiplin, konsisten, disiplin, bertanggung jawab, mampu memberikan nafkah yang halal untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya juga mampu mendampingi mereka dalam proses menuju manusia dewasa yang sholih.

Happy

Mendidik anak haruslah happy, karena hampir tidak mungkin orangtua bisa membahagiakan dan mendidik anak untuk bahagia jika orang tua tidak bahagia. Menjadi orang tua bahagia dapat diperoleh dengan mengusahakan hidup yang nikmat, berkat dan hikmat. Nikmat (pleasant life) ketika dapat menerima keadaan diri apa adanya, berkat (good life) ketika dapat merasakan hal kebaikan dalam segala hal, serta hikmat (meaningful life) yaitu mengusahakan kehidupan yang bermakna bagi pribadi dan sekitarnya. Ketika orangtua bahagia, maka ia sesungguhnya dapat bersikap dewasa, fleksibel, memiliki selera humor yang sesuai kondisi juga bermental kuat yang tidak rapuh.

Loving heart

Hati yang penuh cinta dan kasih sayang lahir dari rasa syukur mendalam atas karunia yang diberikan Allah SWT. Menyadari anak adalah karunia yang harus disyukuri dapat menjadikannya sosok orang tua yang menyayangi anak apapun keadaanya (unconditional love). Orang tua yang memiliki hati yang penuh cinta dan kasih sayang dapat memanusiakan anak selayaknya, menganggap anak adalah cerminan dirinya yang harus dicintai dan disayangi serta dapat menjadi sahabat terbaik saat anak membutuhkan nasihat dan curhat.

Adaptif

Mendidik anak tak lekang oleh zaman, baik zaman old, zaman now hingga zaman future, maka orang tua harus mampu beradaptasi dengan perkembangan pada setiap zaman. Pemanfaatan berbagai perangkat teknologi digital (televisi, laptop, tablet, dan smartphone) yang terhubung dengan internet dalam pola asuh anak bagaikan dua sisi mata pisau, satu sisi bermanfaat positif namun di sisi lain memiliki dampak negatif.

Hal positifnya yaitu ketika informasi yang diakses pada perangkat atau gadget tersebut bernilai edukatif bagi anak namun penggunaannya harus sangat dibatasi dan diawasi oleh orang tua untuk mencegah paparan radiasi yang dapat mengganggu kesehatan dan perilaku kecanduan atau adiksi dalam menggunakannya. Hal negatif tentu sangat banyak konten yang seharusnya tidak diakses oleh anak, di dunia internet konten tersebut masih dengan “bebas” bermunculan seperti konten pornografi, ujaran kebencian/kekerasan, serta berita bohong (hoax). Menjadi orang tua yang adaptif adalah orang tua yang visioner serta memahami makna teknologi dan kemanfaatannya dalam mendidik anak bukan yang menjadi “hamba teknologi”. Orangtua dalam mendidik anak tidak menutup diri terhadap perkembangan informasi tetapi dapat memanfaatkan informasi untuk menjadikan dirinya dan anak-anaknya menjadi lebih baik dan bijaksana.

Sosial

Pendidikan sosial (kemasyarakatan) untuk anak harus dilakukan oleh orangtua. Hal yang dapat dilakukan adalah memilih lingkungan yang baik sebagai tempat tinggal dan tempat pendidikan anak-anak. Dalam berinteraksi sehari-hari dengan anak, orang tua juga harus memiliki keterampilan sosial  (social skills) untuk membantu kelangsungan komunikasi dan hubungan sosial anak dengan anggota keluarga, teman, serta lingkungan sekitar. Keterampilan sosial seperti berlaku adil, empati, komunikatif, perhatian, ramah, berpikir dan bersikap terbuka, mau berbagi serta toleransi.

Pola asuh IKHLAS tidak serta merta didapatkan saat menjadi orang tua, diperlukan satu kata yakni BELAJAR untuk dapat mewujudkannya. Belajar menjadi orang tua yang IKHLAS adalah dengan cara belajar ilmu agama Islam dan ilmu penunjang parenting, belajar menjaga diri dan keluarga untuk menjadi sakinah mawaddah wa rohmah, belajar berinteraksi lebih baik lagi dengan anak, serta belajar menjadi anggota masyarakat yang dapat memberikan manfaat terbaik.

Mendidik anak zaman now yang merupakan Generasi Z dan Generasi Alfa tidak mudah karena berbagai tantangan yang menyertai. Orangtua harus senantiasa belajar untuk menjadi IKHLAS dalam mempersiapkan generasi emas untuk Indonesia di masa bonus demografi.

Wallahu’a'lam Bishawab


“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh.” (H.R. Muslim)

 

Penulis:

Ceria Isra Ningtyas

Seorang ibu, co-founder Ummi’s Corner (cikal bakal @mommeeid), pustakawan, dan mahasiswa Program Magister Ilmu Komunikasi Konsentrasi Informasi dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung.

 

 


Back to Top