Siap Haji-Umrah (15)

Bermalam di Muzdalifah, Amalan Penyerta dan Kekeliruan Yang Sering Terjadi

(gomuslim). Setelah wukuf di Arafah, ketika hari mulai sore saat matahari tenggelam pada tanggal 9 Dzulhijah, jemaah haji secara keseluruhan bergerak ke Muzdalifah untuk bermalam atau mabit. Bergerak dalam talbiyah dan dzikir kepada Allah. Mabit di Muzdalifah artinya barmalam atau berhenti sejenak atau menginap di Muzdalifah pada malam 10 Dzul Hijjah selepas wukuf di Arofah. Dibagian sebelah barat dari Muzdalifah ini terletak Masy'aril Harom, yaitu gunung Quzah. Mufassir lain mengatakan,  Masy'aril Harom adalah Muzdalifah seluruhnya.

“Jika kamu telah selesai dari Arafah, maka berzikirlah kepada Allah di Masy’aril Haram (Muzdalifah).” (Q.S. Al-Baqarah: 198)

Mabit di Muzdalifah hukumnya wajib, kecuali bagi seseorang yang mendapat udzur, misalnya: bertugas melayani jama'ah, sakit, merawat orang sakit, menjaga harta dan lainnya. Di Muzdalifah jemaah Haji melakukan mabit atau wukuf, minimal  telah melewati tengah malam, yang lebih utama  mabit dilakukan sampai selesai shalat Subuh sebelum berangkat ke Mina untuk melakukan  Jumrah Aqabah.

Secara umum jarak antara Padang Arafah ke Muzdalifah hanya sekitar 9 KM, namun waktu tempuh biasanya merambat pelan hingga 4 jam perjalanan. Amalan yang dilakukan di Muzdalifah adalah shalat maghrib dan isya dengan menjamak serta dzikir.

 

 

Mabit di Muzdalifah mulai setelah maghrib sampai terbit fajar 10 Dzulhijjah. Diperbolehkan tidur atau hanya melewati sesaat saja asalkan sudah lewat tengah malam. Bagi yang sehat wajib mabit di Muzdalifah, tetapi bagi yang sakit dan yang mengurus orang yang sakit ataupun yang mengalami kesulitan, diperbolehkan untuk tidak mabit di Muzdalifah, dan tidak dikenakan dam.

Saat mabit di Muzdalifah, jemaah haji tidak harus turun dari kendaraan. Maka jika hendak mengambil kerikil untuk melaksanakan jumrah aqabah, jamaah haji cukup mengambil tujuh batu kerikil saja, karena untuk melontar jumrah pada hari-hari Tasyrik boleh diambil di Mina. Boleh juga diambil di Muzdalifah sebanyak yang diperlukan yaitu 49 butir kerikil bagi yang nafar awal atau 70 butir bagi yang akan nafar tsani.

Secara detail, ketentuan  mabit di Muzdalifah ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pertama, menurut madzhab Syafi’i, jamaah harus berada di Muzdalifah walaupun sebentar dengan syarat harus berada di Muzdalifah,  sekurang-kurangnya melewati pertengahan malam setelah wuquf di Arafah dan tidak perlu berdiam (al-muktsu), baik ia (jamaah haji) tahu sedang berada di Muzdalifah atau tidak.

Kedua, menurut madzhab Hanafi, berada di Muzdalifah merupakan wajib haji, dan cukup sesaat sebelum fajar. Apabila tidak berada di Muzdalifah  sebelum terbit fajar, jamaah haji harus membayar dam, kecuali ada alasan syar’I, seperti sakit, maka tidak apa-apa.

Ketiga, menurut madzhab Hambali, berada di Muzdalifah adalah wajib haji dan dapat dilakukan kapan saja, sejenak dari pertengahan kedua malam Nahar, bukan karena dia petugas pengairan atau penggembala.

Keempat, menurut madzhab Maliki, termasuk wajib haji adalah turun di Muzdalifah sekedarnya dalam perjalanan setelah wuquf di Arafah pada malam hari, pada saat menuju Mina.

Kekeliruan-kekeliruan  yang  dilakukan Jama'ah haji Di Muzdalifah, setidaknya bisa dijelaskan sebagai berikut:

Pertama, sebagian jama'ah haji, di saat pertama tiba di Muzdalifah, sibuk dengan memungut batu kerikil sebelum melaksanakan shalat Maghrib dan Isya dan mereka berkeyakinan bahwa batu-batu kerikil pelempar Jamrah itu harus diambil dari Muzdalifah. Yang benar, adalah dibolehkannya mengambil batu-batu itu dari seluruh tempat di Tanah Haram. Sebab keterangan yang benar dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwasanya beliau tidak pernah menyuruh agar dipungutkan batu-batu pelempar Jamrah Aqabah dari Muzdalifah. Hanya saja beliau pernah dipungutkan batu-batu itu di waktu pagi ketika meninggalkan Muzdalifah setelah masuk Mina. Ada pula sebagian mereka yang mencuci batu-batu itu dengan air, padahal inipun tidak disyari'atkan.

Kedua, pada saat mabit di Muzdalifah, apalagi  setelah tengah malam lewat, banyak jama'ah yang mengumandangkan takbir lengkap seperti di tanah air. Mereka seakan-akan ingat kebiasaan di tanah air, kalau malam lebaran selalu membaca takbir. Padahal, menurut Imam al-Nawawi al-Dimasyqy, takbir lengkap ini sunnah dikumandangkan untuk menggantikan talbiyyah kalau jama'ah haji telah melempar jumrah aqabah, minimal untuk lemparan pertama.

Ketiga, banyak jama'ah yang tidak sabaran telah meninggalkan Muzdalifah sebelum tengah malam (ba'da zawal). Mereka berebut bus, pingin buru-buru ke Mina untuk melontar jamarat Aqabah atau ke Makah untuk Thawaf Ifadhah. Padahal mayoritas imam mazhab sepakat, mabit di Muzdalifah itu sekurang-kurangnya sampai tengah malam (ba'da zawal), walaupun yang afdhal, mabit di Muzdalifah itu berlangsung sampai subuh. Jama'ah yang meninggalkan Muzdalifah sebelum zawal,  wajib membayar dam.

Selain itu, tidak sedikit yang mempertanyakan manfaat bemalam di temat ini. Ada beberapa manfaat sebagaimana tertulis dalam lembar-lembar riwayat maupun kajian kitab-kitab klasik.

Pertama, sebagai tahap persiapan atau perbekalan. Bekal itu adalah menjalin “komunikasi yang intensif” dengan Allah yang dilambangkan dengan shalat maghrib dan isya di Muzdalifah. Itulah bekal yang akan membantu manusia melawan setan yang akan dilempar secara simbolik di Jamarat Mina. Secara material bekal itu disimbolkan dengan mengambil batu kerikil. Dengan demikian dapatlah difahami mengapa mabit di Muzdalifah ini diwajibkan, padahal shalat dan dzikir dapat saja dilakukan di Arafah atau di Mina. 

Para ulama sepakat bahwa ketika mabit di Muzdalifah wajib mengerjakan shalat maghrib dan isya dengan menjamak. Rasul bersabda kepada Usamah bin Zaid sahabat Rasulullah Saw. ketika hendak shalat sebelum sampai di Muzdalifah: “Shalat itu tempatnya di depan kamu  Muzdalifah).” Peranan Muzdalifah sebagai simbol perbekalan yang ikut menentukan keberhasilan perang di Mina dapatlah disebut sebagai momentum untuk melawan musuh.

Kedua, dari segi rukun Islam termasuk dalam tahap kedua, yaitu shalat.  Setelah meyakini dan menyaksikan kebenaran syahadat di Arafah, maka jamaah haji dapatlah memasuki tahap berikutnya yakni shalat, sebagaimana disunnahkannya (sebagian ulama mengatakan diwajibkan) shalat maghrib dan isya di Muzdalifah.

Rasul bersabda, “Haji adalah wukuf di Arafah.” Dilihat dari rukun Islam wukuf di Arafah ini merupakan ritual yang termasuk ke dalam rukun yang pertama yaitu syahadat. Maka tidak akan seseorang melakukan shalat dalam hal ini di Muzdalifah tanpa sebelumnya ia meyakini syahadat di Arafah. Oleh karena itu Muzdalifah adalah rangkaian ritual haji dari Arafah. (mm)


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top