Begini Cara Tepat Pilih Asuransi Syariah

gomuslim.co.id- Kemunculan asuransi syariah di Indonesia makin menggeliat. Dengan makin banyaknya pemahaman masyarakat terhadap perlindungan jiwa, namun ingin memiliki asuransi yang tidak ingin bertentangan dengan nilai Islam. Karena itu, perusahaan asuransi di Indonesia sangat mengenali pangsa pasarnya ini yang mayoritas Muslim. Bermunculanlah berbagai produk asuransi syariah dari berbagai perusahaan asuransi maupun bank.

Akan tetapi, banyaknya produk asuransi syariah harus mengikuti aturan kaidah Islam, yang telah dirumuskan oleh Dewan Pengawas Syariah Majelis Ulama Indonesia (DPS-MUI). Ada tiga fatwa yang dikeluarkan oleh DPS MUI mengenai asuransi syariah ini, yaitu:

1. Fatwa MUI No.21 Tentang Pedoman Asuransi Syariah, yang memberikan berbagai poin umum yang dimaksud dengan asuransi syariah. Diantaranya, Asuransi Syariah atau Ta’min, Takaful atau Tadhamun adalah usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang atau pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan / atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah. Lalu ada dijabarkan juga mengenai Akad yang sesuai dengan syariah yang dimaksud pada point (1) adalah yang tidak mengandung gharar (penipuan), maysir (perjudian), riba, zhulm (penganiayaan), risywah (suap), barang haram dan maksiat.

2. Fatwa MUI No. 52 Tentang Wakalah Bil Ujrah. Dalam fatwa ini dijelaskan lebih terperinci yang berkenaan dengan pedoman umum asuransi syariah. Seperti, Dalam Fatwa ini, yang dimaksud dengan: a. asuransi adalah asuransi jiwa, asuransi kerugian dan reasuransi syariah; b. peserta adalah peserta asuransi (pemegang polis) atau perusahaan asuransi dalam reasuransi syari’ah. Kedua : Ketentuan Hukum 1. Wakalah bil Ujrah boleh dilakukan antara perusahaan asuransi dengan peserta. 2. Wakalah bil Ujrah adalah pemberian kuasa dari peserta kepada perusahaan asuransi untuk mengelola dana peserta dengan imbalan pemberian ujrah (fee).

3. Fatwa MUI No.52 tentang Tabarru Asuransi. Seperti menjelaskan tentang ketentuan Hukum Umum, yaitu Akad Tabarru’ merupakan akad yang harus melekat pada semua produk asuransi. 2. Akad Tabarru’ pada asuransi adalah semua bentuk akad yang dilakukan antar peserta pemegang polis. Asuransi syariah yang dimaksud pada point 1 adalah asuransi jiwa, asuransi kerugian dan reasuransi.

Direktur Rumah Fiqih Indonesia dalam laman tanya jawab online di www.rumahfiqih.net, pun menjelaskan terperinci terkait sertifikat halal dari MUI tersebut, bahwa asuransi syariah memiliki beberapa ciri utama, yaitu:

  1. Akad asuransi syariah adalah bersifat  tabarru’, sehingga tidak mengenal premi melainkan infaq atau sumbangan. Dan sumbangan yang diberikan tidak boleh ditarik kembali. Atau jika tidak tabarru’, maka andil yang dibayarkan akan berupa tabungan yang akan diterima jika terjadi peristiwa, atau akan diambil jika akad berhenti sesuai dengan kesepakatan, dengan tidak kurang dan tidak lebih. Atau jika lebih maka kelebihan itu adalah keuntungan hasil mudhorobah bukan riba.
  2. Akad asuransi ini bukan akad mulzim (perjanjian yang wajib dilaksanakan) bagi kedua belah pihak. Karena pihak anggota ketika memberikan sumbangan tidak bertujuan untuk mendapat imbalan, dan kalau ada imbalan, sesungguhnya imbalan tersebut didapat melalui izin yang diberikan oleh jamaah (seluruh peserta asuransi atau pengurus yang ditunjuk bersama).
  3. Akad asuransi syariah bersih dari gharar dan riba. Sebab perusahaan asuransi diharamkan berinvestasi dengan cara konvensional yang ribawi. Hanya boleh menggunakan sistem syariah, yaitu bagi hasil. Selain itu jenis usahanya pun harus dipilih yang halal, tidak boleh misalnya untuk pabrik minuman keras, rokok, usah hiburan maksiat dan sebagainya.
  4. Asuransi syariah bernuansa kekeluargaan yang kental.


Selanjutnya, Ustadz Ahmad Sarwat menyebutkan bahwa  dari segi keuntungan duniawi maupun ukhrawi, asuransi syariah memiliki keunggulan, seperti berikut ini:

Pertama, Prinsip akad asuransi syariah adalah takafuli (tolong-menolong). Di mana nasabah yang satu menolong nasabah yang lain yang tengah mengalami kesulitan. Sedangkan akad asuransi konvensional bersifat tadabuli (jual-beli antara nasabah dengan perusahaan).

Kedua, Dana yang terkumpul dari nasabah perusahaan asuransi syariah (premi) diinvestasikan berdasarkan syariah dengan sistem bagi hasil (mudharabah). Sedangkan pada asuransi konvensional, investasi dana dilakukan pada sembarang sektor dengan sistem bunga.

Ketiga, Premi yang terkumpul diperlakukan tetap sebagai dana milik nasabah. Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya. Sedangkan pada asuransi konvensional, premi menjadi milik perusahaan dan perusahaan-lah yang memiliki otoritas penuh untuk menetapkan kebijakan pengelolaan dana tersebut.

Keempat, bila ada peserta yang terkena musibah, untuk pembayaran klaim nasabah dana diambilkan dari rekening tabarru (dana sosial) seluruh peserta yang sudah diikhlaskan untuk keperluan tolong-menolong. Sedangkan dalam asuransi konvensional, dana pembayaran klaim diambil dari rekening milik perusahaan.

Kelima, keuntungan investasi dibagi dua antara nasabah selaku pemilik dana dengan perusahaan selaku pengelola, dengan prinsip bagi hasil. Sedangkan dalam asuransi konvensional, keuntungan sepenuhnya menjadi milik perusahaan. Jika tak ada klaim, nasabah tak memperoleh apa-apa.

Keenam, adanya Dewan Pengawas Syariah dalam perusahaan asuransi syariah yang merupakan suatu keharusan. Dewan ini berperan dalam mengawasi manajemen, produk serta kebijakan investasi supaya senantiasa sejalan dengan syariat Islam. Adapun dalam asuransi konvensional, maka hal itu tidak mendapat perhatian.

 

 

Lalu, bagaimana memilih asuransi yang tepat dan berkulitas. Inilah beberapa kiat untuk mendapatkan asuransi syariah. Dengan begitu banyak produk yang ditawarkan oleh perusahaan asuransi syariah, tentu sulit untuk memilih asuransi syariah yang kualitasnya tidak diragukan lagi. Beberapa kiat berikut, mungkin bisa memberikan gambaran untuk menentukan pilihan pada asuransi syariah.

1. Ketahui Sistem Pengelolaan Dana Asuransi Syariah

Sistemnya harus sesuai dengan pedoman Islam, Al-Quran dan Hadits, yang dikaitkan dengan  sistem dan prinsip Al-Mudharabah. Jika sistem tersebut benar-benar halal, maka semua kalangan menerima dengan nyaman tanpa was-was.

 2. Sesuaikan dengan kebutuhan

Berbagai pilihan produk asuransi banyak macamnya. Yaitu, Asuransi Jiwa, Asuransi Kesehatan, Asuransi Kecelakaan, Asuransi Pendidikan dan asuransi yang sekaligus menjadi investasi. Carilah referensi mengenai produk asuransi syariah ini sebanyak-banyaknya agar dapat menentukan  pilihan produk sesuai dengan kebutuhan. Carilah sumber tepercaya mengenai perusahaan asuransi syariah yang berkualitas. Sebab, perusahaan asuransi pun punya kekurangan dan kelebihan. Pelajari sejak kapan perusahaan itu ada dan sejauhmana kualitas pelayanan yang diberikan terutamanya terkait dengan pembayaran klaim. Terpenting ketahui, apakah perusahaan itu memiliki Dewan Pengawas Syariah. Seharusnya setiap perusahaan asuransi syarih ada DPS untuk mengawasi kehalalan produk syariah tersebut.

3. Perhatikan dengan seksama  Akad Asuransi Syariah

Akad Asuransi Syariah inilah yang membedakan dengan asuransi konvensional, Karen aitu harus diteliti lebih jauh, seperti apa akad yang dibuat. Isi Akad dalam Asuransi Syariah terkait dengan status premi polis asuransi, tidak ada dana hangus untuk asuransi jiwa. Jika nasabah karena sesuatu hal tidak dapat memperpanjang preminya, maka dana premi yang dibayarkan mulai awal ikut asuransi masih tetap ada, walaupun tidak 100%. Hal ini karena premi yang disetor dikurangi biaya administrasi.

4. Perhatikan saat penyampaian ilustrasi asuransi

Ilustrasi asuransi itu diberikan oleh agen asuransi sebelum penandatanganan akad. Ilustrasi tersebut meliputi perkiraan besaran dana yang akan didapatkan oleh calon nasabah ketika periode kesepakatan telah berakhir. Apabila dari ilustrasi tersebut disebutkan angka yang tinggi, seperti tawaran yang jauh di atas keuntungan bank syariah pada umumnya, hal itu tidaklah wajar.karena itu harus betul-betul diperhatikan asumsi yang terdapat di setiap lembar ilustrasi.

5. Sinkronkan Kebutuhan Asuransi dengan Manfaat asuransi

Setiap produk asuransi syariah punya manfaat. Karena itu, pilihlah dengan bijak, produk mana yang manfaatnya sesuai dengan kebutuhan. Lalu, dengan mengetahui jenis asuransi juga manfaatnya, akan lebih mudah menentukan asuransi yang sesuai kebutuhan. Misalnya, Anda membeli produk Asuransi Kematian, maka Anda tidak akan mendapatkan ganti rugi bila hanya sakit atau luka-luka. Atau misalnya, Anda membeli produk Asuransi Kecelakaan, maka Anda tidak akan mendapatkan ganti rugi bila menderita sakit karena penyakit.

6. Pelajari premi yang tidak membebani

Penawaran premi asuransi setiap perusahaan berbeda. Nasabah harus jeli mengatur keuangan agar bisa menunaikan kewajibannya membayar premi ini. Karena itu, harus banyak mencari tahu mengenai perusahaan asuransi yang preminya sesuai dengan keuangan Anda. Carilah tarif premi yang seusai, jangan sampai terlalu murah, untuk menghindari kecilnya manfaat asuransi tersebut. Contohnya, asuransi mobil dengan angka 1,00%,  sangat tidak wajar, sebab dana yang dihasilkan tidak bisa menutupi biaya operasional perusahaan, apalagi untuk membayar klaim nasabah.

 7. Kenali agen asuransi yang tepercaya

Pilihlah agen asuransi yang tepercaya dalam menjelaskan produk asuransi syariah. Agen harus bisa memaparkan produk secara terperinci, benar, dan lengkap. Perlu diketahui bahwa agen asuransi yang resmi dan profesional, telah memiliki sertifikat Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI). Dengan begitu agen asuransi ini  telah menjadi professional, dan tentunya tercatat secara resmi. Selanjutnya, harus dipastikan dapat pelayanan terbaik dari agen asuransi itu, sebab produk asuransi itu jangka panjang. Sehingga dapat menghadapi berbagai permasalahan sepanjang waktu itu. (iys/dbs)

 


Komentar

    Tulis Komentar

Lainnya


Back to Top