Memilih Angkot dan Taksi Online di Tanah Suci

Seperti di tanah air, taksi online juga sedang marak, meski tempat-tempat ramai seperti sekitar Masjidil Haram, hingga saat ini diramaikan taksi pribadi dengan sistem mirip angkutan kota (angkot) di tanah air. Baik taksi online maupun taksi biasa yang menggunakan sistem borongan, jemaah atau pribadi, semua perlu dicermati dengan seksama. Benar, taksi online lebih aman karena terkontrol tetapi bersikap waspada di negeri jauh tentu lebih utama.

Bagaimana cara aman naik taksi di tanah suci, berikut catatan  gomuslim untuk jemaah haji dan umrah Indonesia yang sering menggunakan moda transportasi taksi untuk keperluan dalam kota, seperti mengambil miqat umrah tambahan di Ji’rona.

 Tips naik taksi di Saudi

1. Membaca doa sebelum, saat naik, dan turun dari taksi. Minta perlindungan dari Allah SWT agar diberi keselamatan perjalanan.

2. Jika menggunakan taksi online.  Caranya dengan instal aplikasi taksi online, GPS-nya akan mencari lokasi pemesan. Dalam taksi online ada rekaman, sehingga driver tidak dapat berbuat macam-macam sebagaimana sering diberitakan ada penumpang dibawa kabur dan lainnya. Terkadang bahkan ada promo naik gratis pada event tertentu misalnya saat breast cancer awareness Bulan Oktober 2015 lalu. Kita tinggal cetak email dari perusahaan online tersebut dan ditunjukkan pada saat kita naik taksi. Untuk mengetahui apakah taksi tersebut ikut anggota taksi online biasanya dibedakan dengan adanya stiker di bangkunya.

3. Tidak pergi sendiri. Meskipun tidak semua Supir taksi itu buruk perangainya, namun demi keamanan sebaiknya pergi berjemaah.

4. Lihat Supir dan kondisi taksi. Berdasarkan pengalaman, demi keamanan dan kelancaran berkomunikasi bila tidak dapat berbahasa Arab sebaiknya pilih Supir yang bisa berbahasa Inggris dan mobilnya masih cukup terawat. Kadang kita juga merasa risih bila si Supir sering bertanya-tanya ke penumpang seperti asal dari negara mana, pekerjaannya apa, dan sebagainya. Supir yang sering iseng bertanya-tanya ini tidak hanya Supir Saudi tapi juga kadang Supir Pakistan, Bangladesh, atau India.

5. Pilih supir taksi Indonesia. Akan lebih baik bila kita tahu nomor telepon Supir taksi Indonesia, karena ada beberapa warga Indonesia yang bekerja sebagai Supir taxi di Saudi. Ingat-ingat juga nomor taxi yang kita pakai, sehingga bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, urusan dapat lebih mudah.

6. Untuk taksi non-online, sebelum naik, sepakati dulu ongkosnya. Sekalipun menggunakan argometer, Supir taksi lebih suka sistem borongan.

7. Biasanya untuk taksi tujuan Masjidil Haram, para Supir taksi sering menggunakan sistem ‘ramai-ramai’. Satu taksi diisi penuh tempat duduk meski saling tidak mengenal.

Satu hal lagi ketika berada di ruang publik di Saudi (atau berpapasan orang tidak dikenal misalnya di pertokoan saat transaksi atau menanyakan barang yang akan dibeli), meski senyum adalah ibadah, tapi jangan coba-coba banyak bicara atau terlalu sering tersenyum, apalagi dengan Supir taksi. Kalau Supir mulai bertindak kurang sopan, pasang wajah tegas bahkan kalau perlu minta turun langsung bila lokasi dirasa aman. (mm)


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top