Siap Haji-Umrah (19)

Inilah Amalan Penutup Haji dan Kekeliruan dalam Tawaf Wada'

(gomuslim). Setelah seluruh amalan haji dilaksanakan, maka tiba saatnya untuk kembali ke tanah air. Sebelum kembali, masih ada satu amalan lagi bagi Jemaah haji untuk melaksanakan tawaf wada’ atau tawaf penghormatan atau perpisahan sebelum meninggalkan kota suci Mekkah.

Secara syariat, tawaf wada’ hukumnya wajib kecuali wanita yang haid dan penduduk Mekkah. Wajibnya tawaf wada ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA yang berkata,

Setiap manusia diperintahkan untuk menjadikan saat terakhirnya di Kota Mekkah di sisi Baitullah (Kakbah), hanya perintah ini tidak ditujukan bagi wanita haid.” ((HR. Bukhari no. 1755 dan Muslim no. 1328).

Biasanya, tawaf wada’ dilaksanakan Jemaah haji dengan cucuran air mata karena tidak lama akan meninggalkan kota bersejarah, kota yang didalamnya pernah terjadi pergulatan tauhid Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, kota kelahiran Nabi Muhammad SAW yang teradapat Kakbah sebagai pusat bumi dan Masjidil Haram sebagai masjid pertama yang pernah ada.

Ini adalah sebuah momen yang paling berat dirasakan oleh setiap jemaah. Momen perpisahan dengan Baitullah ini membuat mereka larut dalam suasana sedih bercampur haru dengan penuh harap dan doa semoga Allah SWT memberi kesempatan bagi mereka untuk dapat datang lagi suatu saat ke Baitullah, baik untuk berhaji maupun umrah.

Cara melaksanakan tawaf wada’ sama yang lain, yaitu terdiri atas tujuh putaran yang dilakukan mengelilingi Kakbah ke arah kiri. Diawali dan disudahi di sudut hajar aswad.

Hanya saja, bahwa dalam tawaf wada’ tidak disunahkan melakukan shalat sunah tawaf. Seusai mengerjakan tawaf wada’, setiap jemaah haji diizinkan untuk meninggalkan Baitullah dengan cara yang wajar tanpa harus berjalan mundur atau sambil menunduk sebagaimana dipraktikkan beberapa pihak yang tanpa dasar atau tuntunan Nabi SAW.

Bagi Jemaah haji yang tidak menjalani tawaf wada’, ia wajib membayar ‘dam’ sebesar satu ekor kambing, baik disengaja maupun bila terlupa. Kambing tersebut disembelih di mana saja dan dibagikan kepada kaum fakir yang membutuhkan.

Tawaf wada' ini hanya diwajibkan bagi jemaah haji yang tinggal di luar Kota Mekkah. Adapun jemaah haji yang tinggal di Kota Mekkah, mereka tidak berkewajiban melakukan tawaf wada dan tiada kewajiban bagi mereka untuk membayar ‘dam’ bila mereka tidak mengerjakannya.

Kekeliruan Saat Tawaf Wada'

  1. Sebagian jemaah turun dari Mina pada hari Nafar, sebelum melempar jumrah, untuk tawaf wada' kemudian kembali lagi ke Mina untuk melempar jumrah, lalu langsung pulang ke negara mereka dari situ. Hal ini bertentangan dengan perintah Nabi bahwa saat terakhir jemaah haji adalah di Kakbah.
  2. Sebagian jemaah tetap di Mekkah setelah tawaf wada' (tidak langsung meninggalkan Mekkah). Padahal, Nabi sendiri tidak tawaf wada' kecuali ketika sudah siap meninggalkan Mekkah. Hanya saja para ulama' memberikan keringanan untuk berdiam diri di Mekkah setelah tawaf wada' bagi mereka yang benar-benar memiliki kepentingan, misalnya iqamat telah dikumandangkan sehingga harus shalat terlebih dahulu, atau ada keperluan yang berkaitan dengan perjalanan seperti membeli bekal dan menunggu teman. Adapun jika berdiam diri di Mekkah (setelah tawaf wada') tanpa alasan yang diperbolehkan maka wajib baginya mengulang tawaf wada' kembali.
  3. Keluar dari masjid setelah tawaf wada' dengan berjalan mundur, beranggapan bahwa hal itu merupakan penghormatan kepada Kakbah.
  4. Menoleh ke Kakbah saat tiba di pintu masjid, berdoa dan seperti mengucapkan selamat tinggal dan selamat berpisah kepada Kakbah. Hal-hal demikian tidak dilakukan Nabi dan para sahabat sehingga tidak perlu disyariatkan kepada umat setelahnya.


Dengan demikian, hendaknya setiap calon jemaah haji dan umrah membekali dirinya dengan ilmu agar benar-benar bisa melaksanakan ibadah sesuai dengan yang dituntunkan Allah melalui Rasulullah SAW. Terlebih lagi bagi para petugas dan pembimbing haji, selain memiliki ilmu juga harus senantiasa memperhatikan dan meluruskan kesalahan yang dilakukan oleh jemaah. (mm/bs)


Komentar

    Tulis Komentar

Lainnya


Back to Top