Siap Haji-Umrah (14)

Masuk Padang Arafah, Inilah Yang Patut Diketahui

(gomuslim). Bersiap ke Arafah berarti mulai melaksanakan ritual haji yang sesungguhnya. Sebagian besar jemaah Indonesia melaksanakan haji dengan cara tamattu’ (mengerjakan umrah dahulu kemudian melaksanakan prosesi berhaji) sehingga ke Arafah dari Mekkah. Sebelum ke Arafah harus mengambil  miqat.

"Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah menetapkan Dzul Hulaifah sebagai miqat bagi penduduk Madinah, Juhfah bagi penduduk Syam, Qarnal Manazil bagi penduduk Najed, Yalamlam sebagai penduduk Yaman. Tempat-tempat itu (adalah miqat) bagi mereka (penduduk negeri-negeri tersebut) dan siapa saja yang datang lewat jalur tersebut, jika dia niat haji atau umrah. Adapun orang yang berada di dalamnya (di dalam wilayah miqat), maka (dia ihram) dari tempat dia berada. Termasuk penduduk Mekah, (ihram) dari Mekah." (HR. Bukhari, no. 1524, Muslim, no. 1181). Pada saat awal pertama kali kita memasuki kota Mekkah. Misalnya yang berangkat dari Madinah, maka miqat kita di Bir Ali, sebuah daerah dengan masjid cantik berjarak sekitar 11 KM dari kota Madinah. Saat lewat dari Bir Ali, maka jemaah harus sudah mengambil miqat secara otomatis.

Meski rata-rata jemaah haji Indonesia berada di Saudi Arabia selama sekitar 40 hari, namun ibadah haji sendiri hanya memerlukan waktu antara 4 atau 5 hari (nafar awal atau tsani). Proses itu dimulai pada tanggal 8 Dzulhijjah, ketika  seluruh Jemaah yang sudah terkonsentrasi di Mekkah diberangkatkan ke padang Arafah untuk melakukan Wukuf pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Wukuf di Arafah merupakan rukun Haji yang paling besar dari rukun haji yang lain, oleh karena itu haji pun diidentikkan dengan Arafah. Pada tanggal 8 dzuljhijjah sore biasanya para jemaah haji telah tiba di padang Arafah. Sambil menunggu pelaksanaan wukuf esoknya, dapat diisi dengan banyak berdoa, dzikir atau baca Alquran.

Ada beberapa hal yang harus disiapkan sebelum berangkat, tepatnya ketika masih di pondokan, yaitu:

Persiapan Arafah

  1. Persiapkan pakaian dan makanan kecil seperlunya dan jangan terlalu banyak hingga akhirnya menyulitkan diri sendiri.
  2. Sangat disarankan membawa tas ransel/kabin ukuran sedang.
  3. Jemaah akan dikelompokan menjadi beberapa dengan jumlah 45 jemaah per kelompok dan dipandu oleh 2 orang mutawif.
  4. Memperdalam manasik haji.
  5. Mengingat kondisi cuaca pada malam hari dan di ruangan terbuka, maka dianjurkan untuk menggunakan pakaian agak tebal
    Saat di Arafah (9 Dzulhijjah).
  6. Waktu wukuf dimulai pada waktu dzuhur hingga terbenamnya matahari.
  7. Setelah maghrib jemaah bertolak menuju Muzdalifah, jika kodisi padat kemungkinan shalat maghrib dan isya dilakukan di Arafah, setelah itu bertolak ke Muzdalifah untuk mabit meski selintas.

Arafah adalah nama kawasan padang pasir di wilayah Arab Saudi. Kota yang terdekat dengan kawasan padang pasir ini adalah Kota Makkah dengan jarak sekitar 17 km, di sebelah Timur Kota Mekkah. Bila diartikan dalam bahasa Indonesia, Arafah bermakna 'mengetahui' atau 'mengenali' atau memperkenalkan atau mengenal. Darri sejarah yang diuraikan para ulama,  nama Arafah diberikan karena padang pasir ini diyakini sebagai tempat bertemunya kembali Adam dan Hawa setelah terpisah selama 200 tahun. Di padang pasir inilah, keduanya kembali saling mengenal.

 

 

Disebutkan dalam riwayat lain: Pertama, para malaikat mengingatkan Adam AS dan Siti Hawa, setelah keduanya ditegur Allah, agar mereka mengetahui dan menyadari serta mengakui dosa-dosanya dan memohon ampun kepada Allah.

Kedua, ketika Adam dan Hawa diturunkan dari surga, keduanya berpisah tempat. Adam di India dan Hawa di Jeddah (Jeddah artinya nenek). Setelah 200 tahun kemudian mereka bertemu di padang Arafah (arafah berarti tahu atau kenal), tepatnya di Jabal Rahmah (bukit kasih sayang).

Ketiga, Nabi Ibrahim AS. diberitahu Jibril cara menunaikan manasik haji di tempat ini. Jibril bertanya, “Arafta’, tahukah kamu?” Ibrahim menjawab, “Araftu, aku mengetahuinya.”

Keempat, pemberian nama Arafah berkaitan dengan penamaan hari-hari sebagai berikut: hari kedelapan dzulhijjah disebut haru Tarwiyah yang berarti merenung atau berpikir, erat kaitannya dengan peristiwa yang dialami oleh nabi Ibrahim as. yaitu pada hari Tarwiyah ini nabi Ibrahim bermimpi mendapat perintah untuk menyembelih anaknya, Ismail (QS. 37: 102-7).

Pada malam itu sampai besoknya nabi Ibrahim sangat gelisah, terus menerus merenung dan berpikir, mempertanyakan apakah mmpinya itu berasal dari Allah atau dari setan. Karena ragu beliau tidak segera melaksanakan mimpinya pada siang harinya. Pada malam kesembilan, Nabi Ibrahim AS. bermimpi para malaikat mengingatkan lagi dengan perintah yang sama. Setelah mimpi yang kedua inilah Nabi Ibrahim baru yakin bahwa mimpinya itu merupakan wahyu dari Allah Swt. Oleh karena itu, hari kesembilan ini dinamakan hari Arafah (mengetahui).

Pada malam hari kesepuluh, Nabi Ismail bermimpi lagi untuk ketiga kalinya dengan mimpi yang sama pula. Maka keesokan harinya (10 Dzulhijah) nabi Ibrahim melaksanakan perintah itu, karena itu disebut hari Nahar yang berarti hari penyembelihan.

Puncak wukuf atau berdiam di Arafah pada tanggal 9 dzulhijjah  dimulai dengan khutbah Arafah di tenda-tenda rombongan atau di tenda misi haji Indonesia. Setelah itu shalat jama’ Taqdim Dzuhur dan Ashar. Semua Jemaah haji menghadap Kiblat,berdoa, berzikir, membaca Alquran, bertahlil, tahmid, tasbih, hingga matahari tenggelam. Seperti dianjukan dalam hadis Nabi, di Arafah jemaah haji  dapat bermunajat sekuat-kuatnya kepada Allah. Berharap dan meminta pengampunan kepada Allah untuk memperoleh haji mabrur yang tidak ada balasannya kecuali Surga. (mm)


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top