Siap Haji-Umrah (8)

Jaga Adab Saat Masuki Tanah Haramain

Jakarta, (gomuslim). Adab atau tingkah laku dan sikap selama berada di Haramain, Mekkah dan Madinah, terkadang masih menjadi persoalan bagi jamaah haji atau umrah. Menurut beberapa kisah yang dituturkan oleh jamaah masih tak sedikit jamaah asal tanah air yang belum paham soal adab, tata krama dan adat orab Arab. Tak ketinggalan juga bagaimana memahami hukum-hukum saat memasuki kota suci belum banyak dipahami oleh “orang kita”.

 

Hindari Penggunaan Air Berlebihan

Suatu kali jamaah haji asal Indonesia pernah dijuluki ‘Haji Ikan’. Apa pasal? Julukan ini datang karena perilaku kebiasaan orang Indonesia saat menggunakan air entah ketika ke kamar mandi, berwudlu atau di toilet yang secara berlebihan. Di antarnya, hampir sebagian besar jamaah melakukan ‘ritual mandi’ lebih dari dua kali dalam sehari. Dalam menjalani prosesi mandi itu menghabiskan durasi waktu yang lama di kamar mandi. Tentu ini kurang mengenakkan bagi yang lain, apalagi berbuat berlebihan (isyraf) dalam penggunanaan air. Orang Arab memandang perilaku ini sebagai kejanggalan dan ketidakwajaran, mengingat tanah Arab tergolong tanah yang minim air.  

 

Tahu Posisi

Pemandangan “agak norak” bukan sesuatu yang aneh dari jamaah haji atau umrah asal Indonesia. Tak sedikit jemaah asal Indonesia tidak paham adab dan hukum-hukum memasuki tanah haram. Tentu ini menyedihkan bukan? Masih banyak di antara mereka tak bisa membedakan kehadirannya di Kota Suci Makkah al Mukarramah dan Madinah al Munawwarah sebagai bentuk panggilan Allah Subhanahu Wata’ala semata. Mereka berada di tanah negeri yang Allah muliakan di dalam kitab suci-Nya.

Jika Anda membawa hand phone, cobalah setting nada deringnya di atur untuk kawasan “tertib suara”. Jangan seperti kisah seorang jamaah haji asal Indonesia saat tawaf hand phonenya berdering, dan nada deringnya—masya Allah, lagu dangdut goyang koplo yang lagi hits saat itu, “goyang dombret.” Selain ini mengganggu kekhusukan jamaah lain, tentu juga dianggap kurang beradab di depan Kakbah, rumah Allah.

Selain itu, jangan berbuat kejanggalan atau keanehan di lingkungan Masjidil haram, misalnya merokok yang barangtentu sudah dilarang.

 

Tabarruj

Jamaah perempuan memiliki kebebasan pakaian apa yang akan dikenakan selama manasik, selama itu menutup aurat. Tetapi satu hal yang harus dihindari ialah tabarruj, berdandan dan berpakaian berlebihan. Sehingga mengganggu atau memancing orang lain, terutama jamaah lelaki, untuk meliriknya. Tabarruj ini dalam selangkah lagi bisa dihukumi haram, bila sudah pada taraf menggoda dan membangkitkan hawa nafsu.

Sebaiknya menjaga penampilan yang sopan dan beradab tidak hanya selama prosesi manasik saja. Tetapi juga selama di Mekkah dan Madina, atau secara umum di Arab. Karena tradisi dan adat di sana tidak boleh kaum hawa berdandan belebihan baik dalam berpakaian atau bersolek.

Satu lagi yang perlu diperhatikan seorang muslimah. Jika Anda sedang menawar barang dagangan orang Arab janganlah disertai sikap menggoda agar dapat harga murah atau genit. Itu akan menunjukkan pengertian bahwa Anda adalah “perempuan gampangan”. Tatapan mata dengan sikap untuk menggoda itu diartikan oleh orang Arab sebagai godaan dan ajakan ke hal-hal yang kurang baik. Bagi orang Arab adalah aib besar bila ada seorang perempuan di muka umum bergaya dan penampilan menggoda.

 

Jangan Suudhon

Selama berada di tanah suci, hindari berprasangka buruk entah kepada sesama atau kepada situasi yang dihadapi. Sudah banyak cerita jamaah berprasangka buruk selama melakukan manasik atau berada di tanah suci dibalas secara kontan menurut prasangkaannya. Contoh kisah kasus, ada jamaah umrah melihat beberapa perempuan berbelanja di mall sekitar Masjidil Haram, lalu terbersit dalam pikirannya “ini orang mau ibadah atau belanja ya?”. Seketika ia mengalami tidak bisa membelanjakan uangnya selama tiga hari. Padahal tidak ada yang salah dengan riyal yang telah ia kantongi secara halal itu. Apapun pemandangan, baik itu buruk atau kurang bagus, jangan pernah dikomentari perasaan negatif atau prasangka buruk.  Juga jangan ngomong atua menimpali sesuatu dengan sembarangan.

 

Jagalah Atsar Hingga ke Tanah Air

Menurut cerita, hampir umum terjadi bagi di kalangan jamaah haji atau umrah, jika sudah usai dari prosesi manasik dan hendak pulang, perilakunya kembali ke sikap semula. Mulai dari cara dandanan, bicara dan tingkah laku. Tadinya sopan dan menutup aurat kembali jadi bertingka laku kurang sopan dan membuka aurat. Semula shalat wajib dituniakan hingga yang sunnah, saat di bandara atau pesawat mulai melalaikannya. Alangkah bajiknya bila bekas (atsar) selama menunaikan ibadah di tanah suci itu berbekas hingga pun ke tanah air, di kampung halaman.

 

Hal-hal yang baik baik didapat dari mutawif, pembimbing umrah/haji, atau pun dari pengalaman pribadi di tanah suci selama itu baik, bermanfaat dan menimbulkan kemaslahatan bagi diri sendiri dan sesam cobalah untuk dilestarikan. Sebab amal yang terbawa dari tanah suci, itu menunjukkan kemambruran dan kemaqbulan ibadah umrah dan haji kita.


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top