Siap Haji-Umrah (18)

Menikmati Sa'i, Berlari Kecil Sejauh 3,5 KM antara Shafa dan Marwah

(gomuslim).  Setelah melaksanakan tawaf rukun haji, selanjutnya adalah melaksanakan ‘Sa’i’ yaitu  berjalan dari buki Shafa ke bukit Marwah dan sebaliknya, sebanyak tujuh kali yang berakhir di bukit Marwah. Perjalanan dari bukit Shafa ke bukit Marwah dihitung satu kali dan juga dari bukit Marwah ke bukit Shafa dihitung satu kali. Jika dihitung secara kasar, sa'i setara dengan menempuh jarak sejauh 3,5 KM.

Diriwayatkan bahwa, “Rasulullah SAW menaiki bukit Shafa sehingga dapat melihat Ka’bah.”

Meskipun demikian, sa’i cukup dimulai dari kaki bukit walau naik ke bukit merupakan sesuatu yang mustahab (dianjurkan).

Cara melaksanakan:  Dimulai dengan niat melaksanakan ibadah sa'i dan doa. Awalnya dilaksanakan dengan langkah-langkah biasa dari bukit Shafa sambil melihat Kakbah dan berdoa, kemudian ketika sampai dekat dengan tanda pertama berwarna hijau, disunnahkan berlari kecil  sampai di tanda hijau yang kedua, kemudian berjalan kembali dengan langkah-langkah biasa.

Sesampai di bukit Marwah  menghadap ke arah Shafa dan berdoa. Dengan demikian, jemaah haji telah selesai melakukan satu kali lintasan sa’i. Jika telah kembali lagi ke bukit Shafa, maka dihitung dua kali. Begitulah selanjutnya sampai tujuh kali lintasan.

Dengan selesainya tujuh kali lintasan itu, maka jemaah haji telah menyelesaikan dua hal, yakni tawaf rukun haji atau ifadhah dan sa’i.  

Adapun syarat yang harus dipenuhi dalam melaksanakan ibadah sa’i adalah: bersuci dari hadats besar maupun kecil (hukumnya mustahab, dianjurkan) dan bukan wajib seperti dalam mengerjakan tawaf. Menjalankan ibadah ini seperti berjalan sekitar 3,5 KM, cukup jauh tetapi dianjurkan dilaksanakan dengan cara yang tenang, sambil menikmati setiap langkah perjuangan hidup untuk mencapai garis finish.

Histori


Dalam setiap ritual haji mengandung kisah teladan. Ritual sa’i ini merupakan napak tilas dari upaya yang dilakukan Siti Hajar untuk mencarikan air bagi bayi Ismail yang kehausan.  Allah tidak serta merta memberikan mukjizat-NYA tetapi membiarkan Siti Hajar dalam gelisah tetap ikhtiar, berusaha menemukan air untuk bayinya. Atas jerih payahnya itu, Allah kemudian mengeluarkan air mukjizat Zam-Zam yang masih deras hingga hari ini.

Saat ini area sa’i sudah masuk dalam bagian perluasan Masjidil Haram. Dulu, tanah tempat Sa'i  merupakan tanah curam, dan berkontur naik-turun. Perbaikan dan renovasi tempat Sa'i dilakukan sedikit demi sedikit sepanjang sejarah hingga keadaannya seperti sekarang mi.

Hingga awal abad ke-19,  antara Masjidil Haram dan tempat Sa'i dipisahkan oleh bangunan-bangunan, bahkan area tersebut pada kanan dan kirinya dijadikan pasar. Jemaah haji tempo dulu yang bersa’i ibarat sedang berlintasan di gang antara bangunan dan pasar. Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia mengistruksikan untuk memugar pasar tersebut dan memusnahkan segala bangunan apapun yang memisahkan antara Masjidil Haram dan tempat Sa'i, dan menjadikan keduanya sebagai suatu bangunan yang menyatu. Atas usul Presiden Sukarno, jalur ini juga dibagi dua antara ‘flow and contra flow’ yang dipisahkan jalur kursi roda di tengahnya.

Panjang antara kaki bukit Shafa dan Marwah adalah sekitar 394,5 m, yaitu mulai dari ujung dinding di atas bukit Shafa, hingga ujung dinding yang ada di bukit Marwah. Lebarnya kurang lebih 20 m. Sehingga luasnya mencapai 394,9 m X 20 in = 7890 m2 untuk satu tingkat. Ketinggian pada lantai pertama rnencapai 11, 75 m, sedangkan pada lantai atas 8,5 m.

Di lantai bawah terdapat banyak pintu masuk antara Shafa dan marwa, sedangkan di lantai atas terdapat dua tangga biasa dari dalam yaitu di shafa dan satu lagi berada di Babussalam. Selain itu, di Shafa juga terdapat dua tangga menuju lantai alas, disamping tangga listrik (eskalator). Di antara Shafa dan marwa ada 7 jembatan untuk tempat penyeberangan orang-orang yang ingin keluar-masuk Masjidil Haram, sehingga tidak mengganggu orang-orang yang sedang bersa'i.

Lantai bawah dibagi menjadi dua bagian, satu untuk . Sa'i menuju ke arah Marwa, dan lainnya digunakan untuk , Sa'i dari Marwa ke Shafa. Diantara keduanya terdapat ' jalan khusus untuk kereta dorong yang diperuntukkan bagi orang-orang lanjut usia, orang sakit, atau orang yang lemah (atas usul Presiden Sukarno). Lantai dasar ini sudah dilengkapi dengan pendingin udara (AC) yang diatur dari sentral.

 

 


Dengan berakhirnya ibadah sa’i, maka prosesi ritual haji sudah selesai dan Jemaah haji tinggal menunggu tawaf wada’ atau perpisahan sebelum meninggalkan kota suci Mekkah.


Komentar

    Tulis Komentar


Back to Top