Siap Haji-Umrah (16)

Jamarat Mina, Bagian Prosesi Ritual Haji Terberat

(gomuslim). Setelah bermalam di Muzdalifah dan telah berlalu tengah malam (bakda zawal dan diutamakan setelah subuh), selanjutnya perjalanan menuju Mina. Jarak Muzdalifah – Mina kira-kira 5 KM, namun karena padat perjalannan memakan waktu kira-kira 2-5 jam. Ritual haji di jamarat Mina dinilai terberat karena jarak tempuh perkemahan ke lokasi rata-rata lebih dari 4 KM ditempuh berjalan kaki setiap hari selama tiga hari. Bahkan insiden haji yang merenggut ratusan nyawa dalam sejarah haji juga lebih sering di daerah ini.

Waktu mabit malam tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Dalam hal ini, Jemaah haji dapat memilih melakukan Nafar Awal atau Nafar Tsani/ akhir.  Apa itu nafar? Menurut bahasa, nafar  berarti rombongan. Sedangkan menurut istilah, nafar  adalah keberangkatan jemaah haji meninggalkan Mina pada hari Tasyrik. Nafar dibagi menjadi dua bagian, yaitu:

1. Nafar Awal adalah keberangkatan jemaah haji meninggalkan Mina lebih awal yaitu pada tanggal 12 Dzulhijjah setelah melontar jumrah untuk tanggal tersebut.

2. Nafar Tsani (Nafar Akhir)  adalah keberangkatan jemaah haji meninggalkan Mina pada tanggal 13 Dzulhijjah.

Pada hari-hari tersebut Jemaah haji melakukan kegiatan lempar jumrah,yaitu:

  • Lemparan jumrah pertama tanggal 10 Dzulhijah yaitu lempar jumrah aqabah sebanyak 7 butir. Setelah selesai lempar jumrah aqabah boleh bercukur/mengunting rambut, diperbolehkan mengenakan pakaian biasa.
  • Melempar ketiga Jumrah pada tanggal 11 Dzulhijah. Yaitu Jumrah Ula, Jumrah Wusta dan Jamrah Aqabah. Masing-masih dilempar 7 kali/7 kerikil.
  • Melempar ketiga Jamrah pada yanggal 12 Dzulhijah. Yaitu Jumrah Ula, Jamrah Wusta dan Jamrah Aqabah. Masing-masih dilempar 7 kali/7 kerikil.
  • Bagi yang Nafar Akhir melempar ketiga jumrah lagi pada tanggal 13 Dzulhijah. Yaitu Jumrah Ula, Jamrah Wusta dan Jamrah Aqabah. Masing-masih dilempar 7 kali/7 kerikil.

Selama di Mina, jemaah haji Indonesia harus menempuh jarak lumayan jauh ke tempat lempar jumrah. Kepadatan daerah jamarat dari tahun ke tahun tidak pernah surut. Oleh karena itu diperlukan banyak kesiapan antara lain memperhatikan jalur dari kemah ke jamarat agar tidak tersesat.

Umumnya, saat mabit sebelum melempar jumrah sebagian besar jemaah haji dari seluruh dunia tidur di alam terbuka, terutama di sekitar tempat melempar jumrah sehingga hampir tidak ada tempat tersisa. Mereka sengaja mendekat ke jamarat agar dapat melaksanakan lemparan segera.

Ketika mabit, kegiatan yang dilakukan bermacam-macam, ada yang berzikir, membaca doa, membaca Alquran, atau sekadar ngobrol dan tidur-tiduran. Tidak lupa membawa makanan makanan agar memiliki cukup energy.  Untuk minuman mungkin tidak terlalu dirisaukan karena cukup banyak kran-kran air yang menyalurkan air yang dapat diminum.

Urusan lain yang perlu diperhatikan adalah urusan buang hajat yang juga harus mengantre panjang. Toilet tersedia cukup banyak di sekitar jamarat. Satu kompleks perkemahan setiap blok terdapat toilet terdiri sekitar 10 kamar mandi, disampingnya lima kran untuk wudlu.


Lokasi Perkemahan Mina

Tempat mabit bagi jemaah haji Indonesia terhitung jauh dari jemarat,di Haratul Lisan yang berada di wilayah Mina dan di Mina Jadid. Mina terletak di antara Muzdalifah dan Makah Al-Mukarramah. Ketetapan batas wilayah Mina tidak ada dalil qath’i (pasti), baik dari Alquran maupun hadis Nabi SAW.

Dasar penentuan batas luas wilayah tempat mabit di Mina merupakan masalah ijtihadi dan bukan masalah tauqifi (ketentuan yang sudah baku).

Kemungkinan pengembangan wilayah seperti ini  sama halnya dengan pengembangan wilayah Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Sejak tahun 1984 pemerintah Arab Saudi telah menetapkan Haratul Lisan sebagai tempat jemaah haji Indonesia dan negara-negara Asean lainnya, dan di sampingnya adalah jemaah haji dari Turki dan Eropa.

 

Pemerintah Indonesia telah membicarakan dengan pemerintah Arab Saudi mengenai ketetapan tersebut. Lembaga yang berwenang mengeluarkan fatwa   di Arab Saudi telah mengadakan pembahasan dan penelitian yang mendalam berdasarkan kaidah-kaidah syara’ dan memutuskan batas-batas wilayah Mina. Oleh karena itu, sejak tahun 1984 pemerintah Arab Saudi sebagai ulil amri telah memutuskan batas-batas wilayah Mina untuk mabit jemaah haji di Haratul Lisan, termasuk di dalamnya jemaah haji dari Malaysia, Singapura, Thailand, Philipina, Turki, dan Eropa. Keputusan tersebut dipatuhi, baik secara perorangan maupun dari para pakar hukum Islam.

Keputusan Arab Saudi tersebut telah dikaji bersama pada tahun 1987 di Makah yang dipimpin Syekh Yasin Padang. Kajian tim ahli manasik haji bersama pejabat Ditjen Bimas Islam dan Urusan Haji Departemen Agama (sekarang menjadi Kemenag RI), pada tanggal 2 Maret 1993 di Jakarta juga membenarkan kebijakan penyelenggara haji, bahwa Haratul Lisan termasuk wilayah Mina.

 

Hukum Mabit di Mina

Secara umum da dua pendapat soal hokum mabid di Mina. Pertama, Pendapat Imam Malik, Imam Ahmad bin  Hanbal, dan Imam Syafi’i, mabit   di Mina pada hari tasyrik hukumnya wajib, kecuali ada udzur syar’i. Apabila sama sekali tidak mabit di Mina pada hari tasyrik, maka wajib membayar Dam seekor kambing. Sedangkan apabila meninggalkan mabit satu malam, maka wajib membayar fidyah satu mud (3/4 liter beras atau semacamnya), dan apabila meninggalkan mabit dua malam (bagi yang mengambil  nafar tsani), maka wajib membayar fidyah dua mud.

Kedua, Pendapat Imam Abu Hanifah  dan satu pendapat –yang lain— dari  Imam Syafi’i, mabit di Mina hukumnya sunnat. Apabila sama sekali tidak mabit pada hari tasyrik, maka disunatkan membayar Dam seekor kambing, dan apabila hanya sebagian saja, maka disunatkan membayar fidyah.

Terlepas dari pendapat tersebut, Jemaah haji Indonesia pada umumnya tidak ingin meninggalkan semua prosesi haji yang ditunggu-tunggu itu. Apalagi masa tunggu haji sudah sampai 30 tahun. Tahun 2016 ini ada 3,2 juta pengantre dan setiap tahun hanya berangkat 168 ribu jemaah. Maka kesempatan berhaji sudah sewajarnya dimanfaatkan semaksimalnya.

Selebihnya, secara ringkas kegiatan lempar jumrah atau stooning adalah sebagai berikut:

Melontar dilaksanakan pada Tanggal 10,11,12,13 Dzulhijjah yaitu melontar jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah.
A. Syarat melontar jumrah :
1. Harus ada tujuan melontar jumrah
2. Harus ada gerakan melempar dan dengan tangan (disunahkan tangan kanan).
3. Batu kerikil harus jatuh ke lubang marma.
4. Pelontaran dilakukan satu per satu sambil membaca takbir, tidak boleh 7 kerikil sekaligus.

5. Harus tertib dimulai dari Jumrah Ula, Wustha dan Aqabah untuk tanggal 11,12,13 Dzulhijjah dan Jumrah Aqabah saja pada tanggal 10 Dzulhijjah.

6. Batu yang digunakan bukan bekas untuk melontar jumrah oleh orang lain.

B. Waktu melontar jumrah
a. Waktu Afdhalnya setelah terbit matahari pada tanggal 10 Dzulhijjah.
b. Waktu Ikhtiar (pilihan) : dilakukan setelah tergelincir matahari/ ba'dha zawal sampai terbenam matahari.
c. Waktu Jawaz (diperbolehkan) mulai lewat tengah malam tanggal 10 Dzulhijjah sampai terbit fajar tanggal 11 Dzulhijjah.

C. Melontar Jumrah pada Hari Tasyriq (Tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah)
Wakyunya adalah mulai sesudah tergelincir matahari (waktu dhuhur) sampai terbit fajar menjelang subuh pada hari berikutnya. Melontar sebelum zawal/tergelincir matahari (qobla zawal) dipebolehkan.

D. Menunda atau menta'khirkan melontar jumrah
Melontar jumrah boleh menunda dalam satu waktu untuk semua jumrah pada Hari Tasyrik
Caranya sebagai berikut :
Dilakukan berurutan secara sempurna yaitu melontar jumrah Aqabah untuk Tanggal 10 Dzulhijjah, kemudian melontar jumrah Ula, Wustha, Aqabah untuk Tanggal 11 Dzulhijjah, kemudian melonar lagi untuk Tanggal 12 Dzulhijjah, kemudian selanjutnya melontar untuk Tanggal 13 Dzulhijjah.

E. Mewakili untuk melontar Jumrah
Bagi yang berhalangan secara syar'i boleh mewakilkan kewajibannya melontar jumrah kepada orang lain dengan cara sebagai berikut :
a. Melontar untuk dirinya sendiri sampai sempurna masing-masing 7 kali lontaran mulai dari Ula, Wustha dan Aqabah, kemudian melontar untuk yang diwakili mulai dari Ula, Wustha dan Aqabah.
b. Melontar 7 kali lontaran pada Jumrah Ula untuk dirinya sendiri kemudian melontar lagi untuk yang diwakili (tanpa harus menyelesaikan terlebih dahulu Jumrah Wustha dan Aqabah)

(mm)


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top