Siap Haji-Umrah (17)

Tawaf Ifadhah, Rukun Haji Paling Sering Kurang Dipahami

(gomuslim). Setelah proses ritual haji di Arafah, Muzdalifah dan Mina (ARMINA), Jemaah kemudian melaksanakan tawaf ifadhah yang  dalam sebagian literatur disebut  tawaf rukun karena merupakan rukun haji. Ifadhah sendiri artinya adalah ‘meninggalkan’ atau tawaf setelah meninggalkan Arafah. Dalam beberapa kasus, tawaf ifadhah ini sering disalahartikan oleh jemaah. Mengenai waktu pelaksanaannya dan cara pelaksanaannya. Termasuk yang paling krusial adalah ketentuan tidak sedang haid bagi perempuan.

Oleh karena tawaf ifadhah masuk dalam rukun haji atau dikenal juga dengan tawaf sadr (inti) maka jika tidak dikerjakan berakibat ibadah hajinya tidak sah atau batal. Sebagian jemaah haji melaksanakan tawaf ifadhah pada hari raya idul adha (yaum nahr). Dengan status hukum tawaf ifadah sebagai rukun haji dan sebagian besar melaksanakan pada saat bersamaan pada 10 Dzulhijjah, maka tingkat kepadatan Masjidil Haram meningkat tajam.

Thawaf ifadhah dapat dilakukan pada hari tasyrik, dan biasanya jemaah haji Indonesia memilik demikian. Jika jemaah haji sudah melewati ibadah di masa puncak haji dari wukuf, mabit, sampai melontar jumrah, namun belum tawaf ifadhah, maka yang bersangkutan dapat dikatakan baru tahallul awal dan belum halal 'berkumpul' istri.

Merujuk ke beberapa hadit, mengenai tawaf ini termasuk banyak opsi-opsinya, tetapi ada yang dicontohkan Rasulullah meski Rasul juga memboleh dengan cara lain. Disebutkan dalam riwayat, jika seseorang meninggalkan Muzdalifah pada hari Idul Adha atau pada akhir malam Idul Adha seperti kaum wanita dan yang seperti mereka, maka mereka boleh memulai tawaf jika wanita tidak haidh sebelum tawaf ifadhah. Demikian juga jika laki-laki yang lemah, jika dia memulai tawaf kemudian baru melontar maka tiada berdosa. Tapi yang utama adalah melontar, kemudian menyembelih kurban jika dia mempunyai kurban, kemudian mencukur gundul atau memotong sebagian rambut tetapi menggunduli lebih utama, kemudian tawaf ifadhah seperti yang dilakukan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Bagi wanita haid dilarang melakukan tawaf, harus tetap menunggu hingga suci. Jika dia safar (meninggalkan Mekkah), maka dia harus kembali untuk thawaf. Jika khawatir keluar darah sebelum tawaf Ifadhah, sedangkan dia tidak mungkin tinggal menetap di Mekkah dan tidak mungkin kembali ke Mekkah setelah pulang, maka dia dibolehkan menggunakan obat pencegah haid agar dapat melakukan tawaf. Efek samping yang terjadi akibat hal itu dapat ditolerir, karena untuk meraih ibadah sesuai aturan yang disyariatkan. 

 

 

Cara Tawaf Ifadhah

Adapun cara melaksanakan tawaf ifadhah sama dengan tawaf umrah, akan tetapi sudah tidak berpakaian ihram lagi karena  sudah tahallul awal atau mencukur rambut setelah selesai  melontar Jumrah Aqabah pada hari  Nahr 10 Dzul Hijjah.

  1. Sebagaimana tawaf lainnya, tawaf ifadhah dilakukan dengan tujuh kali putaran. Setiap putaran tersebut merupakan rukun.
  2. Wajib bagi yang mampu untuk berjalan dalam melakukan tawaf, demikian pendapat mayoritas.
  3. Disunnahkan untuk melakukan raml (jalan cepat dengan memperpendek langkah)
  4. Disunnahkan  idh-thibaa’ yaitu membuka bagian pundak kanan, ini berlaku bagi yang melakukan sa’i setelah itu. Jika tidak, maka tidaklah disunnahkan.
  5. Setelah melakukan tawaf diwajibkan melakukan shalat dua raka’at menurut jumhur, sedangkan menurut Syafi’iyah dianggap sunnah.

Wajib Tawaf

  1. Bersih dari hadast besar dan kecil.
  2. Suci pakaian, badan dan tempat dari najis.
  3. Menutup aurat.
  4. Kakbah berada di sebelah kiri orang yang tawaf, dan tidak boleh lewat di atas Syadzarwan (pondasi Kakbah) dan bagian dalam Hijir lsma’il, karena Syadzrawan dan Hiiir lsma’il itu bagian dari Kakbah.
  5. Memulai tawaf dari Hajar Aswad.
  6. Melakukan tawaf tujuh kali putaran sempurna dimulai dari hajar aswad dan diakhri di hajar aswad, karena Nabi saw melakukannya tujuh kali putaran.
  7. Melakukan tawaf di dalam masjid yaitu sekitar Kakbah dan syadzrawan (fondasi Kakbah)

Sunah Tawaf

Pada tawaf pertama, kedua dan ketiga belari kecil, dan pada tawaf keempat, kelima, keenam dan ketujuh berjalan kaki biasa.

  1. Mencium Hajar Aswad atau mengusapnya dengan tangannya
  2. Mengusap Rukun Yamani dengan tanganya lalu menciumnya (tanyangnya)
  3. Memperbanyak do’a dan zikir, dan sebaik baiknya do’a ketika tawaf
  4. Mendekatkan diri dengan Kakbah ketika tawaf jika mampu. Hal ini untuk mengambil barakah dan memudahkan untuk memberi salam atau menciumnya. Tapi harus diperhatikan berdekatan dengan Kakbah di waktu musim haji penuh perjuangan yang dahsyat. Maka jika bisa mendatangkan bahaya lebih baik menjauhi diri dari desakan manusia.
  5. Melakukan shalat sunah dua raka’at di Maqam Ibrahim setelah tawaf.

Sebenarnya, ada bermacam-macam tawaf,  yaitu :

  1. Tawaf Qudum
  2. Tawaf Ifadhah
  3. Tawaf Sunnah
  4. Tawaf Nadzar
  5.  Tawaf Wada'

Keterangan:

  1. Tawaf Qudum ialah tawaf selamat datang, yang dikerjakan ketika baru datang di kota Mekah bilamana tidak dikerjakan hajinya tetap sah, karana hukumnya sunnah.
  2. Tawaf Ifadhah ialah tawaf yang termasuk rukun haji, bilamana tidak dikerjakan maka hajinya tidak sah karana hukumnya wajib.
  3.  Tawaf sunah ialah tawaf yang bila dikerjakan mendapat pahala dan bila tidak dikerjakan tidak berdosa.
  4.  Tawaf Nadzar ialah Tawaf yang dilakukan karena punya nadzar
  5. Tawaf wada' ialah sebagai tawaf pamitan, (tawaf selamat tinggal ) tawaf yang dikerjakan ketika akan meninggalkan kota Mekah, sedangkan hukumnya wajib, jika tidak mengerjakan maka harus membayar Dam. Bagi Jemaah yang belum melakukannya, belum boleh meninggalkan Mekah,

Setelah mengerjakan tawaf ifadah kemudian melaksanakan sa’i dari bukit Shafa ke bukit Marwah yang  jarak keduanya sektiar 405 meter. (mm)


Back to Top